Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 18.2 ° C

Ketergantungan Media Sosial Akibatkan Gangguan Mental

Dhita Seftiawan
Ilustrasi.*/CANVA
Ilustrasi.*/CANVA

MEDIA sosial masa kini bagaikan dua sisi mata uang. Banyak sisi positifnya, tapi tidak sedikit juga sisi negatifnya baik secara sosial ataupun untuk setiap individu. Apalagi, kalau sudah masuk tahap ketergantungan.

Ketergantungan terhadap media sosial bisa mengakibatkan penggunanya mengalami gangguan mental. Salah satu ciri gangguan mental antara lain sering melupakan tanggung jawab di kehidupan sehari-hari. Ketergantungan itu sendiri bisa terjadi akibat adanya kesenangan dari aktivitas tertentu di media sosial yang membuat otak menghasilkan hormon dopamine.

Rama Giovani, dokter spesialis Kesehatan Jiwa, mengatakan, memasuki era digital, masalah kesehatan mental ibarat fenomena gunung es. Hanya sedikit orang yang meyadari bahwa dirinya mengalami gangguan kesehatan mental. Kekhawatiran akan stigma membuat sebagian orang tidak menganggap serius kesehatan mental dan enggan memeriksakan kesehatan mentalnya ke pskiater. 

“Sebagaian masyarakat juga menganggap bahwa masalah kesehatan mental dapat sembuh dengan sendirinya jika orang tersebut tidak malas,” kata Rama melalui siaran pers dalam kuliah umum Sehat Mental di Era Digital, di Kampus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung, Kamis, 4 April 2019.

Ia menyatakan, kesehatan mental seseorang harus dilihat secara holistik dengan melihat faktor biologis, psikologis, sosial, dan spiritual orang tersebut. Faktor biologis meliputi kondisi otak yang bisa saja mengalami gangguan akibat cedera atau konsumsi bahan-bahan yang merusak otak. 

Sementara, aspek psikologis bisa dilihat dari kematangan seseorang dalam menyelesaikan masalah. Masalah sosial dilihat dari lingkungan sosialnya yaitu faktor-faktor sosial yang berpotensi menjadi pemicu gangguan jiwa. 

“Masalah spiritual yaitu tentang bagaimana keyakinan individu untuk bisa sembuh ataupun tetap terus hidup dengan gangguan jiwa. Jadi, artinya masalah kesehatan mental itu dinamis dan tidak hanya disebabkan satu faktor saja,” ujarnya.

Mahasiswa rantau rentan mengalami gangguan mental

ILUSTRASI depresi.*/ CANVA

Menanggapi fenomena tersebut, dosen Fikom Unpad sekaligus aktivis Komunitas Peduli Skizofernia Indonesia, Herlina Agustin, menyatakan, di lingkungan kampus, mahasiswa rantau juga sangat rentan mengalami gangguan mental. Kendati demikian, sebagian besar dari mereka tidak menyadarinya dan tidak cukup berani untuk berkonsultasi.

“Jangankan berpikir untuk berkonsultasi, untuk berpikir  kebutuhan sehari-hari dan tugas kuliah saja mereka juga sudah cukup berat,” kata Herlina.

Ia menuturkan, sangat penting bagi mahasiswa untuk tetap berinteraksi dan menjaga hubungan dengan teman-teman di dunia nyata, bukan hanya media sosial. Keterbukaan interaksi antara mahasiswa dan dosen juga bisa membantu mencegah terkena gangguan kesehatan mental.

“Media sosial yang terdapat di dunia maya memang menawarkan banyak hal. Tapi media sosial tidak bisa menjadi solusi terhadap permasalahan pribadi seseorang yang berbeda dan unik,” ujarnya. 

Beberapa penelitian menunjukan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan memberikan dampak psikologis berupa self esteem menurun, depresi dan kecemasan meningkat, serta kondisi kesepian bagi penggunanya. Apalagi, karakteristik media sosial yang memungkinkan seseorang dapat berkomentar secara anonimus memungkinkan seseorang melakukan digital harassment seperti cyber bullying

“Padahal kegiatan cyber bullying tidak dapat dipandang sebelah mata. Terdapat berbagai kasus  cyber bullying yang berujung pada bunuh diri karena orang yang di-bully tidak bisa menerima rasa malu,” ujar Kepala Pusat Studi Komunikasi Kesehatan Unpad, Susanne Dida.***

Bagikan: