Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Cerah berawan, 28.6 ° C

Sembelit pada Bayi, Tanda-tanda dan Faktor Penyebabnya

Endah Asih Lestari
Ilustrasi/CANVA
Ilustrasi/CANVA

TANDA-tanda bayi sembelit memang perlu diwaspadai. Sebab, hal tersebut mungkin saja menandakan adanya kondisi serius yang mendasarinya.

Apalagi, gangguan sistem pencernaan pada bayi sering kali sulit untuk dikenali. Dengan mengetahui tanda-tanda dan penyebab bayi terkena konstipasi atau sembelit, akan membantu bayi mendapat penanganan tepat yang dibutuhkannya.

Salah satu tanda bayi mengalami kondisi sembelit atau konstipasi atau susah BAB, yaitu jika ia tidak BAB minimal tiga kali dalam seminggu. Ciri lain yang mudah dilihat adalah feses yang keras dan sulit keluar. Kemungkinan lain adalah ketika dia mengeluarkan kotoran yang terlihat seperti bongkahan-bongkahan kecil dan keras, sehingga bayi terlihat kesakitan. 

Dokter Spesialis Anak Ariantana menyebutkan, ada beberapa fase usia anak yang rentan mengalami sembelit. Pertama, adalah ketika berusia di bawah enam bulan, atau periode pemberian ASI ekslusif. 

"Ada masanya bayi yang diberikan ASI ekslusif tidak BAB selama lima hari berturut-turut. Bahkan, sampai dua minggu," ucap Ariantana di Bandung, Kamis 16 Januari 2019. 

Bayi ASI eksklusif jarang sembelit

Dokter yang berpraktik di RSIA Limijati Bandung dan RS Santosa Kebonjati ini mengatakan, kondisi tersebut masih dikatakan normal. Asalkan, bayi masih bisa buang angin, gerakan bayi masih aktif, serta masih minum ASI dalam jumlah yang normal.

Namun, ada hal yang harus diingat. Jika kondisi itu berulang terus, maka orang tua harus mulai mewaspadainya. 

"Kalau hanya satu atau dua kali masih normal. Tapi kalau terus berulang, harus langsung datang ke dokter untuk diketahui pasti penyebabnya," ucap Ariantana. 

Meskipun demikian, bayi yang mendapatkan ASI ekslusif terbilang paling jarang mengalami sembelit. Penyebabnya, nutrisi ASI paling mudah dicerna dan diserap oleh tubuh, serta mengandung zat laksatif yang dapat mengencerkan feses. 

Di bawah 6 bulan, sembelit juga seringkali terjadi karena pemberian susu formula yang tidak tepat. Susu formula memiliki komposisi nutrisi yang berbeda dengan ASI, sehingga lebih sulit dicerna. 

Hal ini kemudian menyebabkan feses bayi lebih keras, sehingga bayi segan buang air besar dan mengalami sembelit. Atau, kondisi sembelit pada bayi bisa juga disebabkan karena takaran susu formula yang tidak tepat. 

Ilustrasi/CANVA

Fase MPASI

Kondisi sembelit pada bayi juga seringkali terjadi pada saat dilakukan pemberian MPASI. Terutama, saat bayi mengalami transisi dari hanya mengonsumsi cairan atau ASI ke makanan dengan tekstur yang lebih padat. 

Hal ini dimungkinkan terjadi karena sistem pencernaan yang belum terbiasa dengan kehadiran makanan padat di dalam lambung. Selain itu, perhatikan pula faktor-faktor penambah risiko, misalnya jenis makanan padat yang minim serat.

"Saat sedang MPASI, sangat dianjurkan untuk memberikan bayi banyak cairan, serta makanan yang mengandung serat dan buah," ujar Ariantana. 

Maka dari itu, pada fase MPASI, bayi juga dianjurkan untuk menjajal menu-menu yang berbeda dalam kurun waktu tertentu. Hal itu dilakukan untuk mengetahui apakah makanan tersebut menyebabkan alergi atau masalah pencernaan pada bayi. 

Jika sembelit pada bayi tidak kunjung membaik, pemberian obat laksatif berupa pencahar atau pelembut tinja juga bisa dilakukan. Namun, perlu diperhatikan bahwa obat-obatan tersebut hanya boleh diberikan setelah berkonsultasi dengan dokter.

Ilustrasi/REUTERS

Tumbuh gigi, alergi, atau penyakit dalam

Selain kondisi-kondisi tersebut, bayi juga rentan mengalami sembelit ketika mengalami kekurangan cairan. Akibatnya, feses menjadi kering atau keras sehingga sulit dikeluarkan. 

Selain itu, terkadang sebagian bayi juga sulit menerima asupan makanan dan minuman, karena kondisi mulut yang sedang bermasalah. Misalnya, ketika terjadi pertumbuhan gigi susu atau adanya sariawan. 

Hal itu juga seringkali terjadi, karena anak malas minum sehingga menyebabkan dehidrasi. Misalnya, anak sedang mengalami batuk, pilek, infeksi telinga, hingga infeksi tenggorokan. 

Kondisi medis tertentu juga dapat bisa menyebabkan terjadinya sembelit pada bayi. Pada usia bayi di bawah 6 bulan, beberapa penyebab sembelit yang bisa terjadi misalnya karena kelainan organ saluran cerna sejak lahir, alergi susu sapi, penyakit celiac, kadar kalsium terlalu tinggi dalam darah, hipotiroid, dan masih banyak lagi. 

Ariantana menyebutkan, bisa juga terjadi karena kondisi usus yang terlipat. Untuk itu, harus langsung dilakukan tindakan sesegera mungkin. 

Cara mewaspadainya, adalah ketika perut bayi kembung dan berwarna merah, diikuti dengan bayi yang sangat rewel. Apalagi, ketika bayi mengalami diare yang disertai dengan darah. "

Meskipun baru satu hari tidak BAB namun menampakkan gejala demikian, sebaiknya langsung dibawa ke dokter untuk mengetahui penyebabnya," ucap Ariantana.***

Bagikan: