Pikiran Rakyat
USD Jual 14.403,00 Beli 14.103,00 | Umumnya berawan, 21.8 ° C

Baru, Sate Maranggi Kini Bisa Diolah di Rumah

Hilmi Abdul Halim
SATE Maranggi beku buatan Usaha Mikro Kecil Menengah di Kabupaten Purwakarta ikut dipamerkan di pusat oleh-oleh Galeri Menong beberapa waktu lalu. Produk tersebut bisa dijadikan oleh-oleh dan mampu bertahan hingga berbulan-bulan di lemari es.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
SATE Maranggi beku buatan Usaha Mikro Kecil Menengah di Kabupaten Purwakarta ikut dipamerkan di pusat oleh-oleh Galeri Menong beberapa waktu lalu. Produk tersebut bisa dijadikan oleh-oleh dan mampu bertahan hingga berbulan-bulan di lemari es.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

MARANGGI diakui sebagai salah satu kuliner khas Kabupaten Purwakarta hingga ke luar negeri. Namun, sebagian orang mungkin lebih memilih menyantap sate tersebut di rumah makan yang menjual secara khusus untuk mendapatkan cita rasa otentik.

Sebenarnya, sate Maranggi juga bisa dijadikan oleh-oleh bahkan disimpan selama berbulan-bulan di lemari es. Penggemarnya dapat membeli produk beku tersebut, lengkap dengan bumbu manisnya yang khas dalam satu kemasan menarik.

Inovasi tersebut diklaim baru satu-satunya di Purwakarta, yakni Sate Maranggi Bu Rina. "Satenya sudah matang tinggal dipanaskan (dibakar). Rasanya dijamin sama dengan kita beli langsung di tempat saya," kata pembuat sekaligus pemilik produk tersebut, RR Ati Rinawati, Kamis 10 Januari 2019.

Sate Maranggi beku buatannya sudah dijual sejak 2015 lalu, setelah ia mulai membuka restoran Maranggi di Purwakarta pada 2013. Rina mengaku telah menjual produknya ke berbagai daerah di Indonesia, hingga wisatawan asal negara-negara seperti Amerika, Prancis, Jepang, Belanda dan Thailand.

Namun menurutnya, oleh-oleh tersebut masih belum banyak dikenal masyarakat luas karena terkendala berbagai hal. "Saya ingin produksi lebih banyak seperti industri. Tapi untuk jadi seperti itu harus terdaftar di BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan)," kata Rina.

Selama ini ia mengaku kesulitan mendaftar, karena tidak memiliki modal untuk membangun tempat produksi yang luas beserta mesin berteknologi maju. Selain itu, ia juga tidak memiliki sumber informasi dan ide untuk mengembangkan produknya.

Untuk sementara waktu, ia pun hanya memproduksi sesuai pesanan dalam jumlah terbatas. Penjualan produknya sudah menggunakan media sosial juga dititipkan di pusat oleh-oleh khas Purwakarta, Galeri Menong. Satu bungkus berisi 25 tusuk sate dijual seharga Rp75 ribu.

"Daging dan variasinya bisa sesuai keinginan pemesan seperti pakai daging ayam, sapi atau kambing. Terus mau pake lemak atau tidak. Biasanya mereka japri (menghubungi langsung)," kata Rina.

Produknya bisa bertahan hingga lima bulan di lemari es bersuhu minus 20 derajat Celsius atau dua pekan di suhu lebih tinggi.

Mayoritas Belum Terdaftar

Sate Maranggi Bu Rina bukan satu-satunya produk makanan-minuman buatan Usaha Mikro Kecil Menengah di Purwakarta yang belum terdaftar di BPOM. Kepala Dinas UMKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Purwakarta, Entis Sutisna, menyebut sebagian besar produk tersebut belum terdaftar.

Kualitas produk tersebut perlu ditingkatkan agar lebih menarik minat pembeli khususnya wisatawan. Entis memperkirakan jumlah produk UMKM di daerahnya hingga ribuan. "Tapi secara keseluruhan paling baru 30 persen (yang terdaftar di BPOM)," katanya.

Sertifikasi makanan-minuman sehat dan halal dianggap sebagai salah satu tolok ukur produk berkualitas yang dijual secara massal ke luar daerah. Entis mengakui belum banyak produk yang didaftarkan ke BPOM setiap tahunnya karena terkendala kesiapan UMKM maupun pemerintah daerah.

"Selama ini yang membantu itu pemerintah provinsi. Selama satu tahun (2018) kemarin ada 20 produk yang didaftarkan BPOM," kata Entis. Meskipun, Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta juga melakukan pengujian kesehatan dari produk UMKM tersebut untuk menjamin kualitasnya.***

 

Bagikan: