Pikiran Rakyat
USD Jual 14.288,00 Beli 13.988,00 | Langit umumnya cerah, 16.8 ° C

TB Maranatha, Penanda Kejayaan Komik Pribumi

Tim Pikiran Rakyat
Toko Buku Maranatha di Jalan Ciateul Kota Bandung, penanda zaman kejayaan komik asal negeri sendiri.*
Toko Buku Maranatha di Jalan Ciateul Kota Bandung, penanda zaman kejayaan komik asal negeri sendiri.*

SEBELUM masuknya komik-komik asal Jepang (manga) dan Amerika ke Indonesia, rupanya komik pribumi telah memenuhi rak-rak pada Toko Buku Maranatha di Bandung. Komik yang sempat berjaya di era 1970-an dengan berbagai macam cerita ini menjadi karangan  fiksi yang digemari masyarakat saat itu. TB Maranatha menangkap peluang ini dengan menjual buku-buku komik sejak 1960-an di Kawasan Kopo Bandung.

Herlina (82) istri dari pemilik Toko Buku Maranatha mengenang memori saat komik Indonesia tengah berjaya. Ia berkata bahwa pada masanya orang-orang berbondong datang untuk mencari komik-komik dengan latar cerita pewayangan, superhero, hingga kisah 1001 malam yang dikarang oleh pelukis komik dari berbagai daerah di tanah air. “Ya dulu mah seneng banget, lihat orang pada banyak yang dateng kesini, nanyain berbagai macam komik. Terus beli komik buat anaknya” ujar Herlina.

Toko Maranatha yang dibangun sekitar tahun 60 an oleh Marcus Hadi (Alm) suami dari Herlina. Letaknya sejak 1970-an berada di Jl. Ibu Inggit Garnasih No.148, Ciateul, Regol, Bandung. Markus semasa hidupnya diminta untuk menghimpun pelukis-pelukis berbakat untuk membuat komik, salah satunya R.A Kosasih.

“Jadi dulu om (Markus) itu sempet iseng masukin karya ke koran. Terus ada penerbit yang lihat. Om akhirnya disuruh ngelukis aja buat komik dan disuruh pasang iklan untuk mengumpulkan pelukis-pelukis berbakat untuk berkarya.” kata Herlina sambil tersenyum.

Saat itu kumpulan komik sangat digemari oleh masyarakat. Bahkan Toko Buku Maranatha sempat membuka jaringan dengan beberapa agen di berbagai kota untuk saling bertukar komik. Herlina menyampaikan suplai komik di antaranya dikirim dari Jakarta, Yogyakarta, Bali, hingga dari Medan.

Namun kondisi komik Indonesia, dengan cerita khas berupa wayang, legenda, dan cerita rakyat sudah mulai pudar diminati oleh masyarakat. Herlina menyayangkan hal ini sebab ia mengatakan bahwa kita seharusnya bangga bahwa Indonesia juga memiliki komiknya sendiri. Komik Indoenesia yang dulu berjaya kini mulai memudar seiring dengan masuknya komik-komik dari luar negeri ditambah berkembangnya era digital.

“Paling kalau sekarang yang dateng kesini mah orang-orang lama, yang suka kangen dengan cerita-cerita zaman dulu.” pungkas Herlina.

Era Anjloknya Komik Indonesia

Komik Indonesia berjaya ketika Markus (alm) mulai merintis Toko Buku Marantha satu tahun setelah pernikahannya dengan Herlina. Saat itu komik mampu terjual hingga 2.000 eksemplar setiap harinya. Bahkan untuk buku Teka-Teki Silang (TTS) mampu terjual hingga 10.000 eksemplar.

Keadaan itu membuat para pelukis pada waktu itu terbilang sangat cukup untuk menghidupi keluarganya. Bahkan Herlina bercerita ada salah satu kawan Markus sesama pelukis yang mampu membeli tiga rumah. Ia juga bercerita teman lainnya hingga mampu menghidupi anaknya yang berjumlah 17 orang.

“Dulu mah kita bareng-bareng membangun tempat ini bersama para pelukis-pelukis. Om juga pernah dapat gaji sampai 15.000 rupiah waktu pertama kali ditawarin bikin komik. Padahal biasanya gaji Om hanya 1.500 rupiah aja. Tapi sekitar tahun 1980an mulai masuk komik-komik dari luar, salah satunya dari Jepang.” sambung Herlina.

Kehadiran komik Jepang di Indoensia ternyata membawa pengaruh, tidak hanya pada pasar pembaca tetapi pada dunia komik Indonesia. Hal ini secara perlahan menggeser pembaca komik dalam negeri yang membuat permulaan anjloknya pasar komik negeri Indonesia.

Herlina menanggapi hal ini sebagai sesuatu yang wajar. Ia pun tidak bisa menampik dengan perubahan zaman dan era baru perkembangan teknologi. Hanya harapan untuk terus dapat mengenalkan komik asli Indonesia yang mampu ia pegang hingga saat ini.

Herlina juga memiliki harapan besar agar komik Indonesia di tokonya mampu bangkit dan berjaya kembali. Ia berharap juga pemerintah mendukung cita-citanya.

“Saya ingin pemerintah juga ikut andil. Mengenalkan cerita asli Indonesia dimulai dari anak-anak Sekolah Dasar (SD). Dengan begitu tidak hanya  komik Indonesia yang berkembang, tapi budaya membaca anak juga dapat dibangun kembali,” kata Herlina. (JT-Wisnu Dwiyon, M. Ryan H, Arya Baginda Pangestu, Andryvho Fau)***

Bagikan: