Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Berawan, 23.9 ° C

MBI Prihatin, Beda Pilihan Politik Mudah Terpecah

Anwar Effendi
AKTIVIS yang bergabung dalam Mufakat Budaya Indonesia (MBI), menyerukan agar persatuan diperkuat di semua kalangan.*/ISTIMEWA/PR
AKTIVIS yang bergabung dalam Mufakat Budaya Indonesia (MBI), menyerukan agar persatuan diperkuat di semua kalangan.*/ISTIMEWA/PR

BANDUNG, (PR).- Dukung-mendukung menyambut pemilihan umum (pemilu) 2019 menghangat di semua kalangan. Termasuk di kalangan artis, seniman, budayawan hingga ilmuwan. Bahkan ada yang terang-terangan memberi dukungan dengan kegiatan deklarasi. Semua kubu melakukan deklaarasi dukungan. Dampaknya, secara perlahan muncul perpecahan.

Merasa prihatin dengan kondisi bangsa, yang nyaris terpecah belah lantaran Pemilu 2019, akhirnya sejumlah tokoh, budayawan, seniman, dan aktivis kemanusiaan yang bergabung dalam Mufakat Budaya Indonesia (MBI), menyerukan agar persatuan diperkuat di semua kalangan.

MBI terdiri dari para seniman, budayawan, cendekiawan, dan ilmuwan, seperti budayawan Radhar Panca Dahana, Donny Gahral, Niniek L Karim, Adi Kurdi, Renny Jayoesman, Anto Baret, Tony Q, Olivia Zalianty, dan lainnya, memberikan pernyataan sikap terkait kondisi yang ada di masyarakat.

Mereka mengharapkan  masyarakat untuk menghentikan praktik-praktik yang bisa memicu perpecahan selama tahun politik dan Pemilu 2019. MBI menilai bahwa perpecahan hanya akan melemahkan bahkan menghancurkan bangsa Indonesia yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa.
        
MBI turut menyikapi perkembangan terakhir dari kehidupan sosial-politik-kultural di negeri ini, di mana terjadi peningkatan intensitas, jumlah, dan kualitas dari perpecahan kelompok masyarakat, konflik horizontal dan vertikal akibat perbedaan pandangan politik, penggunaan bahasa bahkan karya seni demi kepentingan sempit dan sektarian, dan lain sebagainya.
       
Selaku budayawan, Radhar Panca Dahana mengajak masyarakat untuk menghindari perpecahan karena perbedaan. “Kami anggota aktivis MBI menyampaikan himbauan, untuk menghentikan praktik diskursif, ujaran bahasa yang tak baik, menjaga sikap dan tindakan yang berpotensi merusak tata hubungan sosial-kultural di masyarakat Indonesia yang sudah dibangun oleh para leluhur bangsa,” ujarnya seperti rilis yang disampaikan "PR" Online, Kamis 14 Maret 2019.
       
MBI pun mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan kontestasi politik, seperti pemilihan presiden dan anggota legislatif sebagai ajang pertempuran di antara kekuatan yang semata hanya untuk nafsu kekuasaan. MBI pun meminta agar para elit, baik di lingkungan politik, ekonomi, akademik, agama, dan budaya, tidak lagi menginisiasi, menginspirasi, apalagi mengorganisir publik untuk melakukan perbuatan destruktif demi tujuan kelompoknya.
     
Tentu banyak hal lagi yang disampaikan oleh MBI agar masyarakat bisa kembali bersatu dan harmonis meski menjalani tahun politik seperti ini. MBI pun mengajak masyarakat agar mengingat dan sadar kembali akan sejarah bangsa Indonesia. Dengan begitu, masyarakat bisa kembali harmonis dan sadar, meski berbeda pandangan namun ini demi kemajuan bangsa.
        
"Jangan hanya pilihan kita beda, kita terpecah belah. Kita sebagai anak bangsa harus tetap utuh," tandas Niniek L Karim.***

Bagikan: