Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Sebagian berawan, 23.3 ° C

5 Film Bertema Politik yang Bisa Membuat Geleng-geleng Kepala Menjelang Hari Pencoblosan Pemilu 2019

Okky Ardiansyah
IDEAS of March/COLUMBIA PICTURES
IDEAS of March/COLUMBIA PICTURES

TERDAPAT banyak intrik di dunia politik. Para pegiat film paham akan adagium tersebut. Tak heran apabila sebagian dari mereka tertarik mengangkat intrik politik ke dalam film. Tak jarang, film mengkritik para politisi.

Ada yang mengundang gelak tawa, ada pula yang membuat gelang-geleng kepala karena heran kenapa perebutan kekuasaan selalu disusupi intrik-intrik di luar nalar. Berikut ini beberapa film bertema politik yang laik disaksikan.

The Ides Of March

Kredibilitas Stephen Meyers (Ryan Gosling) di ranah politik diakui para politisi. Gubernur Mike Morris (George Clooney) yang mencalonkan diri menjadi presiden tak ragu merekrut Stephen Meyers sebagai tim pemenangannya.

Stephen Meyers tahu bahwa tawaran Mike Morris bisa mendatangkan tuah dan menjamin masa depan. Namun, Stephen Meyers lupa bahwa banyak intrik politik untuk menaikkan satu pihak dan menghancurkan pihak lain.

Dalam ketidaktahuan, Stephen Meyers ditawari manajer kampanye kompetitor Mike Morris, Tom Duffy (Paul Giamatti) untuk bergabung. Manuver Tom Duffy untuk menggaet Stephen Meyers gagal. Stephen Meyers berkukuh tetap di kubu Mike Morris.

Stephen Meyers yang telah mengetahui sisi gelap Mike Morris tiba-tiba dipecat oleh sang tuan. Ada dua pilihan yang bisa dia ambil. Pertama, menjauh sejauh-jauhnya dari dunia politik atau menerima pinangan Tom Duffy sekaligus menyerang Mike Morris dengan informasi rahasia yang ia ketahui.

The Manchurian Candidate

Perang Teluk di Irak pada 1991 menghadirkan Raymond Shaw (Liev Schreiber) sebagai pahlawan. Sepulang dari pertempuran tersebut, Raymond Shaw dianggap berjasa membebaskan pasukan Amerika Serikat dari penculikan.

Reputasi dan popularitas Raymond Shaw di Amerika Serikat melambung. Ia tak ingin menyia-nyiakan situasi tersebut. Maka, ia mengambil keputusan mencalonkan diri sebagai wakil presiden.

Keputusan yang diambil Raymod Shaw memantik kecurigaan pemimpin pasukan Amerika Serikat di Perang Teluk, Bennet Marco (Dezel Washington). Bennet Marco menilai penculikan yang pernah terjadi di Irak dan cerita kepahlawanan Raymond Shaw dibuat-buat.

Bennet Marco kemudian berupaya mengingat semua insiden yang pernah terjadi di Perang Teluk tersebut.

Sampai pada akhirnya, Bennet Marco menyimpulkan bahwa penculikan dalam Perang Teluk dilakukan untuk mencuci otak semua pasukan Amerika Serikat demi memercayai cerita kepahlawanan Raymond Shaw.

Swing Votes

Bud Johnson (Kevin Costner) tak tahu bahwa ia menjadi penentu dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Bud Johnson adalah orang New Mexico yang acuh terhadap ingar bingar kontestasi politik. Untuk mengunjungi tempat pemungutan suara saja ia tak mau.

Hal tersebut dimanfaatkan sang anak, Molly Johnson (Madeline Carroll), untuk ikut bersuara di pemilihan umum dengan mencuri surat milik Bud Johnson. Dengan berbagai trik, Molly Johnson dapat memasuki tempat pemungutan suara.

Ketika akan memilih calon presiden, aliran listrik di tempat pemungutan suara putus. Molly Johnson gagal menuntaskan hasratnya untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi. Tak cuma itu, panitia juga terkena dampak. Mereka mesti menghitung suara secara manual.

Setelah dihitung secara keseluruhan, hasil pemilu sama dan hanya satu orang yang belum memilih yakni Bud Johnson. Ia langsung menjadi sorotan calon presiden Amerika Serikat. Semua calon presiden bermanuver untuk merebut hati Bud Johnson. Lantas, siapa yang dipilih Bud Johnson?

Alangkah Lucunya Negeri Ini

Alangkah Lucunya Negeri Ini tidak berbicara politik praktis secara gamblang tetapi bermain di dunia simbol yang yang menjadi penanda berbagai intik politik di Indonesia.

Bagi Muluk (Reza Rahadian), gelar sarjana bukan jaminan dalam mencari pekerjaan. Dua tahun berstatus sebagai Sarjana Manajemen, ia tetap saja menganggur. Namun, menyerah bukan pilihan terbaik yang ia diambil.

Sampai pada akhirnya, Muluk bertemu pencopet bernama Komet (Angga). Komet kemudian mengajak Muluk untuk mengunjungi markas kelompok copet anak-anak di bawah pimpinan Jarot (Tio Pakusadewo).

Dalam pertemuan tersebut, Muluk menawarkan kerja sama untuk mengelola hasil copet kelompok tersebut dan dia memberikan penawaran lain yakni mendidik semua pencopet anak-anak yang berada di naungan Jarot.

Syaratnya satu, Muluk mendapatkan 10% dari hasil copet. Jarot pun menyetujuinya.

Dengan bangga, Muluk menyatakan diri kepada sang ayah, Makbul (Deddy Mizwar) bahwa ia telah bekerja sebagai SDM (Sumber Daya Manusia) di salah satu perusahaan. Makbul yang bangga melihat anaknya sudah bekerja lantas menyiarkan kabar itu kepada rekan terdekat.

Kentut

Patiwa (Keke Soeryo) dan Jasmera (Deddy Mizwar) berebut kursi Bupati di Kabupaten Kuncup Mekar. Baik Patiwa dan Jasmera mempunyai program-program kampanye yang berseberangan.

Nahas bagi Patiwa, saat tengah berkampanye, ia ditembak orang tak dikenal. Perawatan medis nomor wahid lantas dipersiapkan tim kampanye.

Setelah operasi, Patiwa tak kunjung sadar. Hanya ada satu cara untuk menyembuhkannya yakni ia mesti mengeluarkan angin alias kentut.

Kentut, yang tadinya persoalan sepele, menjadi perbicangan rumit di ranah politik. Jasmera tak ingin melewatkan kesempatan itu untuk mengalahkan Patiwa. Ia gencar berkampanye dan menentang program-program Patiwa dengan program-program yang ia buat.

Untuk menghambat kentut Patiwa, Jasmera meminta bantuan kepada paranormal. Tentu saja, agar Patiwa tak sadarkan diri sampai pemilihan bupati berlangsung.***

Bagikan: