Pikiran Rakyat
USD Jual 14.353,00 Beli 14.053,00 | Cerah berawan, 27 ° C

Lilly the Little Hope Karya Animator Sekelas Disney dari Ciomas Tayang Februari 2019

Tim Pikiran Rakyat
Cuplikan adegan animasi Lilly the Little Hope /Youtube
Cuplikan adegan animasi Lilly the Little Hope /Youtube

”LILLY the Little Hope”, demikian judul unggahan di akun ­Instagram Fakhri Muzaki Ramadhan yang kemudian menjadi viral. Film ­animasi tentang kisah se­orang anak yang terkena musibah tetapi tetap tangguh membuat banyak kalangan terinspirasi.

Film pendek animasi itu baru bisa ditonton pada bulan Februari 2019. ”Coming soon on February 2019,” tulis Fakhri Muzaki ­Ramadhan, siswa kelas XII SMKN 1 Ciomas, Kabupaten Bogor.

Sejak grafis visual animasi tersebut diunggah di Instagram dan laman Facebook Fakhri, ribuan pengikutnya memberikan komentar serta tang­gap­an. ”Sungguh di luar dugaan begitu banyak komentar dan tanggapan yang disampaikan,” kata pelajar ­jurusan aminasi ­kela­hiran Bogor, 17 Desember 2000 ini kepada ”PR” di SMKN 1 Ciomas, Kabupaten Bogor, Selasa 8 Januari 2019.

Ia mengakui banyak kalangan mengomentari bahkan memberi­kan label bahwa animasi yang dibuatnya disamakan atau dianggap sekelas Disney. Meskipun demikian, ia tak memungkiri bahwa pem­buatan film animasi ”Lilly the Little Hope” itu dipengaruhi oleh ­sejumlah film ­animasi besutan Disney.

Sejak duduk di bangku SMPN 1 Ciomas, putra kedua pasangan Irma Muslihat dan Medi Kusmanto ini sangat gemar menonton film Disney dan kartun Jepang. Ketika minatnya terhadap animasi sudah muncul, pengaruh film animasi Disney tidak bisa dihindari. 

Secara keseluruhan, film pendek tersebut baru bisa disaksikan bulan Februari 2019. Mengapa? Fakhri mengatakan, film tersebut merupa­kan ­tugas akhirnya di kelas XII yang mewajibkan setiap siswa untuk membuat film animasi.

Menurut Kepala Program Animasi SMKN 1 Ciomas Januar Ashari, film pendek ”Lilly the Little Hope” baru boleh ditayangkan utuh setelah lulus dari Uji Kompetensi Keahlian (UKK) yang akan dilaksanakan awal ­Feb­ruari 2019 dengan tim penguji dari luar sekolah. 

”Untuk tugas akhir siswa yang meng­uji bukan guru di sekolah, me­lain­kan tim ahli yang didatangkan dari luar. Karena film tersebut adalah tugas akhir maka bisa ditayangkan jika sudah selesai ujian,” ujar Januar.

Film animasi dengan durasi 10 menit tersebut merupakan karya mutakhir Fakhri yang cukup monumental. Proses pembuatannya cukup lama. Ide pembuatan film tersebut muncul ketika ia tengah praktik kerja lapangan (PKL) di rumah produksi MD Entertainment di Jakarta, ­Januari-Februari 2018 silam. 

Inspirasi Fakhri muncul setelah melihat langsung bagaimana cara kerja dan ber­bagai peralatan di MD Entertainment dalam memproduksi film, ter­­masuk film animasi.

Di sela-sela PKL, ia membuat story board film animasi Lilly. ­Kemudian, saat pihak sekolah mewajibkan siswa kelas XII jurusan animasi membuat tugas akhir, maka Fakhri lebih serius membuat animasi tersebut. ”Alhamdulillah untuk proses produksi film ­animasi Lilly memakan waktu 6 bulan,” ujarnya.

null

Mencari bahan animasi di warnet

Menurut Januar Ashari, Fakhri sudah menguasai seni animasi sejak duduk di bangku SMP. ”Sebelum masuk SMKN 1 Ciomas, dia dulu sering di­ajak kakak kelasnya ke sini. ­Sa­ya lihat dia punya minat yang tinggi terhadap animasi,” katanya.

Hal tersebut dibenarkan Fakhri. Sewaktu duduk di bangku SMP, ­minat terhadap animasi sudah tumbuh. Ia terpicu kakaknya untuk masuk SMK Multimedia. Minat terha­dap ­animasi diperlihatkannya de­ngan hampir setiap hari da­tang ke warung internet (warnet) ­untuk mengunggah ber­bagai hal yang terkait de­ngan ­animasi. 

”Karena di rumah tidak ada jaringan internet, setiap hari saya ke warnet untuk meng­unggah bahan-bahan ter­kait de­ngan ­animasi,” ujar Fakhri.

Seusai tamat SMP pada 2015, dia sempat bingung mau melanjutkan ke sekolah khusus animasi karena sekolah yang mempunyai jurusan animasi di wilayah Ciomas dan sekitarnya sa­ngat ­minim. Beruntung ia bergaul dengan sejumlah se­nior yang ­memberikan informasi bahwa di SMKN 1 Ciomas ada jurusan ­animasi. 

Ketika duduk di kelas X, Fakhri mulai mencari teman sekelas yang punya minat yang sama terhadap animasi. Ia kemudian bertemu dengan Arif dan Ragil. Ketiganya sepakat membentuk tim ­animasi de­ngan sebutan FAR (Fakhri, Arif, dan Ragil). Tim ini berlanjut sampai kelas XI dan memproduksi tiga film pendek animasi untuk perlombaan. 

Menurut Januar Ashari, untuk mengasah ketajaman pelajar jurusan animasi, para guru tak hanya memberikan pelajaran pada waktu jam sekolah tetapi juga di luar jam sekolah dengan menye­dia­kan ruangan khusus untuk produksi animasi. Fakhri termasuk salah seorang anak yang aktif menggunakan ruangan tersebut. 

null

Banjir job

Tugas akhir Fakhri dengan judul ”Lilly the Little Hope” yang dikerja­kan di ruang khu­sus animasi ternyata mendapat sambutan yang ­luar biasa. ­Se­jak diunggah di Instagram dan laman Facebooknya, Fakhri mengaku mendapat banyak se­kali tawaran untuk pekerjaan animasi. Tawaran bahkan mun­cul dari sejumlah rumah produksi.

”Saat ini saya tengah me­nger­jakan film animasi untuk dakwah non­komersial. Kemudian, banyak lagi yang me­minta untuk mengerjakan animasi lain,” kata Fakhri.

Dalam catatan sekolah, Fakhri pernah mendapat sejumlah prestasi salah satunya adalah peringkat III LKS animasi 2 dimensi tingkat Kabupaten Bogor (2017), juara LKS animasi 3 dimensi tingkat ­nasional di Surakarta (2017), serta pernah ikut perlombaan tingkat ASEAN.

Impian Fakhri yang paling dekat adalah menuntaskan proyek film ”Lilly the Little Hope” menjadi film animasi yang nantinya bisa dita­yang­kan di bioskop. Ia yakin film buatan lokal tak kalah ber­­kualitas dibandingkan dengan film-film animasi impor.***

Bagikan: