Pikiran Rakyat
USD Jual 14.603,00 Beli 14.303,00 | Sebagian cerah, 28 ° C

Pidi Baiq Menjawab 14 Pertanyaan tentang Dilan

Windy Eka Pramudya
PIDI Baiq/WINDY EKA PRAMUDYA/PR
PIDI Baiq/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

KREATOR Dilan, Pidi Baiq tidak pernah menduga karakter yang dia ciptakan menjadi fenomena. Sejak dirilis dalam bentuk novel berjudul Dilan 1990 (2014), kisah Dilan dan Milea membuat siapapun penasaran dan jatuh hati. Respons positif pembaca itu membuat Pidi Baiq melanjutkan kisah Dilan lewat novel Dilan 1991 (2015) dan Milea (2016).

Pada 2018, rumah produksi Max Pictures merilis film Dilan 1990 yang dibintangi Iqbaal Ramadhan sebagai Dilan dan Vanesha Prescilla menjadi Milea.

Film itu menjadi juara box office industri film Indonesia dengan meraih lebih dari 6,3 juta penonton. Kesuksesan itu membawa Max Pictures melanjutkan kisahnya ke film Dilan 1991.

PIDI Baiq/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

Masih dibintangi Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla, film yang disutradarai Pidi Baiq bersama Fajar Bustomi tersebut akan tayang Kamis 28 Februari 2019 nanti.

Sebelum tayang reguler, Dilan 1991 akan diputar pada Hari Dilan, Minggu, 24 Februari 2019 di seluruh bioskop di Kota Bandung. Pada hari itu pula, Taman Dilan yang terletak di lingkungan GOR Saparua Kota Bandung akan diresmikan. Selain meresmikan Taman Dilan, para pemain juga akan menggelar konvoi kendaraan berkeliling Kota Bandung.

Bagaimana Pidi Baiq yang juga dikenal sebagai Imam Besar The Panas Dalam, sebagai kreator Dilan, melihat sejumlah rencana untuk karakter ciptaannya itu? Setelah film Dilan 1991 dan Milea, apa rencana Pidi Baiq selanjutnya?

Berikut ini wawancara Pikiran Rakyat dengan Pidi Baiq atau Ayah di Kantin Nasion The Panas Dalam, Jalan Ambon Kota Bandung, Kamis 21 Februari 2019.

1. Apakah pernah mengira kalau Dilan akan sesukses ini?

Aneh rasanya kalau saya mengira karya saya akan laku atau tidak. Saya enggak pernah memikirkan laku atau tidak.

Saat berkarya, saya lebih memikirkan, ketika hujan besar, istri dan anak saya di mana. Dilan itu buku jelek, makanya saya jual, kalau bagus, enggak bakal saya jual.

2. Apa tanggapan Ayah Pidi Baiq saat tahu pemerintah daerah akan membuatkan Taman Dilan?

Setiap orang memiliki keinginan dan harapan. Ketika kemudian pemerintah daerah lewat Kang Emil (Ridwan Kamil) mau mebikinkan taman, masa saya bilang enggak boleh.

Karya saya sudah jadi milik masyarakat. Ketika mau dibikin taman, terserah. Saya membebaskan karya saya dibuat ke berbagai bentuk. Lagipula ada taman atau tidak, saya tetap hidup bahagia bersama keluarga saya.

3. Sejauh apa Ayah Pidi Baiq terlibat dalam proses pembuatan Taman Dilan?

Dengan adanya taman, saya berterima kasih. Bentuk terima kasih saya wujudkan dengan menyumbang materi, bisa jadi sejumput rumput (tertawa). Kalau diminta, ya saya menyumbang, bentuknya bisa apa saja.

4. Apa tanggapan Ayah Pidi Baiq dengan dicetuskannya Hari Dilan pada 24 Februari 2019?

Hari Dilan bukan berarti berkala setiap tahun, tapi pada 24 Februari itu Dilan ada di seluruh Bandung. (Dalam) pandangan masyarakat yang sempit, berpikirnya akan setiap tahun padahal seperti Persib Day saja.

5. Menurut Ayah Pidi Baiq sebagai sutradara dan penulis, apa perbedaan paling mendasar Dilan 1990 dan Dilan 1991?

Ceritanya berbeda tentu saja. Pokoknya sesuai buku. Memang tidak sepenuhnya seperti buku karena ada keterbatasan durasi. Namun, ceritanya tidak melenceng dari buku.

PIDI Baiq/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

6. Setelah melihat hasil akhir film Dilan 1991, puas tidak?

Tidak ada yang sempurna. Akan tetapi, ini hasil dari kami yang bersungguh-sungguh.

Saya puas dan mudah-mudahan tidak jadi sombong.

Ah, saya mah baru bikin film, orang mah bikin pesawat ulang-alik biasa saja.

7. Sebagai sutradara di Dilan 1991, sulit tidak mengarahkan lagi Iqbaal dan Vanesha? Soalnya, setelah Dilan 1990, jedanya cukup lama.

Iqbaal dan Vanesha itu sangat menghormati saya. Mereka menunjukan rasa hormat dengan profesionalisme kerja.

Saya berterima kasih. Mereka orang yang jenius. Terutama Vanesha yang belum pernah bermain film sebelumnya. Vanesha melakukannya dengan intuisi dan hasilnya lebih natural.

Vanesha itu memang seperti Milea. Mereka itu enggak banyak action. Banyak yang loba action, bikin geuleuh.

8. Banyak yang penasaran tentang siapa sebenarnya Dilan dan Milea, apakah ada di kehidupan nyata Ayah Pidi Baiq?

Saya, analoginya kayak Leonardo Da Vinci, saat dia bikin karya, masa dia menjelaskan karya itu.

Saya bukan pembuat teka-teki silang dengan kunci jawaban di belakang. Biarkan orang-orang punya penasaran tentang siapa Dilan. Ini akan lebih indah daripada mereka tahu siapa Dilan.

9. Setelah menyelesaikan film Dilan 1991 dan Milea, apa karya yang sedang dibuat?

Saya sedang menyelesaikan buku Helen dan Sukanta, Julia, Manuskrip Amsterdam, Di Tepi Sungai Kruoja, Ancika Mehrunisa Rabu (pacar kedua Dilan, setelah Milea), dan Bunda Hara.

Saat menulis ini, keinginan main lebih tinggi. Jadi, semua tak kunjung selesai. Teman-teman saya mengganggu semua. Belum lagi yang mengajak futsal, nge-band, dan yang pinjam uang.

10. Setiap menulis, biasanya mendapat inspirasi dari mana?

Saya bukan tipe orang yang harus ke gua atau gunung untuk mencari inspirasi. Saya adalah orang yang lakukan saja, nanti inspirasi akan muncul di tengah perjalanan.

11. Dari semua buku yang sedang ditulis, sudah adakah yang tertarik untuk memfilmkan?

Semua buku ini sepertinya akan difilmkan. Saya tidak pernah menolak jika buku saya akan difilmkan karena saya mendukung orang yang mau berkarya.

Akan tetapi, syaratnya saya harus ikut. Saya trauma dengan buku-buku yang difilmkan tidak sesuai dengan bukunya. Biasanya saya memilih jadi sutradara dan penulis.

12. Tahun ini, selain Dilan 1991 ada film apa lagi yang akan rilis?

Film Koboy Kampus rencananya Juni 2019, sekarang masih diedit. Selain itu, Helen dan Sukanta juga mau syuting. Pemainnya masih dicari.

13. Biasanya Ayah Pidi Baiq ikut dalam proses mencari pemain?

Saya dibantu teman-teman yang bisa casting, kecuali saat memilih Vanesha menjadi Milea, itu keputusan saya langsung. Setelah teman-teman tim casting punya pilihan, saya baru memutuskan siapa yang saya anggap cocok. Saya lacak rekam jejaknya. Setelah saya yakin, baru memilih.

14. Apa yang diharapkan dari film Dilan 1991?

Harapan saya, pas disetel, filmnya ada. Daripada pas penonton di bioskop, filmnya enggak ada, penontonnya kecewa. Jangan sampai mati listrik juga.***

Bagikan: