Pikiran Rakyat
USD Jual 14.331,00 Beli 14.031,00 | Umumnya berawan, 23 ° C

Nyanyi Sunyi Revolusi, Kisah Penyair Amir Hamzah

Windy Eka Pramudya
Happy Salma.*/DOK. Image Dynamics
Happy Salma.*/DOK. Image Dynamics

MENGANGKAT kisah hidup penyair Amir Hamzah, pertunjukan teater Nyanyi Sunyi Revolusi akan digelar 2-3 Februari 2019 di Gedung Kesenian Jakarta. Pertunjukan yang digagas Titimangsa Foundation dan Bakti Budaya Djarum Foundation ini merupakan  adaptasi dari karya sastra Indonesia.

Sosok Amir Hamzah merupakan salah satu keluarga bangsawan Melayu Kesultanan Langkat. Dalam kesusastraan Indonesia, posisi Amir Hamzah sangat penting. Ini tergambar lewat kumpulan puisinya Nyanyi Sunyi (1937) dan Buah Rindu (1941).

Kritikus sastra HB Jassin menyebut Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru. Selain sebagai penyair, Amir Hamzah juga dikenal sebagai pejuang sehingga ia mendapat predikat pahlawan nasional.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian mengungkapkan, Amir Hamzah merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan bahasa Indonesia. Kecintaan dia pada bahasa Indonesia dapat dilihat dari dukungannya kepada Sumpah Pemuda.

Selain itu, dia juga berkomitmen untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai pertemuan dan kehidupan sehari-hari.

"Kiprah Amir Hamzah harus disebarluaskan kepada generasi saat ini. Bahasa Indonesia melalui proses tidak mudah untuk menjadi bahasa pemersatu seperti yang kita kenal saat ini. Melalui pementasan ini, kami berharap masyarakat Indonesia menjadi lebih bangga pada bahasanya dan khazanah sastra Indonesia," tutur Renita lewat pos-el, Selasa, 22 Januari 2019.

Produser pementasan dari Titimangsa Foundatio, Happy Salma mengaku, dia merupakan penggemar puisi-puisi Amir Hamzah. Menurut Happy, puisinya penuh dengan kesenduan, tetapi juga dengan kuat mengungkapkan banyak lapisan baru dalam karya puisi pada jaman itu.

Selain sebagai penyair, Amir Hamzah juga punya peran besar dalam lahirnya republik. Saat masih sekolah di AMS Solo, Amir sudah aktif bersama teman-teman sekolahnya dalam berbagai perkumpulan pemuda seperti Jong Sumatera.

Selain itu, Amir juga tergabung dalam perkumpulan Indonesia Moeda yang menyuarakan kesadaran melawan kolonialisme Belanda.

"Meskipun berprestasi, jalan hidup Amir sesungguhnya sangat tragis. Kesedihan cinta yang diputuskan politik kolonial yang bersembunyi di balik adat, juga kematiannya yang menyedihkan di tengah revolusi kemerdekaan," ungkap Happy.

Happy menyebutkan, riset naskah Nyanyi Sunyi Revolusi banyak bersumber dari buku karya NH Dini berjudul Amir Hamzah, Pangeran dari Seberang. Pementasan ini juga salah satunya sebagai bentuk hormat dari Titimangsa Foundation untuk NH Dini yang baru berpulang, Desember 2018.

"Kisah hidup Amir Hamzah terceritakan sangat apik dalam karya NH Dini. Saya selalu mengagumi tulisan NH Dini. Kekaguman saya pada Amir Hamzah dan NH Dini inilah yang mendorong saya untuk menampilkan Nyanyi Sunyi Revolusi," kata Happy.

Pemeran pertunjukan Nyanyi-nyanyi Revolusi.*/DOK. Image Dynamics

Naskah Nyanyi Sunyi Revolus ditulis Ahda Imran, sedangkan Iswadi Pratama bertindak selaku sutradara. Iswadi adalah sutradara Teater Satu Lampung. Pementasan ini juga didukung tim artistik yang solid yaitu Iskandar Loedin sebagai penata artistik, Retno Damayanti sebagai penata kostum, Aktris Handradjasa sebagai penata rias, dan Jaeko sebagai penata musik.

Menurut penulis naskah Ahda Imran, kekuatan karya Amir Hamzah terletak pada estetika bahasa yang merdu dan menggali kata dari berbagai khazanah bahasa lama, terutama Melayu. Karyanya hadir dengan makna yang lebih segar, baru, dan sesuai dengan semangat zaman saat itu. Ketika modernisme kian tumbuh jadi kesadaran dalam sastra dan budaya, sajak-sajak Amir memberi darah baru pada yang lama.

Pertunjukan Nyanyi Sunyi Revolusi didukung para aktor berdedikasi yang ingin terus berkembang. Pemeran Amir Hamzah dipercayakan kepada Lukman Sardi, sedangkan Prisia Nasution akan berperan sebagai Tengku Tahura.

Dalam pentas kali ini, selain pemain yang merupakan pemain film, tergabung juga pemain teater yang sudah matang dan bermain dalam banyak lakon. Seperti Sri Qadariatin akan berperan sebagai Iliek Sundari, dan Dessy Susanti berperan sebagai Tengku Kamaliah.

Pertunjukan Nyanyi Sunyi Revolusi berkisah tentang Amir Hamzah dalam hubungannya dengan percintaan terhadap manusia dan negaranya. Semasa Amir menempuh pendidikan di Solo, ia menjalin kasih dengan seorang puteri Jawa, Iliek Sundari. 

Di tengah kemesraan mereka itulah Amir kehilangan ibunya, lalu ayahnya setahun kemudian. Biaya studinya lalu ditanggung oleh Sultan Mahmud, Sultan Langkat.

Paman Amir sekaligus raja kesultanan Langkat itu sejak awal tak menyukai aktivitas Amir di dunia pergerakan. Apa yang dikerjakan Amir dianggap bisa membahayakan kesultanan. 

Untuk menghentikan aktivitas Amir di dunia pergerakan, ia memanggil Amir pulang ke Langkat untuk dinikahkan dengan putrinya, Tengku Puteri Kamaliah. Amir bisa saja menolak, tapi ia sadar betapa ia telah berhutang budi pada Sultan Mahmud. Amir dan Iliek akhirnya dipaksa untuk menyerah, menerima kenyataan bahwa cinta kasih mereka harus berakhir. Meski keduanya masih kuat saling mencintai.***

Bagikan: