Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Sedikit awan, 21.7 ° C

Satu Abad RA Kosasih, Bapak Komik Indonesia

Tim Pikiran Rakyat
RA Kosasih dan Ilustrasi Sri Asih.* DOK. BUMI LANGIT
RA Kosasih dan Ilustrasi Sri Asih.* DOK. BUMI LANGIT

PERJALANAN komik Indonesia era 1950-1960an, tak bisa dilepaskan dari sosok bernama Raden Ahmad (RA) Kosasih. Beliau lahir pada 4 April 1919 dan wafat di Bogor pada 25 Juli 2012 lalu. Jadi, April ini genap 100 tahun peringatan kelahiran RA Kosasih.

Saat menutup usia, RA Kosasih meninggalkan ratusan judul komiknya yang sukses pada zaman itu. Tentu, generasi milenial saat ini, jarang, bahkan mungkin tidak mengetahui sama sekali, sepak terjang Kosasih pada masa keemasannya.

Namun, masyarakat Indonesia tentu harus bangga, dengan karyanya yang masih hidup sampai saat ini. Superhero wanita, asal Indonesia, Sri Asih, merupakan salah satu karya beliau yang paling melegenda. Sri Asih adalah sosok wanita berkekuatan super, yang dapat melawan banyak musuh, dan mampu terbang jauh melintasi berbagai negara. Sukses dengan penggambaran pemeranan wanita Asia, dengan kebaya Indonesia itu, RA Kosasih menciptakan karakter Siti Gahara. Beliau menggambarkan wanita Indonesia yang memiliki kemampuan hebat dan kuat.

Pembawaan sosok superhero tersebut tidak lepas dari akulturasi pahlawan super luar negeri, Wonder Woman, salah satunya. Pada tahun 1960-an, karena kuatnya pengaruh komunisme yang menjadi musuh bagi kapitalisme barat, Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) saat itu, menuduh karya Kosasih merepresentasikan kebudayaan barat.

“Itu pengaruh (seni) dari sana-sini sudah pasti. RA Kosasih sebagai seniman, tentu banyak sekali menyerap aspirasi, baik dari lingkungan budayanya sendiri di Indonesia, maupun dari luar (seperti Holywood), sehingga dia dapat menciptakan superhero seperti Sri Asih,” jelas Hawe Setiawan (50), budayawan dan juga dosen Prodi  Desain Komunikasi Visual Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan serta salah satu penikmat komik-komik Kosasih.

Akan tetapi, seniman hebat itu tidak putus asa. Raden Ahmad Kosasih, kembali tenar karena menggambarkan karakter wayang-wayang Indonesia. Ia menceritakan kembali trilogi Mahabarata dan Ramayana, dalam bentuk komik.

Gambaran wayang melalui komik yang ia buat, membantu memberikan visual tokoh, seperti Gatotkaca atau Rama dan Sinta yang kita kenal saat ini. Hal ini membuat masyarakat Indonesia, dan warga Hindu khususnya memiliki imaji tersendiri, bagi wiracarita Mahabarata dan Ramayana tersebut.

“Beliau membantu saya memahami cerita Mahabarata dan Ramayana versi Indonesia, (terlebih) memberikan sumbangan yang sangat besar, bagi penuturan kembali wiracarita Hindu tersebut,” jelas Hawe, ketika mengenang kembali masa kejayaan komik-komik RA Kosasih. Hawe sendiri mengambil disertasi tentang gambar-gambar yang dibuat peneliti ilmu alam asal Jeman Franz Willem Junghuhn pada pertengahan abad ke-19.

 

Komik RA Kosasih di Mata Masyarakat

Sosoknya yang kreatif dan ulet, sangat dicintai penggemarnya. Saking terkenalnya, karyanya pernah memenuhi salah satu toko buku tertua dan legendaris di Bandung, Maranatha.

“Karya beliau dulu paling banyak di toko (Maranatha). Tingkat detail beliau dalam menggambar sangat bagus, misalnya gambar kepala yang butuh ukiran njelimet, Pak Kosasih bisa (membuatnya),” tutur Herlina, istri almarhum pemilik toko buku Maranatha.

Ia mengatakan pula, bahwa sebelum menjadi pelukis kondang seperti sekarang, RA Kosasih pernah bekerja di Departemen Pertanian (Departement van Landbouw), sebagai pelukis serangga dan tanaman. “Mungkin karena bakat juga ya. (Bahkan) dia pernah bercerita kalau dia keturunan Raden Saleh (tokoh pionir seni lukis modern Indonesia),” jelas Erlin.

Namun, sangat disayangkan bahwa pemikiran masyarakat untuk komik, masih belum terlalu penting. Menurut pandangan Hawe, anggapan masyarakat tentang komik, khususnya komik Indonesia dari dulu hingga sekarang, bukan bacaan yang pas untuk anak-anak. “Menurut saya, itu salah kaprah. Komik itu juga sangat mendidik. Saya baru sadar belakangan, komik juga penting (untuk pendidikan anak-anak),” pungkasnya. (TJ-Andryvho Fau, Wisnu Dwiyon, Moch. Ryan H., Arya Baginda Pangestu)***

 

                                                                                                            

Bagikan: