Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sedikit awan, 20.6 ° C

Rekam Jejak Sang Maestro Keroncong Indonesia, Mus Mulyadi

Okky Ardiansyah
MUS Mulyadi.*/INSTAGRAM ERICK_MUS
MUS Mulyadi.*/INSTAGRAM ERICK_MUS

DUNIA musik Indonesia berduka. Musisi keroncong ternama, Mus Mulyadi, meninggal dunia di usia 73 tahun setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah karena penyakit diabetes pada Kamis, 11 April 2019.

“Selamat jalan papa, papa udah enggak sakit lagi. Maafin aku yang belum bisa membahagiakan papa. Papa sudah bersama Bapa di surga. Amin,” tulis putra kedua Mus Mulyadi, Erick Renanda Haryadi di akun instagramnya.

Bagi Mus Mulyadi, waktu memang telah usai. Namun, bagi mereka yang ditinggalkan, khususnya keluarga dan musisi tanah air, pria kelahiran Surabaya itu adalah inspirator untuk merealisasikan mimpi-mimpi yang tertunda.

Reputasi Mus Mulyadi sebagai musisi tak bisa diragukan. Julukan Buaya Keroncong menjadi salah satu bukti bahwa ia adalah maestro keroncong Indonesia. Terlebih, karya-karyanya macam ‘Jembatan Merah’ dan ‘Kota Solo’ masih melekat di benak pecinta musik.

Meski demikian, perjalanan karier Mus Mulyadi terbilang berliku. Ada banyak duka dan pil pahit yang ia telan. Namun, menyerah bukan pilihan yang ia ambil saat kariernya sebagai musisi dan hidup berada di titik nadir.

Ambil contoh ketika ia mengadu nasib di Singapura pada 1967. Mus Mulyadi menerima ajakan Jerry Souisa untuk melakukan tour pertunjukkan di Singapura ketika itu. Kendati ragu untuk meninggalkan tempat kelahiran, Surabaya, ia tetap berangkat dengan harapan kariernya melesat.

Akan tetapi, karier Mus Mulyadi membentur tembok di tanah perantauan. Tak ada tawaran manggung yang berarti tak ada pundi-pundi uang yang bisa ia kumpulkan untuk menyewa tempat tinggal, apalagi ongkos kembali ke Indonesia.

Menyerah bukan pilihan yang Mus Mulyadi ambil. Kemauan kerasnya membuahkan hasil. Di tengah kesulitan, ia mampu menciptakan 10 lagu dan membentuk band bernama The Exotic dengan personil Jerry Souisa, Arkan, dan Jeffry Zaenal.

Dengan karya tersebut, nama Mus Mulyadi dan The Exotic mulai diperhitungkan di Singapura. Ketika karier mulai menanjak, ia malah memutuskan pulang ke Indonesia bersama tiga personil The Exotic lainnya.

Mus Mulyadi mencoba peruntungan dengan bersolo karier sepulang dari tanah perantauan. Namun, perjalanan sebagai penyanyi solo tak berlangsung lama. Ajakan A. Riyanto untuk membentuk band dengan nama Favourite Group tak bisa ia tolak.

Favourite Group menghadirkan cita rasa berbeda dalam bermusik. Hal itulah yang kemudian menjadi daya tarik dari Favourite Group. Musica Studio lantas memberikan ruang bagi Favourite Group untuk berkarya.

Dari sanalah, lagu-lagu seperti ‘Cari Kawan Lain’, ‘Angin Malam’, dan ‘Seuntai Bunga Tanda Cinta’ lahir. Lewat lagu-lagu itulah popularitas Favourite Group melambung di dunia musik Indonesia.

Sayang, popularitas yang sudah didapatkan tak membuat Favourite Group solid. Beberapa personil memutuskan untuk hengkang. Hanya tersisa Mus Mulyadi dan A. Riyanto. Untuk merawat eksistensi, A. Riyanto merekrut Is Haryanto dan Harry Toss.

Pergantian personil tersebut memang sempat menggerus popularitas Favourite Group, tetapi eksistensi mereka sebagai band ternama Indonesia tak lantas menghilang. Album Volume II tetap mempunyai pendengar dan memikat pecinta musik.

Guna menjaga ketenaran, Favourite Group menambah satu peronil yakni Tommy W.S. Kehadiran Tommy membuat tugas Mus Mulyadi berkurang dan fokus sebagai vokalis. Dengan formasi tersebut, album-album Favourite Group meledak di pasaran. Kesuksesan itulah yang kemudian membuat nama Mus Mulyadi dan Favourite Group masuk daftar maestro Indonesia.

Sukses bersama Favourite Group, Mus Mulyadi kembali mencoba bersolo karier. Ia dibuatkan satu lagu berbahasa Jawa oleh Is Haryanto dengan judul ‘Rek Ayo Rek’. Tak disangka, lagu tersebut laku keras di pasaran dan menjadi salah satu lagu yang menjadi khas Surabaya.

Karena keberhasilan tersebut, Mus Mulyadi mengambil keputusan untuk meninggalkan Favourite Group dan fokus bersolo karier. Ia kemudian menciptakan lagu-lagu keroncong pop. Salah satu lagu yang membawanya ke puncak karier yakni Kr Dewi Murni. Lewat lagu itupula ia  berkesempatan show di luar negeri seperti Belanda, Amerika Serikat, dan Suriname.

Sejak itu, predikat The King of Keroncong melekat pada diri Mus Mulyadi. Dengan popularitasnya, kakak dari Mus Mujiono ini memasuki dunia perfilman Indonesia. Meski tak sesukses di dunia musik, ia tetap memiliki daya tarik di dunia perfilman tanah air.

Setelah berpetualan dari satu ranah ke ranah lain, Mus Mulyadi kembali membangun Favourite Group yang sempat mati suri sepeninggalnya. Pada 2005, Favourite Group mengeluarkan dua album bertajuk ‘Katakanlah’ dan ‘Ya Ya Ya’. Dengan album tersebut, nama Favourite Group terus berdentum di dunia musik.

Soliditas Favourite Group akhirnya tergerus oleh usia. Satu per satu personil Favourite Group tutup usia. Mus Mulyadi adalah pionir terakhir Favourite Group. Namun, pada 2009, kesehatannya menurun. Penyakit diabetes terus menggerus kondisi fisiknya. Karena penyakit tersebut, penglihatan ia menurun dan mengalami kebutaan.

Meski demikian, menyerah bukan pilihan yang Mus Mulyadi ambil. Ia terus berjuang melawan penyakitnya sampai pada akhirnya Tuhan memanggil ia pada Kamis, 11 April 2019.***

Bagikan: