Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Sebagian cerah, 23.2 ° C

Metal Head: Aing Metal, Aing Sunda

Tim Pikiran Rakyat
KARINDING Attack/DOK. PR
KARINDING Attack/DOK. PR

DALAM gelaran musik metal, tersaji satu gambaran umum: musik bergemuruh dalam tempo sangat cepat, suara vokal yang menggeram di­selingi lengkingan yang serak, penonton memutar-mutarkan kepala dan mengacungkan kepalan tangan.

Hampir semua orang berbaju hitam, bergambar tengkorak, setan, dan tulisan dalam motif halilintar. Namun, dalam beberapa tahun belakangan, ada pemandangan baru, kepala mereka diikat kain batik. Iket yang mereka kenakan beragam jenisnya, ada yang bernuansa biru hitam khas Baduy, ada yang bernuansa cokelat, dan warna-warna lainnya.

Sebagian lagi ada yang mengenakan baju dan celana pangsi, melapisi kaus hitam band metal kegemaran masing-masing.

Jika 20 tahun lalu ada anak remaja yang datang ke festival musik metal dengan dandanan seperti itu, mungkin dia sudah habis diejek teman-temannya. Sekarang, dandan­an seperti itu seperti wajib bagi anak metal agar diakui eksistensinya. Hari ini mereka bangga berkata, ”Aing Metal! Aing Sunda!”

Bagaimana fenomena ini terjadi?

Perpaduan gaya metal dan Sunda mungkin tidak akan terjadi jika di Ujungberung tidak ada anak-anak muda penggemar metal yang mengadopsi seni tradisi Sunda.

Ujung­be­rung memang menjadi salah satu pusat berkumpul anak-anak metal, dan telah melahirkan band-band metal yang sa­at ini dianggap sebagai pionir. Misalnya, Jasad, Burgerkill, Sacrilegious, dan Forgotten.

Vokalis Jasad Mohamad Rohman atau lebih dikenal sebagai Man Jasad, menceritakan, setidaknya sejak tahun 2005 dia sudah berpikir untuk mengadopsi musik tradisi Sunda ke dalam musik death metal yang dimainkan Jasad. Namun, saat itu yang dia lakukan baru tahap menggunakan lirik berbahasa Sunda.

MAN Jasad/DOK. PR

“Buat saya ini seperti penebusan dosa, karena saya main musik metal sudah lama banget, manggung di mana-mana, sudah lebih dari puas. Tetapi saya merasa ada yang kurang. Saya orang Sunda, tetapi tidak berbuat sesuatu untuk tanah kelahiran saya. Pada album jasad tahun 2005, Annihilate the Enemy, saya memberanikan nulis lagu berbahasa Sunda, judulnya Getih jang Getih,” tutur Man Jasad.

Semakin lama, Man Jasad semakin intens mendekati seni tradisi Sunda dan bukan hanya dia yang melakukannya, teman-temannya sesama musisi metal Ujungberung juga melakukan hal yang sama.

Misalnya pada 2006 lalu, mereka menggelar acara musik Bandung Death Festival. Biasanya, acara seperti itu hanya diisi band-band yang memainkan musik dalam tempo yang ekstrem. Tetapi di Bandung Death Festival, penampilan para musisi diselingi oleh pertunjukan debus dan silat.

Sambutan penonton sangat meriah karena sangat jarang ada pertunjukan musik keras yang diselingi aksi potong lidah atau pencambukan orang dengan kayu berduri para seniman debus.

Akan tetapi, penerimaan komunitas musik cadas di Bandung tidak selalu positif terhadap diadopsinya unsur kesenian tradisi Sunda. Apalagi ketika adopsi tradisi Sunda itu mulai dilakukan pada gaya berpakaian.

“Saat pertama memakai iket di panggung banyak orang dari kalang­an sendiri yang mengejek, siga nu rek penca cenah,” kata Man Jasad.

Kimung sudah melakukannya lebih awal

Jika Man Jasad mulai mendekati tradisi Sunda pada 2005, Iman Rahman Angga Kusumah alias Kimung sudah melakukannya sejak 1995. Saat itu, Kimung diajak bergabung dengan band Sonic Torment. Seperti juga Jasad, Sonic Torment awalnya mengadopsi budaya Sunda melalui bahasa untuk lirik lagu.

“Saat itu saya masih kelas dua SMA. Saat diberi tahu liriknya harus memakai bahasa Sunda, saya kaget. kenapa harus memakai bahasa Sunda, kan teu gaya?” kata Kimung.

IMAN Rahman Angga Kusumah alias Kimung memainkan karinding. Melalui Ujungberung Rebels, Kimung menggagas kemandirian dalam menggelar pertunjukan.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

Pertanyaan itu dijawab pedas oleh Dinan, personel Sonic Torment yang mengajaknya bergabung.

"Sia! Maneh kan sapopoe ngomong make bahasa Sunda! Maneh jeung babaturan maneh sapopoe ngomong make bahasa naon? Bahasa Sunda! Jadi mun maneh rek ngomong di panggung, maneh kudu make bahasa Sunda atawa bahasa Inggris? Bahasa Sunda!" bentak Dinan seperti ditirukan Kimung.

Dari Sonic Torment, Kimung kemudian bergabung dengan Burgerkill sebagai pemain bass. Lama bermain bersama Burgerkill, Kimung keluar dan bekerja sebagai guru SMP.

BESIDE Wacken Metal Battle Indonesia 2017/SATIRA YUDATAMA/PR

Akan tetapi, pengalaman bersama Sonic Torment membekas di hatinya dan akhirnya Kimung kembali bermusik. Namun, dia fokus memainkan musik karinding. Dia lantas mendirikan band karinding bernama Karinding Attack bersama Man Jasad, Dadang “Utun” Hermawan, dan kawan-kawannya.

“Kami belajar karinding kepada maestronya, Bah Olot dari Parakan Muncang,” kata Kimung.

Kelahiran Karinding Attack juga menyulut tren baru di kalangan anak muda Bandung yaitu mendirikan band karinding. Saat ini sudah belasan band karinding yang ada di Bandung dan mereka sering diundang tampil di acara-acara musik mulai dari acara 17 Agustusan sampai ke festival musik keras.

Pengaruh metal head di negara lain

Alasan filosofis apa pun tentang mengapa anak-anak metal Bandung mengadopsi budaya Sunda, harus diakui tindakan itu juga didorong oleh tren komunitas musisi/penggemar musik metal di negara lain.

Entah karena alasan apa, banyak band metal di luar negeri yang menggali ide bermusik dan penulisan lirik dari tradisi setempat.

Pada 1995, band metal asal Brasil, Sepultura, mengeluarkan album berjudul Roots. Seluruh lagu di album itu memasukkan unsur musik tradisional suku-suku pedalaman Brasil yang dikombinasikan degan unsur standar musik metal yaitu suara gitar berdistorsi, suara bass yang bulat, tempo drum yang cepat, dan vokal yang berteriak serak.

Di Eropa, band-band yang memainkan musik black metal juga menggali ide dari akar tradisi masa lalu masyarakat Eropa.

BAND Jasad/ INSTAGRAM JASAD_OFFICIAL

Band-band dari Norwegia, Swedia, dan Denmark misalnya. Mereka memainkan musik berdasarkan hasil penggalian ide atas kisah-kisah heroik dan tradisi bangsa Viking.

Band-band dari negara lain di Eropa juga melakukan penggalian ide terhadap kisah-kisah dan kebiasaan suku yang pernah ada di wilayah masing-masing.

Pengaruh tren di luar negeri terhadap tren bermusik musisi metal di Bandung juga diakui Dadang “Utun” Hermawan.

Dia mengatakan, saat band-band luar negeri menggali ide dari suku-suku pagan di wilayah masing-masing, musisi metal di Bandung juga terpangaruh untuk menggali ide dari seni tradisi setempat.

Kesenian menyediakan ruang yang relatif bebas

Menurut antropolog Unpad Selly Riawanti, fenomena anak metal-Sunda merupakan contoh bahwa globalisasi ternyata tidak selalu berujung pada penyeragaman budaya.

Walau produk budaya luar masuk ke Indonesia, tetap saja ada kelompok-kelompok yang ingin menunjukkan identitas khas mereka untuk digabungkan dengan produk budaya luar yang mereka adopsi.

“Saya tidak tahu apa yang dilakukan anak-anak metal itu memang memikirkan tujuan ideologis. Tetapi tampaknya ikon-ikon yang menjadi panutan mereka memikirkan hal-hal yang ideologis dan tampilan luar mereka yang kemudian diikuti oleh para penggemarnya,” kata Selly Riawanti.

Dia juga mengingatkan bahwa belakangan ini telah terjadi perebutan simbol-simbol kebudayaan yang cukup hangat. Misalnya, aksi saling klaim batik dan reog antara Indonesia dan Malaysia.

“Tampaknya memang sedang musim orang-orang yang ingin meng­angkat simbol-simbol buda­yanya, dan ditampilkan ke hadapan massa,” kata Selly Riawanti.

Selain itu, Selly Riawanti menduga ada faktor keterancaman dari massa yang membuat mereka melirik simbol-simbol budaya dan kesenian sebagai tempat untuk menyalurkan kegelisahan atas situasi hidup mereka.

Di dalam situasi tertekan saat secara umum masyarakat tidak memiliki banyak pilihan untuk memperbaiki situasi ekonomi dan politik masing-masing, kesenian menyediakan ruang yang relatif bebas bagi siapa pun untuk memasukinya.

“Setiap orang pada dasarnya dapat bergabung dalam kegiatan seni tanpa harus memiliki kualifikasi atau syarat tertentu. Selain itu seni memang memberikan ruang untuk kreativitas, untuk penyaluran dari situasi tertekan,” kata Selly Riawanti.

Mengenai pilihan seni, dalam hal ini memadukan metal dan seni tradisi Sunda, Selly Riawanti mengatakan, mungkin dua kesenian itu yang dirasa cocok bagi mereka. Karena bagaimana pun, sesuatu yang telah menjadi populer akan lebih mudah diadopsi massa.  (Lia Marlia, Zaky Yamani)***

Bagikan: