Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sebagian berawan, 20.5 ° C

Resital Pianis Klasik Asal Perancis Simon Grhaichy

Windy Eka Pramudya
SIMON Ghraichy.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR
SIMON Ghraichy.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

 

KOMPOSISI Danzon No. 2 dari komposer asal Meksiko, Arturo Marquez membuka resital piano, Simon Ghraichy. Seharusnya, Simon menghadirkan 4 Afro-Cuban Dances dari Ernesto Lecuona, seperti yang tertulis pada program. Akan tetapi, sebagai pianis keturunan Meksiko dan Lebanon, Simon merasa perlu untuk menghadirkan karya Marquez.

Resital piano Simon digelar Minggu, 12 Mei 2019 di Ballroom Four Points by Sheraton Jalan Ir H Juanda, Kota Bandung. Tampil selama hampir 60 menit, Simon yang berasal dari Prancis ini menggelar resital dalam rangka tur Asianya setelah merilis album berjudul 33, Februari 2019 lalu. Selain ke Bandung, dia juga akan menyambangi Bali, Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, dan Medan.

"Selamat malam semuanya. Terima kasih untuk bersamaku malam ini dan menjadi bagian tur Asiaku. Ini pertama kalinya aku ke Bandung, sungguh kota yang menyenangkan," kata Simon.

Di atas panggung, Simon adalah pianis yang ekspresif. Dia mematahkan asumsi kalau pertunjukan musik klasik terlihat kaku dan serius. Simon tampil dengan karakter dia yang lebih ngepop tanpa kehilangan ruh musik klasik yang dia usung.

Setelah Danzon No. 2, Simon melanjutkan aksinya Asturias karya Issac Albeniz. Di lagu ini, tempo permainan piano Simon lebih cepat. Jemarinya menari lincah di atas tuts. Kepalanya sesekali bergerak, dan membuat rambut keritingnya terkibas.

"Karya berikut yang akan aku mainkan adalah dari (Robert) Schumann. Menurutku, dia adalah komposer musik klasik yang gila. Aku merasa perlu untuk menampilkan karya dia malam ini," ungkap Simon.

Setelah cerita Simon, ratusan pasang telinga penonton dibuai dengan denting piano yang dinamis. Di sesi ini, Simon mengemas tiga komposisi, yakni Etudes in Variation Form in a Theme Based on the Symphony No. 7 Op. 92, berdasarkan karya Ludwig van Beethoven, Humoreske op. 20-Il, dan Hastig (Die innere stimme).

Sebagai musisi klasik, Simon tidak menutup diri untuk berkolaborasi dengan komposer dari berbagai genre. Di album 33, ada satu lagu yang dibuat Chilly Gonzales, seorang penulis musik pop.

Kendati Chilly berada di jalur pop, tapi dia tetap membuat komposisi musik klasik seperti yang dimainkan Simon. Di resital piano, Simon menyajikan lagu Robert of the Bridge karya Chilly.

Simon kemudian menyatukan dua karya dari Charles-Valentin Alkan dan Ariel Ramirez. Dari Charles-Valentin, dia memilih Chanson de la Folle Au Bord de la Mer, sedangkan dari Ariel dia menyuguhkan Alfonsina y El Mar. Simon mengaku, karya dari Charles-Valentin adalah salah satu komposisi favorit dia.

"Setelah berada di kegelapan, aku akan memainkan sesuatu yang lebih ceria dan menyenangkan. Semoga kalian suka. Terima kasih sudah menikmati pertunjukan dan sampai jumpa," ujar Simon.

Simon mengakhiri resitalnya dengan Hungarian Fantasy milik Franz Liszt. Seperti janji Simon, di lagu ini, rangkuman nada yang tercipta terasa playful dan dinamis jika dibandingkan dengan repertoar lain yang disajikan. Sejumlah penonton pun tak ragu untuk menggoyangkan kepala sesuai irama.

Di kancah musik klasik di Eropa, nama Simon Ghraichy sedang bersinar. Di usianya yang baru 33 tahun, Simon telah mengukir sejumlah prestasi musik.

Bukan dari keluarga musisi

Sebelum konser, Simon menceritakan, dia mulai belajar piano saat berusia empat tahun. Ketika itu di rumahnya terdapat piano tua yang hanya menjadi pajangan. Simon penasaran dengan piano dan mulai memencet tutsnya. Dari situ, Simon tahu, hidupnya untuk piano dan musik klasik.

"Aku berangkat dari keluarga bukan musisi. Ayahku pengacara dan ibu psikiater. Di rumah, aku anak tunggal. Saat melihat piano tua di rumah, aku hanya iseng memencet tutsnya. Sangat senang rasanya saat mendengar piano itu berbunyi," tutur Simon.

Karier Simon mencuat pada 2010 ketika mendapat publikasi kritikus musik Wall Street Journal, Robert Hugues. Ketika itu, Robert mengapresiasi interpretasinya pada Don Juan karya Franz Liszt.

Simon berguru dari pianis kenamaan Michel Beroff dan Daria Hovora di National Conservatory of Music of Paris, Prancis serta Tuija Hakkila di Sibelius Academy Helsinki, Finlandia. Sebagai pianis musik klasik, Simon mampu memikat penonton generasi muda berkat kepribadiannya yang luwes.

Tempat-tempat bergengsi pertunjukan musik klasik seperti Teater Champs-Elysees, Carnegie Hall, dan Berlin Philharmonie mencatat penurunan rata-rata usia penonton mereka jika Simon tampil.

Simon juga telah menggelar konser solo diiringi orkestra dan musik kamar di aula bergengsi dunia seperti Kennedy Center di Washington DC, Opera Istana Versailles, Gran Teatro Nacional Peru, dan Teatro Bogota. Ia juga bermain di berbagai festival musik dunia seperti Bard Music Festival di New York, Festival International de Baalbeck di Lebanon, Festival Aix-en-Provence, dan Festival Chaise-Dieu bersama Orkestra Philharmonic Liege.

Pada 2016, Simon menandatangi kontrak eksklusif dengan label Deutsche Grammophon. Setahun kemudian ia merilis album di Teater Champs-Elysees yang mendapat kritik dan pujian luas dari kalangan musik dan pers. Diskografinya mencakup antara lain B Minor Sonata karya Liszt, Kreisleriana karya Schumann dan album pertama yang didedikasikan untuk paraphrase dan transkripsi karya-karya Liszt.***

Bagikan: