Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Umumnya berawan, 22.3 ° C

Produk Fashion Transparan, Sebuah Kritik untuk "Kepalsuan" Media Sosial

Gita Pratiwi
TREND tas transparan.*/GITA PRATIWI/PR
TREND tas transparan.*/GITA PRATIWI/PR

TREN fashion transparan sudah diramalkan laman Vogue untuk pakaian dan item lainnya sejak 2017. Kolaborasi produsen sepatu Nike dan Converse beberapa waktu lalu dengan Off White-nya pun mengusung tema si bening. Belum lama ini, Dior pun merilis koper transparan.

Produsen tas asal Bandung, Niion turut mempelopori tren fashion item transparan dengan merilis artikel terbaru mereka. Melalui rilisan ini, Niion juga ingin menyatakan sebuah kritik bagi pengguna media sosial saat ini.

“Influence kami bukan dari sesama tas tapi fashion secara keseluruhan. Di US modenya tren tahun lalu, tapi sampai ke Indonesia bisa 5-10 tahun ke depan. Nangkep dari sana kita pengen jadi brand pertama yang mendatangkan tren itu,” ucap founder Niion, Adit Yara di kantornya, Jalan Tikukur, Kota Bandung, Jumat, 8 Maret 2019.

Jika banyak merek ternama memunculkan produk transparan dari kain tile atau plastik, ia memilih materi mika buat tasnya. Pada artikel terbitan pertama yang terjual habis sejak dua pekan dirilis ini, ia juga memadu padankan dengan bahan nilon.

“Material mika dengan bahan utamanya nilon. Ada yang full (mika) dan setengah,” katanya. Bahan nilon sendiri sudah menjadi identitas produsen yang sebelumnya merilis artikel tas foldable ini.

Hingga Maret 2019, tas transparannya sudah dirilis dalam enam produk. Terdiri dari lima sling bag, dan satu tas laptop dengan kisaran harga jual Rp 250.000-500.000.

“Oktober 2019 nanti akan diluncurkan lagi untuk backpack dan kamera,” kata Adit.

FOUNDER Niion Adit Yara dengan tas transparan, Jumat, 8 Maret 2019. */GITA PRATIWI /PR

Kritik media sosial

Ditanya soal rekomendasi momen penggunaan tas transparan ini, Adit menjawab secara sederhana, untuk urban activity. Seperti saat akhir pekan, berwisata, atau sekadar pergi ke mal dan kafe.

Namun lebih jauh, ia menitipkan pesan di balik penggunaan tas see trough-nya ini. Pihaknya ingin pengguna menunjukkan jati dirinya, untuk diterima secara apa adanya. 

“Sebenarnya ini adalah kritik terhadap media sosial akhir-akhir ini. Socmed membentuk orang-orang jadi ‘palsu’. Belum filter kamera, snapchat, dan macam-macam. Artikel ini mengkritik tren seperti itu,” katanya.

Seperti halnya kepribadian orang di kehidupan nyata, amat berbeda dengan yang dipos di media sosial. “Nah niion ingin mengubah pemakainya, untuk jujur sama society atau orang terdekat. Sederhananya, orang bisa tahu apa yang dibawa, merek apa, dan seperti apa,” ujar Adit. ***

Bagikan: