Pikiran Rakyat
USD Jual 14.603,00 Beli 14.303,00 | Sebagian cerah, 29.2 ° C

Film Traumatik 27 Steps of May Keliling Tiga Festival Lagi

Endah Asih Lestari
CUPLIKAN adegan film 27 Steps of May.*/ISTIMEWA
CUPLIKAN adegan film 27 Steps of May.*/ISTIMEWA

FILM traumatik bertema kekerasan seksual 27 Steps of May, kembali menembus tiga festival film di luar negeri, yaitu Bangaluru, India, serta Mesir dan Kamboja. 

Film karya Sutradara Ravi Bharwani ini disambut antusias saat diputar di Bengaluru International Film Festival (Biffes) edisi 11 pada akhir Februari lalu.

"Dua Pemutaran di Biffes dipenuhi penonton. Setelah pemutaran, reaksi penonton sangat positif. Pas sesi tanya jawab ada seorang penonton yang merupakan penyintas perkosaan. Dia khusus bilang terima kasih karena apa yang dia rasakan, benar-benar diwakilkan oleh film ini,” ujar Wilza Lubis seperti dilansir Antara, Kamis, 7 Maret 2019. 

Film yang terinspirasi dari peristiwa 1998 ini dibintangi oleh Raihaanun, Lukman Sardi, Ario Bayu dan Verdi Solaiman. Di Biffes, film ini diputar sebanyak dua kali, lalu dilanjutkan dengan diskusi bersama Ravi Bharwani dan produser Wilza Lubis.

Mesir dan Kamboja

Setelah dari Bengaluru, India, 27 Steps of May akan melanjutkan perjalanannya ke Mesir untuk diputar dalam Mar Sharm El Sheikh Asian Film Festival (SAFF) yang ketiga pada awal Maret ini.

Festival tersebut diadakan oleh Noon Foundation for Culture and Arts dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan Mesir, Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta Otoritas Umum untuk Pengembangan Pariwisata dan Kegubernuran Sinai Selatan.

Tahun ini, SAFF bertujuan untuk memperkenalkan sinema Asia ke dunia Arab. Dalam SAFF, 27 Steps of May akan berkompetisi dengan 57 film lainnya dari 26 negara Asia untuk memenangkan sembilan penghargaan. 

Rangkaian SAFF yang diisi dengan pemutaran, seminar, dan workshop diadakan pada 2-8 Maret 2019.

Selanjutnya, film berdurasi 112 menit ini juga akan diputar di Cambodia International Film Festival (CIFF) yang diselenggarakan selama enam hari penuh dari tanggal 9-14 Maret 2019.

CIFF menghadirkan film dari 37 negara dengan lebih dari 135 judul film dari semua benua, termasuk film pendek, film layar lebar, dokumenter, dan animasi.

“Setelah mendapatkan tanggapan yang luar biasa dari para penonton di Biffes, saya berharap film ini juga mendapat simpati dari para penonton SAFF dan CIFF,” ujar Ravi.

Setelah keliling tiga festival tersebut, film itu diharap bisa segera menyapa penonton Indonesia secara luas.

“Saya tidak sabar untuk mempersembahkan film yang mengangkat isu trauma pasca kekerasan seksual ini ke seluruh penonton di Indonesia. Mengingat juga proses pembuatan film ini yang cukup panjang yaitu lima tahun,” kata Rayya Makarim, penulis sekaligus produser.

Selain tiga festival film di atas, 27 Steps of May yang diproduksi oleh Green Glow Picture dan didukung oleh Go Studio ini tayang perdana di Busan International Film Festival pada 2018. Sebelumnya, 27 Steps of May juga telah berkeliling menuju Cape Town Film Festival di Afrika Selatan, Goteborg Film Festival di Swedia, dan Plaza Indonesia Film Festival pada Februari lalu.

27 Steps of May telah menyabet tiga penghargaan, antara lain film terbaik di Golden Hanoman Award, serta kategori film panjang Asia terbaik di Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada November 2018.

Di Film Festival Tempo 2018, film ini juga mendapatkan dua penghargaan untuk Rayya Makarim sebagai Penulis Skenario Pilihan Tempo dan Raihaanun sebagai Aktris Pilihan Tempo pada ajang Film Festival Tempo 2018.

Sinopsis

27 Steps of May bercerita tentang seorang perempuan 14 tahun bernama May (Raihaanun) yang diperkosa oleh sekelompok orang. Ayah May (Lukman Sardi) sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat menjaga anaknya.

Akibat trauma yang sangat mendalam, May menarik diri sepenuhnya dari kehidupan. May menjalani hidupnya tanpa koneksi, emosi, dan kata-kata.

Di depan May, Ayahnya merupakan karakter lembut yang mengorbankan segalanya untuk memberikan kenyamanan dan perlindungan bagi anaknya. Di luar rumah -di ring tinju, dia adalah petinju yang bertarung untuk menyalurkan amarahnya.

May dan Ayahnya telah hidup seperti itu selama delapan tahun. Tapi semua berubah ketika May bertemu dengan seorang pesulap (Ario Bayu) melalui celah kecil di dinding kamarnya.

Pesulap itu mampu membangkitkan rasa penasaran May sekaligus emosinya. Dia menjadi cukup berani untuk mencari dan menghadapi perasaan, sensasi, dan ingatannya yang hilang. Dengan bantuan Pesulap, May berani membebaskan dirinya dan keluar dari trauma masa lalu.***

Bagikan: