Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Langit umumnya cerah, 16.3 ° C

Captain Marvel, Dilan 1991, dan Bioskop Kita Era 1990-an

Yusuf Wijanarko
CAPTAIN Marvel/MARVEL STUDIOS
CAPTAIN Marvel/MARVEL STUDIOS

Captain Marvel yang tayang Rabu 6 Maret 2019 melengkapi nuansa 1990-an di bioskop kita hari ini. Sebelumnya, atmosfer 1990-an sudah dibawa Dilan 1991.

Dalam sejumlah materi promonya yang bertebaran di jagat maya, kita sudah ketahui bahwa latar waktu dalam film Captain Marvel adalah pertengahan tahun 1990-an. Artinya, seluruh peristiwanya terjadi sebelum momen-monem dalam Iron Man, The Avengers, Thor, dan sejumlah film Marvel Cinematic Universe (MCU) lainnya.

Lantas di mana posisi film Captain Marvel di MCU? Jawaban sederhananya, film Captain Marvel akan memberi alasan kuat kenapa sang superhero baru sekarang tiba di bumi dan bersatu dengan anggota The Avengers yang tersisa guna melawan Thanos.

Captain Marvel tayang sebulan sebelum Avengers: Endgame agar penonton—terutama yang kurang paham dengan MCU—tak dibuat bingung dengan kekuatan super yang dimiliki Carol Danvers (Brie Larson).

CAPTAIN Marvel/MARVEL STUDIOS

Dengan kata lain, tak akan ada durasi Avengers: Endgame yang terbuang hanya untuk menjelaskan dari mana kekuatan super Carol Danvers berasal.

Dari peristiwa dalam film Captain Marvel sampai hilangnya setengah makhluk hidup di alam semesta karena jentikkan jari Thanos, Carol Danvers berada di luar arus utama cerita MCU selama sekira 24 tahun.

Panggilan pager Nick Fury dalam post-credit scene Avenger: Invinity War mengindikasikan Captain Marvel sedang tidak berada di bumi kala itu.

Film Captain Marvel memaparkan bahwa alasan dia meninggalkan bumi menunjukkan sisi kepahlawanannya. Ada nilai-nilai kepedulian, cinta kasih, dan ketulusan yang membuat dia pergi menjelajah alam semesta hingga entah ke mana selama 24 tahun.

Kisah Captain Marvel sejatinya sangat sederhana. Pencarian jati diri menuntun Carol Danvers menjadi salah satu makhluk paling kuat di MCU saat bumi berada di tengah perang antara dua ras alien.

Seiring terungkapnya masa lalu Carol Danvers, dia menyadari bahwa dia telah diperalat untuk tujuan yang keliru. Sampai akhirnya, dia menemukan makna eksistensi dirinya dan menentukan sikap terhadap perang tersebut.

Kisah itu diramu dalam skenario yang sayangnya terlalu datar untuk film MCU. Namun, kehadiran Nick Fury muda yang masih bermata dua membuat alur berwarna. Selain itu, segenap aspek budaya pop dari era 1990-an ditonjolkan dan membuat penonton merindu masa-masa ketika peri kehidupan belum sepraktis sekarang.

Kita diingatkan tentang bagaimana cara kita dulu menikmati film dalam format VHS/Betamax hingga cara memakai internet sebelum kelahiran Google.

Captain Marvel, meski secara tidak utuh, membawa penonton (berusia 30 tahun ke atas) menelusuri lagi memori tentang ketenangan sekaligus kerepotan kehidupan pradigital.

Ada dua post-credit scene di film Captain Marvel, yang pertama menunjuk ke masa depan, yang kedua menunjuk ke “masa lalu”.

Dilan 1991

Sepekan sebelum Captain Marvel, Dilan 1991 sudah menganeksasi layar dan memaksa bioskop kita menunda jadwal tayang film-film lain.

Dari judulnya saja, kita tahu bahwa latar waktu Dilan 1991 adalah awal era 1990-an di Bandung.

Menghadirkan nuansa 1990-an dalam bingkai gambar film bukanlah perkara mudah. Penata artisik dan editor Dilan 1991 telah bekerja baik dalam memajang properti, kostum, dan mengatur palet warna. Dilan 1991 sudah lebih dari cukup untuk dibilang autentik dengan Bandung era 1990-an.

Dilan 1991/MAX PICTURES

Bagi penonton yang tinggal, atau pernah tinggal, di Bandung pada era itu, sejumlah aspek dalam cerita Dilan 1991 menyentuh ranah personal dan pengalaman pribadi kala remaja.

Sementara bagi kaum milenial, Dilan 1991 merupakan lukisan hidup dari cerita-cerita yang selama ini kerap mereka dengar dari orangtua, kakak, maupun om dan tantenya.

Bioskop kita

Tak hanya di dalam studio, kehadiran Captain Marvel dan Dilan 1991 juga menggugah kenangan akan suasana bioskop kita pada era 1990-an.

Bioskop kala itu, yang rata-rata bukan berada di lantai paling atas mal, dipenuhi pelajar SMA yang masih memakai sergama sekolah. Beberapa di antaranya datang berpasangan, ada pula yang bergerombol.

Tempat duduk di lobi yang terbatas membuat mereka akhirnya harus rela duduk di lantai saat menunggu panggilan “Pintu teater telah dibuka”.

Pemandangan seperti itulah yang kini kembali hadir berkat Dilan 1991. Bedanya, kini suasananya tak seriuh dulu. Kebanyakan calon penonton sibuk menatap layar smartphone. Sementara dulu, gelak tawa terdengar di setiap sudut. Ditambah lagi riuhnya dingdong dan mesin-mesin permainan sejenisnya.

Barangkali juga kita lupa bahwa sebelum adanya monitor layar datar ukuran jumbo yang menampilkan trailer film, dulu bioskop memajang kartu bergambar adegan-adegan film dalam kotak kaca. Letaknya biasanya bersebelahan dengan poster filmnya.

Sementara itu, Captain Marvel telah menarik anak-anak datang ke bioskop. Ada yang memaksa orangtuanya menemani mereka, ada pula yang dibawa orangtuanya. Yang disebut kedualah biasanya membuat penonton lain terganggu.

Pada pertengahan 1990-an, ada suatu masa ketika anak-anak lazim terlihat di lobi bioskop. Televisi belum menjadi barang yang umum kala itu. Sehingga, menonton Space Jam atau Casper di bioskop menjadi hiburan spesial bagi anak-anak. Semua itu membuat kita menyadari bahwa bisokop bukan hanya milik orang dewasa.***

Bagikan: