Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 17.7 ° C

Roti Buaya, Kudapan Jadul yang Jadi Menu Kekinian

Gita Pratiwi
KUDAPAN jadul Cap Roti Buaya No.72, di Jalan Progo, Kota Bandung.*/GITA PRATIWI/PR
KUDAPAN jadul Cap Roti Buaya No.72, di Jalan Progo, Kota Bandung.*/GITA PRATIWI/PR

"PERGI di hari Minggu, bersama pacar baru. Naik vespa keliling kota sampai binaria. Hatiku jadi gembira. Sesampainya di sana, duduk dua-duaan, makan roti buaya. Dengan lagu kita, kita menari bersama."

Demikian penggalan lagu milik band Naif, "Piknik 72", yang menyebutkan seolah roti buaya lumrah dikonsumsi orang berkencan.

Padahal roti buaya biasa ditemui sebagai salah satu bawaan seserahan pengantin dalam pernikahan adat Betawi. Rotinya cenderung keras, berukuran besar sekitar 50 centimeter atau lebih, dan biasanya hanya dipajang tidak dikonsumsi.

Namun tampaknya, vokalis band yang terkenal dengan citra jadul (zaman dulu) tersebut, David Bayu, ingin mewujudkan imajinasi dalam lagu itu. Ia membuka gerai dengan kudapan roti jadul sebagai menu utamanya, di Jalan Progo Kota Bandung.

Jangan bayangkan kita akan mengunyah roti buaya raksasa seperti di pernikahan adat Betawi. Di kedai ini, kita akan disuguhi roti buaya mini sekitar 20 centimeter dengan berbagai isian manis.

"Konsep roti buaya itu agak jadul. Sedangkan kita ingin yang bisa diterima anak muda. Dengan tekstur enggak keras, dibuat lebih empuk. Ditambah filling yang disukai remaja," kata Kanya Chairunissa, pemilik Cap Roti Buaya No.72 Bandung, Selasa, 16 April 2019.

Isiannya berupa fla yang terdiri dari empat warna. Hijau untuk rasa hijau atau alpukat, cokelat untuk rasa cokelat, kuning untuk pisang, dan putih untuk tiramisu.

Saat "PR" mencicipinya, roti ini memiliki tekstur keras di luar. Apalagi sisik-sisik buaya buatannya yang begitu tajam, membuat gemas dalam mengigitnya. Tetapi ternyata, isinya amat lembut, ditambah manisnya isian si roti. Roti buaya dengan isian alpukat dan tiramisu sangat direkomendasikan.

Hanya ada menu roti buaya di kedai ini. Tapi pilihan kopinya macam-macam, dan masih mengusung tema jadul. Seperti penamaan es kopi susu, dengan istilah yang sudah jarang terdengar dan amat retro, "Yahud". Kopi Yahud ini berkomposisi susu dan krimer yang dimasukkan es batu khusus.

"Esnya itu coffee cube dari americano, yang akan mencair perlahan, jadi membuat rasa kopinya terasa," kata Kanya.

Roti Buaya.*/GITA PRATIWI/PR

Selain itu, ada Kopi Dingin yang merupakan racikan cold brew dalam botol  250 mililiter, dengan krimer dan gula merah di dalamnya. Kopi yang digandrungi pembeli milenial ini terdiri dari dua warna, hitam dan putih, dengan susu sebagai komposisi pembedanya.

Minuman untuk non penggemar kopi, terdiri dari Air Mata Buaya dan Tawa Buaya. Keduanya ini adalah minuman mojito, yang terdiri dari larutan sirup dan soda. 
"Untuk yang Tawa Buaya, ada rasa lemon dan stroberi. Untuk yang air mata, ada rasa mangga. Yang bikin namanya berbeda hanya dari warnanya," ujar Kanya. 
Supaya lebih 'buaya', ia pun menambahkan aloe vera atau lidah buaya ke mojitonya.

Terdapat menu minuman lain juga seperti aneka cokelat, susu, dan teh. Kedai yang baru beroperasi sejak Februari 2019 ini biasanya ramai oleh pengunjung anak sekolah, ibu-ibu muda pengantar anak sekolah, hingga penggemar band Naif. Soalnya kalau lagi sempat, sang vokalis David Bayu, juga sering datang untuk nongkrong di sana.***

Bagikan: