Pikiran Rakyat
USD Jual 14.273,00 Beli 13.973,00 | Umumnya cerah, 19.1 ° C

Albizzia House, Membuat Albasia Naik Kelas

Endah Asih Lestari
ALBIZZIA House, sebuah konsep hunian yang meningkatkan nilai kayu albasia sebagai material utama.*/ISTIMEWA
ALBIZZIA House, sebuah konsep hunian yang meningkatkan nilai kayu albasia sebagai material utama.*/ISTIMEWA

KARAKTER kayu albasia yang lunak dan mudah rusak jika terkena air, membuat banyak orang tak tertarik untuk menjadikannya bagian dari struktur maupun kerangka atap. Berbeda dengan sebuah hunian keluarga milik pasangan Siti Atikah (58) dan Bani Agus Supriyadi (59).

Kediaman mereka dinamakan Albizzia House. Letaknya di kawasan Babakan Sari, Kiaracondong, Kota Bandung. 

Pada hunian yang berdiri di atas tanah seluas 150 meter persegi itu, kayu albasia justru menjadi elemen utama konstruksi. Bedanya, teknologi "purba" yang diterapkan pada kayu albasia yang digunakan, membuat hunian ini punya nilai plus tersendiri. 

Arsitek pembangunan Albizzia House Yanuar Pratama Firdaus dari Aaksen Responsible Aarchitecture mengatakan, kayu albasia yang digunakan melewati proses "mumifikasi" secara tradisional. Proses ini mampu memadatkan kayu, sehingga menaikkan grade kayu. 

Seperti diketahui, kayu albasia atau biasa disebut sebagai kayu sengon dikenal sebagai kayu yang ringan dan murah. Tak seperti kayu jati maupun kayu keras lain yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh, kayu albasia sudah cukup umur untuk digunakan sekitar lima hingga enam tahun penanaman. Penggunaannya jarang dimaksimalkan karena grade kayu yang rendah, berkisar antara IV dan V. 

Proses "mumifikasi" kayu dilakukan dengan mengubur potongan-potongan kayu di dalam sawah selepas musim panen. Cara ini seringkali dilakukan oleh petani di beberapa daerah, termasuk Ciamis, Jawa Barat, kampung halaman pemilik rumah. 

Selanjutnya, sawah tetap digarap oleh petani seperti biasa, sehingga berisi lumpur dan ditanami padi. Potongan kayu baru dikeluarkan dari dalam sawah, ketika petani menyelesaikan musim panen. Begitu seterusnya. 

"Unsur hara yang terkandung di dalam lumpur sawah, mampu membuat kayu yang direndam selama berbulan-bulan menjadi lebih padat. Sehingga grade kayu dapat bertahan sampai 30 atau 45 tahun," tutur Yanuar, ketika ditemui di Albizzia House, beberapa waktu lalu.

Kayu yang direndam di dalam lumpur sawah setelah musim panen, tidak hanya mengisi kantung pori-pori kayu yang rapuh menjadi kuat. Tetapi juga melekatkan dua substansi bumi, menjadi satu kesatuan dengan massa jenis berbeda namun menguatkan satu sama lain. 

Hunian tersebut sebenarnya merupakan rumah yang sudah 30 tahun berdiri. Saat dilakukan pembongkaran dalam proses renovasi, ditemukan struktur kayu yang masih dalam keadaan sangat baik. Seluruhnya menggunakan kayu albasia. 

Renovasi dilakukan dengan menitikberatkan pada signifikansi kuda-kuda kayu pada eksisting bangunan. "Strateginya adalah dengan melakukan konservasi dan ekspansi, baik secara struktur maupun ruang," ucap Yanuar. 

Ekspansi dilakukan secara runut, dari bangunan lama ke struktur bangunan baru. Aksen kayu albasia pun ditambahkan pada elemen non struktur seperti pada plafond bangunan dan area tangga.

Fusi dengan kayu sintetis

Posisi fasad utama rumah yang menghadap barat, membuat Yanuar harus memutar otak. Posisi tersebut biasanya membuat rumah mendapatkan cahaya terlalu banyak pada siang, sore dan malam hari. Akibatnya, suhu udara di dalam ruangan relatif lebih panas. 

Untuk menyiasatinya, diberikan tambahan elemen kayu sebagai kisi-kisi dan peneduh. Sehingga, terik matahari tidak begitu saja terserap. 

Sementara itu, untuk mendapatkan cahaya dan ventilasi ruang yang baik, diberikan bukaan untuk vegetasi pada bagian depan. Hal semacam ini juga diadaptasi di bagian tengah bangunan. 

Saat dilakukan proses renovasi, kontraktor juga menggunakan kayu albasia baru. Sebelumnya, kayu tersebut juga sudah melalui proses mumifikasi. 

"Kayu yang lama dipertahankan, kayu-kayu yang baru juga ditambahkan," ujarnya. 

Untuk memberi nuansa tropis yang lebih modern, Yanuar juga menambahkan kayu-kayu sintetis bergradasi cerah. Kayu sintetis ini juga menjadi jalan keluar untuk material konstruksi yang berada di luar ruangan atau yang mungkin terpapar cuaca secara langsung. 

Kayu sintetis tersebut digunakan untuk fasad depan hunian, dinding luar ruangan, serta decking kayu taman kering yang berada di tengah rumah. 

"Penggabungan antara kayu natural dan sintetis juga dilakukan karena kami belum menemukan kualitas kayu yang sangat baik untuk di luar ruangan, tapi dengan harga terjangkau," tuturnya. 

Hanya saja, karena berada di area luar ruangan, kayu sintetis tetap membutuhkan beberapa perawatan. Misalnya, pengecatan harus dilakukan ketika warna kayu mulai luntur.***

Bagikan: