Pikiran Rakyat
USD Jual 14.670,00 Beli 14.370,00 | Umumnya cerah, 24.4 ° C

Keringanan Kewajiban Puasa bagi Penderita Sakit, Seperti Apa Bayar Fidiahnya?

Gita Pratiwi A
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

PUASA di bulan Ramadan diwajibkan bagi setiap Muslim. Meskipun demikian, diperbolehkan tidak berpuasa bagi yang menderita sakit berat. Sakit seperti apa yang meringankan kewajiban berpuasa, dan bagaimana cara membayar fidiahnya?

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, Hernawan Widjajanto mengungkapkan sejumlah penyakit berat.

Antara lain diabetes, gagal ginjal kronis, gangguan liver kronis, sakit maag akut, pasien pascaoperasi, penderita alzhaimer, dan penderita kanker yang belum diobati atau sedang mengalami kekambuhan.

Selain itu, penderita infeksi akut, seperti tifus, demam berdarah, radang tenggorokan berat, dan demam tinggi.
 

Makanan bergizi dan olah raga

Hermawan mengimbau, kita tetap mengonsumsi makanan bergizi saat sahur dan berbuka puasa. Hal itu dibutuhkan untuk mendapatkan cadangan kalori yang cukup. Guna melakukan detoksifikasi atau pembersihan tubuh dari racun ataupun zat-zat yang berbahaya.

”Makanan yang mengandung serat yang tinggi, seperti kacang-kacangan, biji-bijian, nasi merah, dan padi-padian sangat dianjurkan untuk dikonsumsi saat sahur. Sementara untuk berbuka, sangat baik dimulai dengan memakan kurma. Sebab segala nutrisi tubuh yang hilang saat berpuasa bisa segera tergantikan dengan kandungan gizi di dalamnya,” ujarnya, kepada wartawan PR, Cecep Wijaya Sari, belum lama ini.

Di samping itu, dia juga mengimbau agar tetap berolah raga secara teratur saat berpuasa. Olah raga ringan bisa dilakukan sesaat sebelum dan setelah berbuka puasa.

”Dengan berolah raga teratur membuat tubuh akan tetap bugar dan tidak lemas saat berpuasa,” katanya.

Hukum berbuka puasa bagi yang sakit

Didasarkan pada firman Allah swt dalam QS Al Baqarah:185, ”Dan barangsiapa sakit atau sedang di dalam perjalanan (lalu berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya.”

Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab Majmu, 6/261, ”Orang sakit yang merasa lemah untuk berpuasa karena sakit dan ada harapan sembuh, dia tidak diharuskan berpuasa, jika jelas-jelas dia merasa berat berpuasa. Tidak disyaratkan harus sampai pada kondisi puncak yang membuatnya tidak mungkin berpuasa”.

Hal itu dituturkan kembali oleh dosen UIN Sunan Gunung Djati, Tata Sukayat, kepada wartawan PR, Sarnapi. Untuk kaum Muslimin yang bepergian atau safar, kata Tata, harus mengetahui batas minimal adanya keringanan hukum dalam Islam (rukhsah) baik untuk salat maupun puasa.

Dengan kemajuan teknologi membuat jarak tak lagi bukan masalah sehingga saum di perjalanan juga tak memberatkan. Namun, apabila dalam perjalanan itu ternyata memberatkan dan mengha­ruskan berbuka puasa, bisa berbuka yang nantinya akan diganti di lain waktu.

Namun, penderita sakit ringan seperti flu, sakit kepala ringan, ataupun demam ringan dianjurkan untuk tetap berpuasa.

Cara membayar dan besar fidiah yang diwajibkan

Sebagai konsekuensi, mereka yang tidak berpuasa di bulan Ramadan diwajibkan menggantinya di luar bulan Ramadan.

Jika sakit yang diderita¬nya menahun, ia cukup memberikan makanan setiap hari kepada seorang fakir miskin selama bulan Puasa berupa makanan pokok sebanyak setengah sha atau sekitar 1,5 kg beras. Fidiah tersebut juga boleh di¬bayarkan satu kali pada akhir Ramadan kepada beberapa orang miskin.

Hukum berpuasa lansia dan ibu hamil

Tata Sukayat menga­takan, hukum puasa bagi orang yang lanjut usia (lansia)—dan tidak bisa melanjutkan puasanya, juga bisa mengganti puasanya dengan fidiah.

"Hal ini merujuk kepada hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas dari Rasulullah yaitu diperbolehkan bagi orang yang telah lanjut usia memberikan makanan setiap harinya kepada fakir miskin dan tidak ada kewajiban qada baginya. (HR Daruqathni dan al-Hakim)," ujar Tata.

Untuk ibu hamil, kata Tata, ajaran Islam sangat manusia­wi dan tidak ingin memberatkan para pemeluknya. Jika dikhawatirkan adanya efek samping negatif bagi dirinya atau bayinya, boleh berbuka. Apabila yang hamil atau ibu menyusui tidak berpuasa, dia wajib menggantinya di hari lain tanpa membayar fidiah menurut mazhab Imam Abu Hanifah.

Sementara itu, dalam pandangan dari Mazhab Maliki membolehkan tidak membayar fidiah bagi yang hamil. ”Hanya mewajibkan kada dan fidiah bagi yang menyusui," kata Tata yang kini menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan UIN SGD Bandung tersebut. ***

Bagikan: