Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya berawan, 24.5 ° C

10 Years Challenge Diduga Sebagai Konspirasi yang Bisa Membahayakan Data Pribadi Anda

Yusuf Wijanarko
10 Years Challenge.*/WIRED
10 Years Challenge.*/WIRED

JAKARTA, (PR).- Praktisi teknologi dari Amerika Serikat, Kate O'Neill berpendapat bahwa tantangan yang sedang populer di media sosial yaitu 10 Years Challenge bisa saja bertujuan melatih algoritma mesin yang berhubungan dengan teknologi pengenal wajah.

"Saya tidak bermaksud mengklaim ini berbahaya. Saya tahu, skenario tentang pengenal wajah ini masuk akal dan menjadi indikasi bahwa tren ini harus diperhatikan. Perlu diperhatikan kedalaman dan keluasan data pribadi yang kita bagikan tanpa syarat," ujar O'Neill di situs Wired, Rabu 16 Januari 2019.

10 Years Challenge meminta warganet mengunggah dua foto yang berjarak 10 tahun.

Argumen O'Neill adalah, untuk melatih algoritma mengenai pengenal wajah, mesin (kecerdasan buatan) butuh banyak data mengenai karekteristik wajah seiring pertambahan usia.

Mesin bisa saja membaca foto profil yang diunggah ke Facebook, misalnya. Namun, cara seperti itu kurang efektif. Pengguna bisa tidak menggunakan wajah mereka di foto profil atau mereka memasang foto yang bukan berasal dari tahun tersebut.

Agar lebih mudah, foto diberi label foto dulu dan sekarang agar mesin dapat mempelajari perubahan yang terjadi pada wajah selama 10 tahun.

Cara mengumpulkan sampel penelitian pun dibuat lebih menarik dengan membuatnya sebagai tantangan yaitu 10 Years Challenge. Dalam tantangan, orang cenderung mematuhi aturan dengan benar-benar memberikan foto yang berjarak sepuluh tahun. Demikian dilaporkan Antara.

Data yang terkumpul dari10 Years Challenge akhirnya lebih spesifik, dan benar-benar berjarak 10 tahun. Algoritma pengenal wajah pun sudah terlatih dengan canggih, memanfaatkan tanda tagar yang digunakan dalam tantangan 10 Years Challenge. Mereka bisa memilah mana sampel yang akan digunakan oleh mesin.

Misalnya, jika ada foto kucing 10 tahun lalu dengan yang sekarang, mesin akan mengabaikannya.

Berbahayakah?

Pertanyaannya, apakah berbahaya jika foto kita digunakan untuk melatih algoritma mesin? Menurut O'Neill, warganet  tidak perlu begitu khawatir dengan 10 Years Challenge. Dia memberikan contoh kasus bagaimana data tersebut digunakan. Contoh paling mudah, sedang, dan kompleks.

Contoh kasus termudah, teknologi pengenal wajah dapat digunakan untuk mencari anak yang hilang. Jika anak tersebut hilang selama beberapa lama, mungkin akan ada yang berubah dari wajahnya.

Algoritma yang memiliki pertcepatan pertambahan umur yang tepercaya dapat membantu kasus-kasus seperti itu.

Yang kedua, pengenal usia bisa jadi digunakan untuk menargetkan suatu iklan. Diperkirakan, akan muncul iklan jenis baru yang melibatkan kamera dan sensor. Iklan tersebut akan terkirim sesuai dengan demografi kelompok usia yang didapat dari 10 Years Challenge.

Untuk contoh yang lebih kompleks, O'Neill mengambil ilustrasi pengenal wajah secara terkini atau real time yang diperkenalkan Amazon pada 2016 lalu.

Mereka menjual teknologi tersebut ke kantor pemerintahan dan penegak hukum.

Meski berguna untuk mengusut kasus kriminal, banyak yang mengkhawatirkan teknologi pengenal wajah juga digunakan untuk melacak orang-orang yang tidak bersalah.

American Civil Liberties Union dan beberapa pemegang saham serta karyawan di Amazon meminta perusahaan menghentikan penjualan layanan tersebut.

Melalui analisisnya, O'Neill meminta agar pelaku bisnis menggunakan data konsumen dengan sebaik-baiknya. Sementara bagi konsumen, mereka diminta memperlakukan data secara bijak.***

Bagikan: