Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Langit umumnya cerah, 15.5 ° C

Konser Musikal Cinta Tak Pernah Sederhana, Ketika Puisi Cinta Tampil Beda

Windy Eka Pramudya
MARSHA Timothy dn Reza Rahadian tampil dalam konser musikal Cinta Tak Pernah Sederhana di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini Jakarta.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR
MARSHA Timothy dn Reza Rahadian tampil dalam konser musikal Cinta Tak Pernah Sederhana di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini Jakarta.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

AKU ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu‎
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Kutipan puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono itu diucapkan Adam dan Hawa saat mereka hendak berpisah.

Dalam bentuk drama musikal, puisi cinta itu dilantunkan Reza Rahadian yang berperan sebagai Adam dan Marsha Timothy sebagai Hawa.

Selain Reza Rahadian dan Marsha Timothy, pertunjukan ini juga menampilkan Teuku Rifnu Wikana (penyair), Atiqah Hasiholan (perempuan malam), Chelsea Islan (perempuan malaikat), dan Sita Nursanti (perempuan pemuja rahasia).

Puisi Aku Ingin menjadi bagian pertunjukan konser musikal Cinta Tak Pernah Sederhana yang digagas PT Balai Pustaka (Persero) dan Titimangsa Foundation.

CINTA Tak Pernah Sederhana/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

Berlangsung di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini Jakarta, Cinta Tak Pernah Sederhana yang disutradarai dan ditulis Agus Noor dipentaskan reguler Sabtu dan Minggu, 16-17 Maret 2019.

Konser musikal Cinta Tak Pernah Sederhana merangkum puisi-puisi cinta karya 26 penyair Indonesia. Selain Sapardi Djoko Damono, penyair lain yang puisinya dipakai antara lain WS Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Chairil Anwar, Taufik Ismail, Emha Ainun Nadjib, Joko Pinurbo, Aan Mansyur, Acep Zamzam Noor, Ahda Imran, Nenden Lilis, dan Putu Wijaya.

Proses kreatif yang membiarkan penonton menebak

Sebagai penulis cerita, Agus Noor mengambil penggalan-penggalan puisi yang menjadi dialog dan lirik. Dengan sengaja, Agus Noor tidak memberi keterangan puisi siapa dan judul apa yang dipakai. Dia membiarkan penonton menebak-nebak puisi yang digunakan selama dua jam pertunjukan.

"Saya memilih, meminjam puisi-puisi mereka, kemudian menyusun ulang sesuai kebutuhan alur adegan dan dramatik pertunjukan. Ada puisi yang dihadirkan utuh dan ada yang hanya berupa kutipan. Puisi dan kutipan itu menjadi percakapan, nyanyian, dan narasi dalam pertunjukan," ujar Agus Noor, Jumat 15 Maret 2019.

Ketika mulai menyusun naskah, hal pertama yang Agus Noor lakukan adalah mencoba membaca (kembali) sebanyak mungkin puisi-puisi cinta yang ditulis para penyair Indonesia. Setelah itu, dia membuat kerangka dasar adegan berdasarkan puisi itu.

Sebagai pertunjukan, Agus Noor membayangkan ada alur dramatik serta perhitungan dramaturgi yang membuat puisi-puisi itu menjadi kesatuan alur dan kisah Cinta Tak Pernah Sederhana.

CINTA Tak Pernah Sederhana/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

Dari situ, Agus noor memilih puisi yang bisa menjadi kerangka dasar adegan. Selebihnya, dia memilih kutipan-kutipan puisi yang mendukung adegan. Menurut Agus Noor, keputusan memakai kutipan puisi berkaitan dengan durasi pertunjukan agar tidak terlalu panjang.

"Saya berharap pertunjukan ini menjadi pertunjukan puisi yang menarik dan menjadi cara lain untuk menghadirkan puisi di atas panggung, yang tak hanya dibacakan, didekmalasikan, atau dinyanyikan. Penulis atau sutradara lain, pastilah akan bisa menyusun kisah yang berbeda dan alur yang tak sama dari khazanah perpuisian Indonesia," ujar Agus Noor.

Kata, buat manusia kenal dunia

Cerita Cinta Tak Pernah Sederhana bermula dari penciptaan yaitu kata. Katalah, yang membuat manusia mengenal dunia. Lalu muncul manusia pertama yang pengetahuan pertamanya adalah memahami nama-nama, yakni bahasa. Maka manusia pertama itu, sesungguhnya orang yang memahami bahasa.

Ia adalah penyair pertama di surga. Lalu ia mengenal cinta, ia kesepian tanpa cinta. Munculah perempuan, sang kekasih. Mereka menjadi sepasang kekasih pertama di surga. Mereka ingin mencintai dengan sederhana. Namun, cinta memang tak pernah sederhana hingga sepasang kekasih itu kemudian turun ke dunia. Mereka menyaksikan senja pertama di bumi, saling mencintai dan berpisah.

Di dunia, sang laki-laki menjadi seorang penyair yang mencintai seorang perempuan, yang juga mencintai sepenuh hati tetapi ragu. Si penyair merindukan kemerdekaan, tapi apa arti kemerdekaan tanpa cinta.

Seperti dalam sajak Rendra, "Kau tak akan pernah mengerti bagaimana kesepianku, menghadapi kemerdekaan tanpa cinta!"

CINTA Tak Pernah Sederhana/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

Penyair itu memperjuangkan cintanya. Namun, cinta mereka tak pernah sederhana. Sampai suatu kali, perempuan itu ditangkap, karena dituduh berdosa dan kemudian meninggal dunia.

Sang penyair sedih kehilangan perempuan yang dicintainya. Ia sering muncul di kuburan. Di sinilah kelucuan dan ironi muncul karena mencintai ternyata juga harus sanggup menanggung kepedihannya. Kata-kata harus diperjuangkan, begitu juga cinta. Meski tak pernah sederhana.

Sang penyair kemudian ditangkap dan dimatikan. Namun, semua itu justru membuat penyair menemukan kekuatan dan mengalami pengalaman spiritual yang membebaskan.

Dalam adegan pembakaran, ketika tubuh sang penyair dimasukkan ke dalam api berkobar, ia tetap yakin: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Ia merasa begitu dekat dengan Tuhan.

Meski tak sederhana, cinta membuat penyair itu menemukan kemerdekaannya, juga cinta indahnya, cintanya pada Tuhan. Ini adalah gambaran perjalanan spiritual manusia.

Aspek pendukung yang tak main-main

Didukung musik yang digarap Bintang Indrianto, para aktor Cinta Tak Pernah Sederhana tak hanya berakting tapi juga bernyanyi. Ada 12 lagu lagu yang dibuat dari puisi.

Di panggung Cinta Tak Pernah Sederhana, tampil juga tiga penyanyi yaitu Sruti Respati, Daniel Christianto, dan Heny Janawati yang menguatkan kisah lewat lagu-lagu berlirik puisi yang mereka bawakan.

Hadir juga pemain harpa Maya Hasan yang memberikan nuansa berbeda pada racikan musik Bintang Indrianto.

Selain para pelakon, terdapat empat narator yaitu Warih Wisatsana, Wawan Sofwan, Butet Kertaradjasa, dan Iswadi Pratama yang menjadi jembatan antaradegan. Mereka memberi warna dengan gaya panggung yang berbeda-beda.

Disajikan dengan alur yang dinamis, Cinta Tak Pernah Sederhana menjadi ajang pembuktian para pelakon yang terlibat. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Atiqah Hasiholan yang menjadi perempuan malam.

Atiqah Hasiholan tampil menggebrak lewat aksinya yang bernyanyi dan bergoyang dangdut. Dia menyanyikan puisi Dunia Dangdut karya Joko Pinurbo.

Begitu pula dengan Teuku Rifnu Wikana yang menjadi penyair. Dikisahkan, dia jatuh cinta yang teramat berat pada perempuan malam. Teuku Rifnu Wikana dan Atiqah Hasiholan meyakinkan penonton kalau mereka adalah sepasang kekasih. Hal itu mereka perlihatkan dengan bahasa tubuh dan ekspresi yang penuh totalitas.

Begitu pula dengan ikatan antara Teuku Rifnu Wikana dan Sita Nursanti. Pesan tentang cinta yang tak pernah sederhana tersampaikan dengan baik lewat adegan mereka berdua.

Di segmen ini, penonton Cinta Tak Pernah Sederhana semakin dibuat nelangsa karena sesungguhnya saat jatuh cinta, kita juga harus siap kehilangan.***

Bagikan: