Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 13.985,00 | Sedikit awan, 21.1 ° C

Nyanyi Sunyi Revolusi: Tentang Kisah Amir yang Getir

Muhammad Irfan
Nyanyi Sunyi Revolusi.*/MUHAMMAD IRFAN/PR
Nyanyi Sunyi Revolusi.*/MUHAMMAD IRFAN/PR

AMIR (diperankan oleh Lukman Sardi) menolak tunduk. Baginya sekat kesukuan menjadi sebab mengapa persatuan Indonesia sulit terwujud. Dia berbicara tentang hubungannya dengan gadis Jawa Ilik Sundari (Sri Qadaratin) yang tak direstui.

Sebagai keluarga bangsawan dari Kesultanan Langkat, Amir tak diizinkan menikahi perempuan yang bukan bangsawan, Jawa pula. Tetapi lebih dari sekadar urusan asmara, keluh kesah Amir menggambarkan idenya tentang nasionalisme.

Adegan ini merupakan satu bagian dari pementasan teater tentang tokoh sastrawan Indonesia, Amir Hamzah. Bertajuk "Nyanyi Sunyi Revolusi", pementasan yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu, 2 Februari 2019, dan Minggu, 3 Februari 2019 lalu ini memang bertutur dengan kisah hidup sang begawan sastra di era Pujangga Baru itu.

Tentang pembangunan pemikirannya, kisah cintanya, berkompromi dengan adat, hingga kematiannya yang terbilang tragis.

Digarap dengan detil oleh penyusun naskah Ahda Imran dan sutradara Iswadi Pratama, "Nyanyi Sunyi Revolusi" dibuka oleh kisah Amir kecil belajar silat. Sebagai bangsawan, tak heran kalau Amir dituntut segala bisa. Mulai bela diri hingga pemahaman agama yang tinggi. Parang Mandor Yang Wijaya lah yang menggemblengnya.

Beralur maju mundur, adegan Amir kecil lantas terbang ke situasi ketika Amir justru sudah tiada. Dibuka lewat perbincangan istri Amir, Tengku Puteri Kamaliah (Dessy Susanti) dan putrinya Teungku Tahura (Prisia Nasution), adegan ini bercerita tentang kisah hubungan Amir dengan Tengku Puteri Kamaliah, istri sekaligus anak pamannya Raja Kesultanan Langkat, Sultan Mahmud. 

Nyanyi Sunyi Revolusi.*/MUHAMMAD IRFAN/PR

Kata Tengku Puteri Kamaliah, Amir sebenarnya punya cinta abadi yaitu Ilik, perempuan Jawa yang Amir kenal saat berkuliah di AMS Solo. Puteri Kamaliah menyadari itu sejak lama, namun dia tak berkeberatan bahkan pernah berpikiran mengajaknya pergi haji ke Mekkah. Bertiga: Dirinya, Ilik, dan Amir.

"Aku akan minta Ilik menikah dengan Amir. Kalau Tante Ilik-mu itu tak mau jadi isteri kedua, aku akan biarkan mereka pulang, sementara aku menetap di Mekkah," kata Puteri Kamaliah kepada Tengku Tahura.

Tapi harapan tinggal harapan. Niat Tengku Puteri Kamaliah memberi suaminya cinta sejati tak pernah terwujud. Revolusi sosial 1946 keburu merunggut nyawa Amir, hal yang sebenarnya tak pernah Puteri Kamaliah percaya.

Adegan kemudian beralih ke masa Amir memadu kasih dengan Ilik. Cinta yang mereka bangun memang akhirnya harus kandas seiring Amir yang bersepakat pada adat dan meninggalkan Ilik.

Amir manut pada titah pamannya untuk menikah dengan puterinya karena merasa sungkan mengingat pamannya lah yang membiayai kuliahnya di Jawa sepeninggal ayah dan ibunya. Sementara pernikahan Amir dengan Puteri Kamaliah merupakan strategi Sultan Mahmud yang saat itu pro-Belanda untuk menjauhkan Amir dari dunia pergerakan yang digelutinya semenjak mendapat pendidikan di Jawa.

Kisah kasih Ilik dan Amir pun usai. Kisahnya hanya berlanjut di khayal Amir terdalam yang digambarkan oleh sutradara Iswadi Pratama dengan cukup surealis. Adegan ini mengulas Amir dari sudut pandang Ilik dan memutar kembali adegan Ilik-Amir dengan Tengku Puteri Kamaliah yang menangis di satu sudut panggung.

Bagian ini diakhiri dengan Amir yang berdiri di tengah dengan Ilik di sisi kanan sementara Puteri Kamaliah di sisi kiri, serupa persimpangan dalam kebimbangan.

Adegan pun membawa kisah Amir dalam sebuah pusaran amuk revolusi 1946 yang digerakkan kelompok laskar untuk menarik para bangsawan dari tahtanya. Satu per satu para tengku dikabarkan hilang yang digambarkan dengan kebimbangan Puteri Kamaliah.

Sadar akan bahaya yang mengancam, Amir pun mengaku pasrah dan hanya berpesan agar tiada dendam apapun yang terjadi. Tengku Puteri Kamaliah menyelematkan diri, Amir dibawa laskar untuk diadili.

Amir menjadi salah satu korban yang diculik kala laskar rakyat menyerbu Istana Langkat. Amir kemudian ditahan, disiksa, dan meregang nyawa setelah dipenggal oleh mentor masa kecilnya sendiri Parang Mandor Yang Wijaya. Kematian yang menjadi titik perpisahan sang begawan sastra pada Ilik, cinta sejatinya, Tengku Puteri Kamilah, istri yang dinikahi karena kepentingan politik kolonial, dan putrinya Tengku Tahura yang mewarisi beban masa lalu dan kelak menyelesaikannya satu per satu.

Nyanyi Sunyi Revolusi.*/MUHAMMAD IRFAN/PR

Produser pementasan dari Titimangsa Production, Happy Salma menyebut sudah lama dirinya jatuh hati pada sajak Amir Hamzah yang syahdu namun bisa mengungkapkan banyak lapisan baru pada karya puisi di era Pujangga Baru. Apalagi Amir juga punya kontribusi besar dalam mendirikan republik ini.

“Sejak sekolah di AMS Solo, Amir sudah aktif dalam berbagai pergerakan kemerdekaan. Dia bergabung dalam Jong Soematera dan Indonesia Moeda yang menyuarakan nasionalisme dan perlawanan terhadap kolonial Belanda,” kata Happy.

Tetapi kisah hidup Amir memang terbilang tragis. Misalnya kesedihan cinta yang diputuskan oleh kolonial yang bersembunyi di balik adat. “Juga kematiannya yang menyedihkan di tengah revolusi kemerdekaan,” kata dia.

Sementara itu, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian menyebut Amir Hamzah merupakan sosok penting di dunia sastra Indonesia. Kecintaannya kepada Bahasa Indonesia juga diperlihatkan dengan dukungannya kepada Sumpah Pemuda yang baru berumur dua tahun dan komitmennya untuk menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari.

“Kiprah Amir Hamzah inilah yang harus disebarluaskan kepada generasi saat ini. Bahwa bahasa Indonesia melalui proses yang tidak mudah untuk menjadi bahasa pemersatu seperti yang kita kenal saat ini,” kata Adrian.

Penyusun naskah Ahda Imran menyebut riset untuk pementasan ini diambil dari sejumlah literatur terutama karya NH Dini berjudul “Amir Hamzah, Pangeran dari Seberang” dan dikerjakan dalam waku kurang lebih tiga bulan. Menurut Ahda, intisari dari kisah pentas ini adalah sebuah ziarah kultural akan sosok Amir, penggalian kisah NH Dini, dan realita kekinian.

"Realitas yang sedang dipenuhi oleh para pemuja, serta pembenci. Ketika perbedaan mudah sekali menerbitkan kebencian, ketika berkesumat jauh lebih mudah ketimbang mencintai dan menyayangi,” kata Ahda.

Dia pun menambahkan, lewat tokoh Amir Hamzah, Tengku Kamaliah, Tengku Tahura, serta Ilik Sundari, cinta dan keikhlasan itu hadir dan dipertaruhkan, walaupun mereka harus membayarkannya dengan duka, rasa kehilangan, bahkan kematian.

"Di tengah suasana yang mudah sekali membuat setiap orang menjadi pembenci, cinta dan keikhlasan pada akhirnya memang selalu menjadi sebuah nyanyi sunyi," ucap dia.***

Bagikan: