Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Sebagian cerah, 19.4 ° C

Gejala dan Keganasan Kanker Nasofaring, Salah Satu Penyakit Ustaz Arifin Ilham

Eva Nuroniatul Fahas
Pemeriksaan kanker nasofaring/DOK PR
Pemeriksaan kanker nasofaring/DOK PR

KONDISI pendakwah Arifin Ilham jadi perhatian belakangan ini karena semakin menurun. Penyakit ustaz Arifin Ilham rupanya kanker nasofaring. Seperti apa gejala dan keganasan kanker akibat virus ini?

Di antara keganasan kanker pada sektor telinga hidung dan ­tenggorokan (THT), kanker ­nasofaring ­(disebut juga ­­ca-­nasofaring) masih menempati ­posisi teratas. Di bawahnya,ada ­kasus ­tumor sinonasal serta tumor ­laring yang kasusnya sering ditemukan di masyarakat.

Nasofaring merupakan rongga yang ada di bela­kang hidung, menjadi penyambung antara telinga, hidung, dan tenggorokan. Penyebab terbanyak terjadinya kanker pada rongga nasofaring antara lain diakibatkan oleh gangguan genetik yang diturunkan.

Cikal bakal gen kanker yang terdapat pada tubuh seseorang akan menjadi aktif jika terpapar oleh gangguan dari luar seperti faktor sanitasi lingkungan, pola hidup kurang sehat, perilaku merokok, serta tingginya polusi udara.

Pada kanker nasofaring, penyebab yang paling khas karena gen kanker tercetus oleh infeksi dari Epstein barr virus (EBV). Virus ini mampu bersembunyi dalam sel dan jaringan tubuh seperti pada rongga nasofa­ring. Ia akan bereaksi dengan senyawa lain seperti zat karsinogen bernama nitrosamin. Reaksi virus EBV dan nitro­samin inilah yang kemudian dapat menyebabkan kanker nasofaring.

Gen sel kanker juga dapat tercetus melalui pola makan yang tidak baik. Terutama jika sering mengonsumsi makanan yang mengandung pengawet. Salah satu  zat pengawet adalah nitrosamin, seperti terdapat pada ikan asin, asinan, atau makanan instan (terutama jenis daging).

Karena letaknya yang tersembu­nyi dan tidak terlihat langsung, kepedulian masyarakat terhadap kanker jenis ini amsih rendah. Menurut dokter spesialis THT dari Santosa Hospital Bandung Kopo (SHBK) Agung D Permana, sebagian besar pasien kanker nasofaring baru terdeteksi saat sudah berada pada sta­dium lanjut.

Menurut dia, kanker nasofaring baru menimbulkan gejala yang hebat setelah stadium lanjut. Saat masih stadium awal, gejala yang dirasakan masih saru dengan penyakit lain. ”Banyak yang hanya menganggap flu atau sakit kepala biasa. Karena tak kunjung sembuh dan sakitnya semakin hebat mereka baru memeriksa dengan seksama. Itu pun tak langsung ke spesialis THT, karena biasanya akan berputar dulu ke bagian lain baru ke THT,” ujarnya ketika ditemui di ruang praktiknya, Kamis 31 Agustus 2017.

null

Gejala penderita kanker nasofaring

Beberapa gejala pada penderita kanker nasofaring antara lain me­ngalami gangguan pendengaran karena salah satu saluran di teli­nganya, tubaeustachius, terganggu oleh sel kanker. Gejala lainnya adalah flu yang sulit sembuh dan bahkan bisa menahun sehingga kanker nasofaring kerap dianggap sebagai reaksi alergi, bahkan sinusitis (peradangan pada dinding sinus).

Meski demikian, ada beberapa gejala yang cukup khas, misalnya se­ring mimisan, atau muncul benjolan di leher kanan atau kiri. Benjolan ini, kata Agung, merupakan kelenjar getah bening yang kemungkinan besar tengah berusaha melawan sel kanker.

”Jika kanker nasofaring sudah parah, gejala yang terasa bisa membuat nyeri kepala yang juga sering disangka migrain. Malah bisa juga menyebabkan pandangan menjadi ganda karena ekstensi tumor masuk ke otak dan menyebabkan kelumpuhan saraf bola mata,” tutur Agung.

Menegakkan diagnosis pasien yang menderita kanker nasofaring melalui beberapa tahap. Agung menjelaskan, setelah tahap wawancara dan ditemukan kecurigaan setelah pemeriksaan fisik THT, maka dokter bisa melakukan endoskopi dengan menggunakan alat Rhinolaringo Fiber Optic (RLFO). 

Alat tersebut mampu masuk dan menelusuri rongga nasofaring hingga pita suara. Ia juga mampu memberikan gambaran real time yang terlihat pada layar. Jika ditemukan permukaan nasofaring yang tidak rata (terdapat benjolan-benjolan kecil), berwarna kemerahan, terdapat jaringan yang nekrotik (mati), serta bersifat rapuh dan gampang berdarah, dugaan dokter akan terbentuknya sel kanker dapat diteruskan dengan pemeriksaan biopsi.

Diagnosis dengan biopsi

Biopsi adalah pengangkatan jaringan yang dicurigai. Setelah itu, akan dilakukan uji histopatologis jika dipastikan sel kanker. Pada uji ini juga akan diketahui staging kanker dan bisa menjadi target terapi. ”Itu sudah jadi gold standar penegakan diagnosis untuk kanker nasofaring. Untuk lebih meyakinkan bisa juga dilakukan pemeriksaan melalui CT Scan, USG, atau thorax,” tutur Agung.

Jika ingin menghindari biopsi, bisa dilakukan pemeriksaan menggunakan alat narrow band imaging (NBI). Alat yang memanfaatkan gelombang cahaya pendek ini banyak digunakan untuk memeriksa saluran cerna namun sudah mulai diaplikasikan untuk saluran napas atas.

Keunggulan NBI adalah lebih superfisial sehingga mampu melihat pola pembuluh darah yang bermasalah sehingga dapat menguat­kan dugaan pada pemeriksaan sebelumnya. ”Diagnosis berdasarkan NBI juga dapat menghindari biopsi yang tidak perlu,” kata Agung.

null

Deteksi dini dan mencegah kanker nasofaring

Pada kasus kanker, sangat diharap­kan bisa terdeteksi sejak dini. Karena bisa membuat kemungkinan pulih lebih besar. Ini juga terjadi pada kasus kanker nasofaring. Meski sulit mendeteksinya karena lokasinya yang tak kasat mata, ada beberapa panduan agar seseorang bisa segera memeriksakan diri ke dokter THT.

Beberapa di antaranya, kata Agung menjelaskan, jika menderita pilek yang tak kunjung sembuh. Apalagi jika pada lingkungan keluarga terdapat pasien kanker. Selain dari sisi pasien ia juga mengharapkan tenaga kesehatan bisa meningkatkan pengetahuannya mengenai penegakan diagnosis untuk kanker nasofaring.

”Karena tak jarang tenaga kesehatan yang gagal mendiagnosis kanker nasofaring dengan penyakit lain. Untuk kasus kanker yang paling bahaya adalah jika terjadi metastase (penyebaran). Meski letaknya di rongga hidung atas namun bisa menyebar jauh hingga ke kaki. Jika sudah di luar regional begini, kemung­kinan pulih semakin tipis,” ujarnya.

Agung mengatakan, tingkat kesembuhan kanker nasofaring untuk stadium 1-2 cukup tinggi bisa mencapai 60%, namun pada stadium lanjut bisa di bawah 20%. Untuk menangani kanker nasofaring, ia menjelaskan hanya ada dua pilihan yakni radiasi (untuk stadium awal), serta kemoradiasi (stadium lanjut). 

”Tidak ada pilihan pembedahan karena letaknya yang berdekatan dengan struktur penting tubuh, yaitu dasar otak (basis cranial). Jika pun dilakukan pembedahan bia­sanya karena kasus yang kambuh (berulang). Itu pun kemungkinan suksesnya masih rendah,” tuturnya.

Di negara lain, ujar Agung, ada pilihan penanganan lain untuk kanker nasofaring, yaitu foto dinamik terapi. Pasien akan disuntik zat dari obat khusus yang lalu ditembak oleh sinar agar dapat aktif memberantas sel kanker. Metode ini sangat lokal di nasofa­ring sehingga dianggap lebih akurat.

Hidup sehat dan melakukan pola makan yang baik menjadi hal pen­ting untuk mencegah timbulnya kanker. Untuk terhindar dari kanker nasofaring, menghindari dan membatasi konsumsi makanan instan akan jauh lebih baik untuk tubuh. 

Kanker lainnya yang disebabkan virus

Tak banyak kasus kanker yang disebabkan oleh virus. Beberapa kasus kanker akibat virus antara lain kanker serviks yang disebabkan oleh Human Papillomavirus (HPV) dan kanker nasofaring akibat infeksi Epstein Barr Virus (EBV).

EBV adalah virus dari famili herpes dan merupakan salah satu virus yang paling umum pada manusia. Kata Agung, EBV sebetulnya tidak membahayakan (harmful) dan jarang menimbulkan gangguan. Malah, lebih dari 90% orang Indonesia pernah terinfeksi EBV (+). ”Bila pun menimbulkan gangguan, termasuk sakit ringan, paling demam atau flu, tidak sampai sakit berat,” ujarnya.

Namun, di beberapa negara barat, EBV dapat mengakibatkan kissing disease. Yaitu virus ini menginfeksi amandel dan menyebabkan mononucleosis infecsiosa (MI). Diperkirakan karena pengaruh iklim.

Ia menjelaskan, EBV yang berkeliaran di udara dapat masuk ke dalam tubuh manusia. Di dalam tubuh, EBV dapat tinggal dan membuat siklus hidup di beberapa jaringan tubuh seperti sel limfosit D, atau lapisan epitel saluran nafas atas (seperti nasofaring). Akan tetapi, virus ini hidup dalam keadaan fase dorman jika hidup di epitel nasofaring.

Sasimi Ikan Paus di salah satu restoran sushi yang ada di Jepang.*/REUTERS

Ganasnya kanker nasofaring

Salah satu keganasan EBV adalah dapat mengekspresikan sel dengan fase laten. Yaitu suatu kondisi ketika EBV terhindar dari eradikasi (serangan) sel-sel imun tubuh. Itu sebabnya keberadaan EBV tak terdeteksi sel imun sehingga dapat mencetus pembentukan sel kanker pada nasofaring jika bereaksi de­ngan senyawa nitrosamin.

Nitrosamin adalah senyawa karsinogen (pencetus kanker) yang berasal dari reaksi antara nitrit dan amino. Nitrit sering digunakan untuk mengawetkan daging, ikan, dan keju agar bakteri pembusuk tidak dapat berkembang biak. 

Penggunaan nitrit pada makanan dibatasi dalam jumlah 150 mg/kg daging. Nitrosamin akan terbentuk jika nitrit bereaksi dengan amino sekunder karena suhu yang tinggi yang terjadi saat menggoreng daging olahan.

EBV yang bereaksi dengan nitrosamin akan membuat infeksi berulang pada lapisan epitel nasofaring. Gabungan keduanya akan menghambat proses apoptosis (kematian sel terprogram yang normal) sehingga terus menumbuhkan sel-sel abnormal (kanker).

Karena kanker nasofaring dapat disebabkan oleh virus, pencegahannya bisa dengan imunoterapi atau terapi mekanisme imun tubuh. Setelah diinjeksi vaksin, sel limfosit T tubuh akan dilatih untuk mengenali EBV dalam tubuh meski tengah berada pada fase dorman dan laten.

”Imunoterapi untuk EBV begitu menjanjikan. Penelitiannya saat ini sudah masuk fase III tapi masih dilakukan oleh negara di luar Indonesia,” ujar Agung.***

Bagikan: