Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 31.3 ° C

Djakarta Metropolis: Keresahan tentang Jakarta

Windy Eka Pramudya
SALAH satu karya dalam pameran bertajuk Djakarta Metropolis, yang berlangsung 25 Februari hingga 25 Maret di Humanika Artspace, Jalan Bojong Koneng Atas, Kota Bandung.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR
SALAH satu karya dalam pameran bertajuk Djakarta Metropolis, yang berlangsung 25 Februari hingga 25 Maret di Humanika Artspace, Jalan Bojong Koneng Atas, Kota Bandung.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

"APAPUN agamamu, I love you."

Kalimat dalam huruf kapital dan berwarna oranye ini menjadi bagian karya fotografis berjudul Terorejing. Di sebelah tulisan yang mencolok mata itu, terdapat gambar sepasang lelaki dan perempuan yang berdiri bersebelahan. Sang perempuan terlihat memakai kerudung. Sang pria membawa sebilah benda panjang. 

Dua sosok itu dibuat siluet dalam warna oranye pudar. Dengan latar belakang biru, dua wujud itu hadir seperti bayangan. Karya ini dibuat dengan media fotografi dan screen printing di atas kanvas. 

Karya yang menggabungkan fotografi dan seni grafis ini menjadi bagian pameran tunggal Deny Arivin AL. Dalam judul pameran Djakarta Metropolis, Deny mengungkapkan keresahan dia terhadap Jakarta. 

Terdiri atas tiga karya, pameran Djakarta Metropolis berlangsung di Humanika Artspace, Jalan Bojong Koneng Atas Perumahan Kavling 75, Kota Bandung. Pameran yang dikuratori Andang Iskandar dan Bayu Widodo ini digelar 25 Februari hingga 25 Maret 2019. 

Seniman Deny menyatakan, Djakarta Metropolis adalah cara mengevaluasi kesadaran pada diri dia sendiri akan hal yang terjadi di depan mata, atau yang akan terjadi ke depannya nanti. Objektifikasi dan metathesiophobia akan sebuah kehidupan bersosial dan kali ini Jakarta sebagai objek karya Deny.

"Saya mencoba mengekstrak elemen dari pengalaman pribadi yang menimbulkan sentimen ketidaknyamanan yang luar biasa. Hasil ekstrak sentimen itulah yang sangat sering menjadi bahan introspeksi saya untuk pengambilan sikap dalam bersosialiasi," tutur Deny.

Kepekaan realita sosial

Pameran Djakarta Metropolis menjadi pintu akan kesadaran diri untuk memulai kepekaan realita sosial pada diri Deny. Keresahan yang dia coba tuangkan dalam Djakarta Metropolis dapat dia rasakan juga di dalam penulisan yang dibaca lewat karya karya Rosy Winda Fitryanti Lubis atau Ouchy. 

Tulisan yang merepresentasikan ketidaknyamanan akan tata krama sosial yang Deny rasakan -dan coba dia hadirkan lewat Djakarta Metropolis.

"Penggalan tulisan Ouchy menceritakan keresahan atas ketimpangan sistem yang terjadi di kota Jakarta, tapi dibiarkan terus sehingga berkembang jadi hal biasa. Seperti itulah rasa Djakarta Metropolis," ujar Deny. 

Selain karya Terorejing, Deny juga membuat karya berjudul Bodo Amat. Dengan media fotografi dan screen printing di atas kanvas, karya ini menampilkan siluet perempuan dan laki-laki dalam warna biru. Sang pria diperlihatkan sedang menodongkan pistol ke kepala perempuan yang terduduk di bawah. 

Di belakang dua sosok itu, terdapat gambar rumah di antara gedung-gedung bertingkat. Sementara di samping gambar, Deny menulis kalimat, "dan musik mulai berbunyi". Kalimat ini ditulis memakai fosfor sehingga menyala dalam gelap dan dalam huruf kapital.

Pada karya berjudul Mata Duitan, Deny menampilkan tiga sosok perempuan dan seorang pria. Kendati dalam bentuk siluet, tapi Deny berhasil memperlihatkan pose berjoget yang diperagakan empat model gambarnya. 

Gambar ini warna dasar merah dengan siluet gambar putih dan aksen hijau terang. Di samping gambar, Deny menulis kalimat, "jangan Kau bayangi dengan uangmu". Tulisan ini dibuat dengan huruf kapital dan fosfor sehingga menyala dalam gelap.***‎

Bagikan: