Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Sedikit awan, 25.8 ° C

Pameran Foto Tafsir: Merekam Interaksi di Pasar Cihapit

Windy Eka Pramudya
Lewat medium fotografi, enam fotografer menggelar pameran bersama dengan tema besar Pasar Cihapit. Berlangsung di Los Tjihapit, Pasar Cihapit, Jalan Cihapit Kota Bandung, pameran berjudul Tafsir ini diadakan 22 Februari-22 Maret 2019.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR
Lewat medium fotografi, enam fotografer menggelar pameran bersama dengan tema besar Pasar Cihapit. Berlangsung di Los Tjihapit, Pasar Cihapit, Jalan Cihapit Kota Bandung, pameran berjudul Tafsir ini diadakan 22 Februari-22 Maret 2019.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

SEBAGAI ruang publik, pasar menciptakan beragam aktivitas. Tak hanya urusan transaksi jual beli, tapi juga interaksi antarmanusia di dalamnya. 

Seperti yang hadir di Pasar Cihapit, Jalan Cihapit Kota Bandung. Salah satu pasar tua di Kota Bandung ini menyimpan banyak cerita, termasuk orang-orang di dalamnya.

Lewat medium fotografi, enam fotografer menggelar pameran bersama dengan tema besar Pasar Cihapit. Berlangsung di Los Tjihapit, Pasar Cihapit, Jalan Cihapit Kota Bandung, pameran berjudul Tafsir ini diadakan 22 Februari-22 Maret 2019. 

Pameran Foto Tafsir menampilkan karya Bayu Wijanarko dari Kopi Los Tjihapit. Selain itu, ada pula foto karya Adam Rizki, Armand Muttaqin, Aldi Riyadi Ramadhan, Siti Salsabila Ghina dan Panji Prabowo dari progam Sakola Rebo (Sare). 

Program Sare diadakan selama tiga bulan dengan mentor Tata Kartasudjana dan Fitra Sujawoto. Pameran Bayu dan progam Sare digabungkan karena terikat isu yang sama, yakni Pasar Cihapit. 

PAMERAN Tafsir di Pasar Cihapit, Kota Bandung.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

Pada kata pengantar, Sandi Jaya Saputra mengungkapkan, para peserta pameran memang bukan yang pertama memotret Pasar Cihapit. Akan tetapi, Bayu menafsir Pasar Cihapit dari cara pandangnya yang sehari-hari berada di Pasar Cihapit. 

Sementara itu, siswa program Sare menghasilkan karya dari proses mentoring setiap minggunya. Ini adalah cara memahami persoalan dengan komprehensif.

"Mereka bukan hanya memburu foto, lalu diklaim sebagai foto human interest yang jauh dari konteksnya. Biasanya, akhirnya menjadi foto yang eksploitatif terhadap kemanusiaan," kata Sandi.

Menurut Sandi, tajuk Tafsir untuk pameran ini adalah upaya mereka untuk menerjemahkan realitas yang mereka sangat pahami. Mereka, kata Sandi, bukan seperti golongan fotografer jalanan yang memotret bergerombol, asyik sendiri, dan tercerabut dari realitasnya.

"Pameran Tafsir dihasilkan dari proses inkubasi. Ini adalah cara memahami dan mengetahui semua aspek realitas, karena fotografer bisa saja memiliki banyak pengetahuan, tetapi sedikit pemahaman. Oleh karena itu, pameran yang dihasilkan dari proses inkubasi ini diharapkan dapat menjadi cara untuk mengetahui dan memahami proses menghasilkan karya fotografi yang bernas," ujar Sandi.

PAMERAN Foto Tafsir di Pasar Cihapit, Kota Bandung.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

Bicara banyak hal

Di pameran Tafsir, setiap karya foto berbicara tentang berbagai hal. Para peserta membuat karya dalam bentuk foto esai yang berkaitan dengan Pasar Cihapit. 

Misalnya Bayu Wijanarko yang membuat 60 foto dalam judul Manusia, Ruang dan Benda. Bayu menyebutkan, dia menafsirkan ruang, benda dan manusia yang ada di Pasar Cihapit pada akhir 2018. 

Proses tafsir Bayu menggunakan sudut pandang keseharian dia sebagai pedagang warung kopi di Pasar Cihapit sejak empat tahun belakangan ini. Objek yang Bayu foto antara lain juru parkir di Pasar Cihapit, sudut-sudut kios, para pengunjung, suasana kios pakaian di dalam pasar dan penjaja buku teka-teki silang.

Suasana pasar yang sepi menjadi bidikan Armand Muttaqin dalam judul Kosong. Lewat foto-fotonya, Armand mengeksplorasi sudut-sudut Pasar Cihapit berdasarkan interpretasinya terhadap makna kosong.

Di beberapa karya, Armand sengaja membungkus fotonya dalam balutan minim cahaya.

Dalam judul Rubik, ada foto karya Adam Rizki Taufik. Rubik merupakan permainan berbentuk kubus dengan enam sisi yang memiliki warna berbeda. Bentuk dan warna rubik dapat diselaraskan ataupun diacak. 

PAMERAN Tafsir.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

Lewat foto-fotonya, Adam menganalogikan Pasar Cihapit seperti rubik yang memiliki keanekaragaman manusia, benda, dan ruang yang dapat dikolaborasikan. 

Kisah tentang penghuni pasar hadir dalam foto berjudul Bosan karya Aldi Riyadi. Untuk pameran Tafsir, Aldi memotret sejumlah sosok di pasar yang menunjukan rasa bosan dengan berbagai ekspresi dan tingkah laku. 

Misalnya, seorang pria yang tertidur di dalam kios dan seorang perempuan yang sedang menatap layar telefon genggamnya.***

Bagikan: