Pikiran Rakyat
USD Jual 14.291,00 Beli 13.991,00 | Cerah berawan, 26.2 ° C

Mengenal Sindrom Guillain Barre

Eva Nuroniatul Fahas
Ilustrasi.*/CANVA
Ilustrasi.*/CANVA

JIKA seseorang secara tiba-tiba mengalami kelemahan otot yang simetris kiri dan kanan yang didahului dengan infeksi seperti flu atau diare, kemudian terjadi kesemutan di ujung-ujung jari tangan dan kaki, diduga ia mengalami sindrom guillain barre (SGB). Penyakit itu menyerang saraf tepi, tetapi masih belum diketahui penyebab pastinya, selain terjadi gangguan kekebalan tubuh.

Sebagian besar penderita SGB bisa pulih seperti sedia kala setelah menjalani pengobatan sekitar setengah tahun. Sebagian lagi bisa jadi memburuk apalagi jika penyakitnya menyerang saraf otonom, misalnya, di otot-otot organ pernapasan yang membuat seseorang kesulitan bernapas.

Dokter spesialis saraf Ela Kustila menerangkan, sindrom itu termasuk penyakit yang jarang dialami seseorang. Persentasenya satu kejadian dari 100.000 kasus. Merupakan suatu polineuropati akut, yakni gangguan pada susunan saraf tepi.

"Penyebab pastinya tidak diketahui, tetapi terjadi gangguan sistem kekebalan tubuh, autoimun, yang menye­rang saraf tepi. Gangguan autoimun, yaitu sistem kekebalan tubuh menye­rang sel-sel tubuh yang sehat, misalnya sel saraf di sistem saraf perifer," ujarnya ketika ditemui di Santosa Hospital Bandung Center, Jalan Kebonjati, Bandung, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, penyakit itu biasanya didahului dengan infeksi seperti flu atau diare. Yang paling sering ditemukan infeksi oleh bakteri Campylobacter jejuni. Jenis bakteri itu bisa berada di makanan yang tidak higienis sehingga menyebabkan diare.

Meski infeksinya sudah sembuh, terjadi kesalahan pada sistem imun tubuh yang menyebabkan sindrom ini.

Ada pun gejala untuk sindrom itu dikatakan Ela cukup khas. Meskipun salah satunya adalah terjadi kelemahan otot-otot alat gerak seperti tangan dan kaki, tetapi kelemahan itu terjadi simetris, kiri dan kanan.

Selain itu, sering ditemukan gangguan sensasi seperti kesemutan pada ujung-ujung jari tangan dan kaki.

Penyakit itu bisa dikelompokkan ke banyak tingkat, mulai ringan hingga berat. Sindrom yang lebih berat disebabkan kelemahan otot ini dapat memburuk (progressive weakness), seperti bisa menyerang otot-otot pernapasan, atau mengganggu kerja saraf otonom lain seperti tachicardi (gangguan pada jantung), atau perubahan tekanan darah.

Perjalanan SGB, kata Ela melanjutkan, bisa saja memberat dalam dua minggu, kemudian menetap dalam empat minggu. Siapa pun dapat terserang sindrom ini, tidak mengenal gender dan usia, karena tidak diketahui penyebab pastinya. Meski tidak diturunkan, diduga ada faktor genetik (dari lahir) yang lebih rentan dengan sindrom ini.

Sebagian besar laki-laki

Berdasarkan pengamatan Ela, sebagian besar pasien SGB yang ia tangani adalah laki-laki. Semakin usia tua, prognosis penyakitnya semakin buruk.

"Harus curiga dan segera periksa jika tiba-tiba mengalami lemas, refleks-refleksnya turun, bahkan arefleksi (kehilangan refleks tendon) disertai kelemahan," ujarnya.

Jika ada yang mendapatkan gejala khas tersebut, Ela menyarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter saraf. Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis sindrom ini bisa dilakukan dengan dua cara. 

Pertama, melalui tes lumbal pungsi, yaitu prosedur yang sering dilakukan pada instalasi gawat darurat untuk mendapatkan informasi dari cairan serebrospinal. Dari cairan tersebut ditetapkan mengalami SGB jika ditemukan jumlah protein meningkat, tetapi jumlah selnya normal.

Kedua, menggunakan alat elektromyography (EMG) yang akan menilai kecepatan hantar saraf. "Tubuh pasien (tangan dan kaki) dipasangi alat dan distimulasi listrik. Pada monitor akan muncul gelombang indikator beserta angka-angka yang menilai myelin dan akson saraf," ujar Ela.

Hanya sekitar 5-10 persen dari penderita SGB yang tidak pulih secara sempurna. Sebanyak 60 persen lainnya bisa pulih sempurna dalam satu tahun.

Sekitar 80 persen, kemungkinan untuk pulih lebih cepat, dalam enam bulan setelah diagnosis. Akan tetapi, ada 3-5 persen dari kasus SGB yang mengalami komplikasi berat, ­misalnya, karena kegagalan sistem pernapasan, mengalami infeksi berat, atau terkena serangan jantung.

Menurut Ela, penyakit itu sangat mungkin dipulihkan. Penanganan pengobatan ditujukan untuk mempercepat pemulihan dan mengurangi keparahan. Antara lain dengan cara plasmapheresis, yaitu plasma darah pasien dikeluarkan, di­cuci, lalu dibuang jika ditemu­kan antibodi yang jelek. Setelah penyeleksian, plasma darah yang hanya berisi antibodi baik dimasukkan kembali ke dalam tubuh.

Bisa juga dengan cara lain, yakni melalui intravenous immunoglobulin (IvIg). Cara itu diklaim lebih disukai pasien karena dilakukan melalui selang infus. Metode itu memasukkan antibodi sehat ke dalam tubuh untuk bersaing (kompetitif) dengan antibodi yang salah. Metode ini lebih besar biayanya dibanding plasmapheresis. 

"Pasien yang berhasil sembuh dari SGB tetap menyisakan kelemahan fungsi tubuh karena sel saraf merupakan jaringan yang tidak bisa kembali dengan sendirinya ketika mengalami kerusakan. Untuk dapat menggerakkan anggota tubuh kembali, seperti berjalan, makan, berbicara, atau menulis, pasien harus melakukan terapi dan latihan secara teratur. Oleh karena itu, dalam terapi pengobatannya, dokter saraf biasanya bekerja sama dengan fisioterapi untuk melatih gerak pasien," kata Ela.***

Bagikan: