Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 26.2 ° C

Para Perempuan di Pameran Amarga

Windy Eka Pramudya
Pameran Amarga.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR
Pameran Amarga.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

DALAM rangka memperingati Hari Perempuan Internasional, Yello Hotel Paskal menggelar pameran seni rupa bertajuk Amarga. Pameran ini menampilkan karya dua seniman yaitu Sandi San San dan Edrike Joosencia.

Berlangsung di Yello Hotel Paskal Jalan HOS Cokroaminoto Kota Bandung, pameran yang menyajikan subjek sosok perempuan ini diadakan 8-17 Maret 2019. Dalam bahasa sanskerta, 'amarga' berarti 'sebab-karena'.

Seniman Edrike mengungkapkan, untuk pameran Amarga dia menyajikan dua karya yang sama-sama menampilkan sosok perempuan. Menurut Edrike, karya dia terinspirasi sosok ibu. Bagi Edrike, perempuan adalah sisi lain Tuhan dengan sifat yang intuitif.

Edrike menjelaskan, karya dia untuk pameran Amarga berjudul Mantra dan Samara. Dua karya ini memakai medium kertas nano yang berpori-pori kecil. Untuk media menggambar, Edrike memakai charcoal karena ingin menonjolkan warna hitam di atas kertas putih.

"Saat menggunakan charcoal untuk melukis atau menggambar saya menemukan kenikmatan. Soalnya dengan pakai charcoal, saya bisa skin to skin dengan kertas yang dipakai," kata Edrike.

Di karya berjudul Mantra, Edrike melukis sesosok perempuan yang memakai selendang putih. Selendang itu menutup mulut sang perempuan dengan ujung selendang yang dibiarkan terbang bebas.

"Karya Mantra berbicara tentang harga diri. Mulut yang ditutup bisa diinterpretasikan dengan berbagai hal," ungkap Edrike.

Sementara itu, karya berjudul Samara menampilkan seorang perempuan berbaju hitam yang sedang berdiri dan matanya terpejam. Sang perempuan itu membiarkan wajahnya tertutup sebagian rambut panjangnya.

"Karya saya memvisualisasikan tatapan perempuan. Saat ini, baik laki-laki maupun perempuan harus berani menghadapi kehidupan," ujar Edrike yang merupakan alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung angkatan 2015.

Sementara itu, perupa San San menampilkan empat lukisan di pameran Amarga. Terdapat tiga lukisan berjudul Nyawa, dan satu lukisan berjudul Rasa. 

Sama seperti Edrike, San San juga memakai medium charcoal yang dia campur dengan cat akrilik dan cat air. San San menyebutkan, inspirasi dia kali ini adalah para perempuan yang meninggalkan berbagai cerita di hidupnya. 

"Untuk kertasnya saya pakai kertas conqueror. Kertas ini bertekstur garis-garis sehingga agak rumit. Lukisan saya bergaya surealis dan ekspresif. Saya mengutamakan maksud yang ada di hati menjadi bentuk lukisan," kata San San yang merupakan alumnus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung angkatan 2016.

Menurut San San, biasanya saat melukis dia harus mendengarkan musik, seperti The Beatles. Hasilnya bisa dilihat pada karya yang berbentuk seperti kolase. Ada juga lukisan yang menampilkan bias prisma. Karya ini dia buat saat mendengarkan Pink Floyd.***

Bagikan: