Pikiran Rakyat
USD Jual 14.288,00 Beli 13.988,00 | Langit umumnya cerah, 16.8 ° C

Pembuatan Our Planet Diwarnai Kejadian-kejadian Mengerikan

Huminca Sinaga
BONGKAHan gletser.*/MARIANA BLAZO/REUTERS
BONGKAHan gletser.*/MARIANA BLAZO/REUTERS

DALAM  sebuah wawancara dengan beberapa kontributor acara Netflix terbaru, Our Planet, ditemukan fakta-fakta menakjubkan sekaligus mengerikan pada masa pembuatannya. Tim dari David Attenborough, sang sutradara sendiri, memaparkan kejadian-kejadian mengerikan seperti gunung es yang membahayakan helikopter mereka, hiu-hiu ganas, hingga orang utan yang mengamuk.

Kisah tersebut diawali oleh Sophie Lanfear, seorang produser televisi yang terlibat dalam pembuatan acara tersebut. Saat itu malam hari, dan tim mereka sedang berada di dalam kabin ketika ia mendengar sekumpulan singa laut datang ke tempat mereka berada. Ia dapat mendengar suara mereka dan goresang-goresan gigi di dinding kabin.

Seperti dilansir The Guardian, Jumat 12 April 2019, keesokan harinya jalan keluar dari kabin tertutup 108.000 ekor singa laut. Mereka pun harus naik ke bilah di langit-langit untuk merekam pemandangan tersebut. Para singa laut tiba di tebing-tebing pantai untuk mencari tempat singgah karena lautan es disekitar mereka mulai mencair.

Melihat para singa laut menuruni tebing untuk kembali ke pantai adalah hal yang mengerikan. Di dalam hati, ia berharap mereka tidak pernah melakukannya. Beberapa dari mereka akhirnya harus tewas begitu saja karena jatuh dari ketinggian, beberapa berjalan tertatih dan mati di bibir pantai, yang lainnya berhasil dengan selamat.

Kemudian kisah kedua disampaikan oleh Adam Chapman yang berhasil selamat dari reruntuhan gletser di Greenland. Bongkahan es itu tidak pernah diam, selalu terdengar suara retakan dari dalamnya yang membuat para kru was-was akan keruntuhan yang bisa saja terjadi.

Di hari terakhir, mereka disana untuk mengambil gambar. Ia kira sampai saatnya mereka kembali, ia tidak dapat melihat bagaimana bongkahan e situ pecah. Akan tetapi satu jam kemudian mereka merasakan gemuruh di bawah kaki. Saat itu mereka masih sempat melompat ke dalam helikopter. Ketika mereka berhasil lepas landas, sebongkah es seukuran gedung Empire State patah dari gletser tersebut. Mereka berada diantara 75 juta ton es yang berjatuhan. Helikopter terbang rendah di permukaan air, sebelum bongkahan es yang tingginya melebihi helikopter mereka terbang melintas.

“Itu adalah 20 menit yang paling menegangkan dalam karier saya,” ungkapnya.

Terbang di sekitaran gletser seperti itu belum pernah dilakukan oleh orang lain sebelumnya. Dan setelah kejadian itu, ia mendapatkan kesimpulan bahwa runtuhnya bongkahan es sendiri telah mewakili apa yang terjadi dengan iklim saat ini.

Serangan hiu

Cerita ketiga datang dari Doug Anderson yang mengalami penyerangan hiu saat memfilimkan sebuah ekosistem di kepulauan French Polynesia.

Pakaian selam besi yang dipakainya dirasa cukup kuat untuk berada di dasar sana. Satu-satunya ketakutan mereka adalah hiu-hiu itu menggigit compensator dan menyebabkan ledakan. Sebenarnya tidak ada masalah apa-apa saat mereka merekam kegiatan para hiu mencari makan, dia pun seringkali digigit oleh mereka saat bertugas dari balik pakaian selamnya. Akan tetapi, jika hiu macan atau hiu kepala palu muncul mereka segera menghentikan kegiatan itu.

Hiu sendiri telah diburu lebih dari 50 hingga 80 tahun terakhir. Dan dari hasil pengamatan itu semakin jelas terlihat bahwa hiu amat berperan penting dalam ekosistem, terutama di bagian terumbu karang, bagian yang lebih sedikit rentan pada pemanasan global.

Kemudian ada kisah tentang orang utan Sumatera dari Huw Cordey. Selama dua bulan, mereka mencoba merekam kegiatan orang utan dari jam 6 pagi. Mencari para orang utan di hutan ternyata cukup sulit karena hidupnya berpindah-pindah. Untuk pertama kali mereka berhasil merekam seekor orang utan betina yang sedang mencari makan dengan ranting pohon. Orang utan tersebut melakukan itu untuk mengambil semut, rayap atau madu. Mereka juga membungkus tangan mereka dengan daun lalu memasukkannya ke lubang. Betina jauh lebih baik dalam menggunakan alat dan yang jantan jauh lebih lambat dalam mengambilnya.

Terkadang orang utan sangat pemarah. Para kru sempat melihat seseorang menarik sebuah pohon besar ke arahnya, dan orang utan langsung merubuhkannya. Primata berbulu merah itu sangat agresif dan dapat melemparkan apapun ke arah manusia. 

Angka resmi mengatakan ada 100 orangutan lenyap setiap minggunya. Bahkan mungkin lebih. Satu-satunya hal yang kita semua tahu adalah mereka dalam kesulitan besar.(Huminca Sinaga/PR)***

Bagikan: