Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Mimpi Buruk Danilla pun Akhirnya Diadili

Windy Eka Pramudya
PENYANYI Danilla bersama Eddi Brokoli yang bertindak selaku panitera pada ”DCDC: Pengadil­an Musik” di Kantin Nasion The Panas Dalam Jalan Ambon Kota Bandung, Sabtu 29 Desember 2018. Danilla mempertanggungjawabkan dua album yang telah dia rilis.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR
PENYANYI Danilla bersama Eddi Brokoli yang bertindak selaku panitera pada ”DCDC: Pengadil­an Musik” di Kantin Nasion The Panas Dalam Jalan Ambon Kota Bandung, Sabtu 29 Desember 2018. Danilla mempertanggungjawabkan dua album yang telah dia rilis.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

MELALUI dua album yang telah dirilis, solois Danilla mencuri perhatian di industri musik Indonesia. Album ”Telisik” (2014) dan ”Lintasan Waktu” (2017) menunjukkan musikalitas Danilla yang khas. Suara Danilla yang halus seperti orang berbisik, dibalut alunan musik jazz nan ngepop, berhasil mencetak para Penilisik --sebutan penggemar Danilla-- untuk terus mendukung dia. 

Di tengah respons positif yang dituai Danilla le­wat karya-karyanya, ”DCDC: Pengadilan Musik” merasa perlu meng­adili Danilla. Berlangsung di Kantin Nasion The Panas Dalam, Jalan Ambon, Kota Bandung, Sabtu 29 Desember 2018, Danilla ha­rus mempertanggungjawabkan karya yang sudah dia rilis. 

Di ”Pengadilan Musik”, Danilla ber­hadap­an dengan perangkat pengadilan yang terdiri atas jaksa penuntut Pidi Baiq dan Budi Dalton, pembela Yoga PHB dan Ruly Cikapundung, ha­kim Man Jasad dan panitera Eddi Brokoli. 

Budi memulai sidang dengan rentetan perta­nya­an yang dijawab singkat Da­nilla. Misalnya tentang waktu mulainya Danilla menyanyi, orang yang meng­ajari Danilla bernyanyi, kegiatan Da­nilla bermain gitar, dan tentang instrumen musik lain yang dikuasai Danilla selain gitar.

”Saya mulai menyanyi sejak kemarin, yang mengajari papa saya. Selain main gitar, saya juga bertani. Instrumen lain yang dikuasai selain gitar adalah piano,” tutur Danilla menjawab perta­nyaan ­Budi.

Jawaban Danilla tentu tak membuat Budi puas. Budi melanjutkan pertanyaan dengan alasan Da­nilla memilih musik jazz sebagai genre yang di­u­sung. Selain itu, ditanyakan pula alasan Da­nilla memilih menjadi solois bukan hadir dalam format band. ”Apa karena Danilla enggak punya teman?” tanya Budi.

Sumbangsih ibu Danilla di album Telisik

Danilla menjawab pertanyaan ini dengan serius. Danilla mengungkapkan, sebetulnya dia tidak memilih, tetapi musik jazznya yang datang sen­di­ri ke kehidupan Danilla. Selain itu, ada ­pengaruh dari orangtua juga. Sekadar informasi, ibunda Danilla, Ika Ratih Poespa adalah penyanyi jazz. Selain itu, Danilla merupakan keponakan men­diang Dian Pramana Poetra dan cucu dari penyanyi keroncong Sumiati ­Sutiko. Selain itu, alasan Da­nilla me­milih jadi solois karena memang tidak ada yang mau sama dia.

Pertanyaan Budi berlanjut. ”Kabarnya ibu kamu ikut menyumbang lagu di ­album 'Telisik', kenapa dia harus menyumbang lagu, bukan beras?” ta­nya Budi.

Pertanyaan Budi tentu mengundang tawa pe­nonton. Danilla menjawab, dia ingin ada karya mamanya. Karya ibunda Danilla ada di lagu ”Reste Avec Moi” di album ”Telisik”. 

Sidang berlanjut dengan cecaran pertanyaan Budi tentang single ”Dari Sebuah Mimpi Buruk”. ”Apa yang membuat lagu itu sangat spesial sehingga dibikin videoklip?” tanya Budi. 

Danilla menjawab, lagu itu bercerita tentang di­rinya yang sangat mencintai seseorang. ”Lalu sa­ya menyadari dia mencintai perempuan lain se­hingga saya selalu membandingkan diri. Ini menjadi mimpi buruk untuk saya,” kata Danilla.

Untuk album selanjutnya, Danilla ­ingin men­de­dikasikan album untuk ­Dian Pramana Poetra. ”Saya sangat menga­gumi beliau,” ujar Danilla.

Di pengujung ”Pengadilan Musik”, Man Jasad mengatakan, karya Danilla bebas diapresiasi, te­tapi dengan syarat harus menerima Man karena Man ­masuk kriteria pria idaman Danilla. ***

Bagikan: