Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Berawan, 22.1 ° C

Waspadai Nyeri Kepala Tak Biasa

Endah Asih Lestari
Ilustrasi.*/CANVA
Ilustrasi.*/CANVA

HAMPIR setiap orang pernah mengalami nyeri kepala. Ada yang tidak begitu berbahaya, ada pula yang sangat berbahaya. Bagaimana membedakannya?

Anton (39) mengeluh nyeri kepala. Suhu tubuhnya meningkat, tetapi tidak terlalu tinggi. Tidak ada keluhan lain seperti diare, batuk, lemah anggota gerak, bicara pelo, atau tersedak. Akan tetapi, sejak tiga tahun lalu, ia menderita tekanan darah tinggi.

Selama enam hari berikutnya, keluhan nyeri kepala tetap dirasakan Anton meskipun telah mengonsumsi obat penahan nyeri. Sebelum berencana datang ke rumah sakit, ia mengeluh nyeri kepala yang sangat hebat hingga pingsan. Ada kejang sebentar, setelah itu tidak sadar.

Setelah dilakukan CT Scan kepala, didapati hasil bahwa Anton mengalami perdarahan subarachnoid (PSA) atau subarahnoid hemorrhagic.

Dokter Spesialis Saraf Condrad M Pasaribu mengatakan, perdarahan subarachnoid bisa berakibat sangat fatal, bahkan hingga kematian. Akan tetapi, kondisi itu sering kali tidak cepat terdeteksi karena pada umumnya tidak menimbulkan gejala yang berarti.

Perdarahan subarachnoid bisa terjadi karena faktor traumatik dan nontraumatik. Perdarahan subarachnoid traumatik terjadi akibat cedera kepala berat. Misalnya, karena kecelakaan lalu lintas, terjatuh, atau tertimpa benda pada kepala. Cedera berat itu dapat mengakibatkan pembuluh darah di selaput meningen pecah dan menyebabkan perdarahan subarachnoid.

Perdarahan subarachnoid paling sering terjadi tanpa didahului cedera dan muncul secara tiba-tiba. Penyebab terjadinya perdarahan subarachnoid nontraumatik ini biasanya adalah pecahnya aneurisma otak.

"Begitu aneurisma otak pecah, itu adalah nyeri kepala paling hebat yang pernah seseorang alami sepanjang hidupnya," ucap Condrad ketika ditemui di Santosa Hospital Bandung Central (SHBC), Jalan Kebonjati Nomor 38, Kota Bandung, Selasa, 11 Desember 2018.

Aneurisma otak adalah pembesaran pembuluh darah pada otak akibat dinding pembuluh darah yang lemah. Saat aliran darah menekan dinding pembuluh darah, pembuluh darah akan menggembung seperti balon.

Seseorang dapat lebih mudah mengalami perdarahan subarachnoid jika memiliki faktor-faktor risiko seperti memiliki kebiasaan merokok, hipertensi, kecanduan alkohol, serta memiliki riwayat perdarahan subarachnoid di dalam keluarga. Ada pula penyakit lain yang menjadi faktor risiko seperti penyakit ginjal polikistik, pe­nyakit lever, tumor otak, infeksi otak, dan lain-lain. 

Ilustrasi.*/CANVA

Menangani PSA

Condrad menyebutkan, ada dua prosedur yang bisa dilakukan sebagai langkah penanganan perdarahan subarachnoid. Yang paling sering dilakukan adalah coiling (endovascular coiling therapy).

Dalam prosedur ini, kantung aneurisma akan diisi dengan gulungan logam coil. Dengan demikian, darah tidak melewati kantong tersebut yang berisiko pecah. 
Prosedur minimal invasif ini lebih sering digunakan karena memiliki risiko komplikasi jangka pendek yang lebih rendah. Pasien biasanya diperbolehkan meninggalkan rumah sakit lebih cepat dan durasi pemulihan cenderung lebih cepat.

"Tindakan ini ada kelebihan dan kekurangannya. Kekurangannya adalah lebih mahal. Kelebihannya adalah masa rawat dan pemulihan yang sangat cepat. Infeksi sangat minimal, juga tidak ada bekas tindakan," tutur Condrad.

Tenggang waktu terbaik untuk melakukan coiling adalah maksimal tiga hari setelah pecahnya aneurisma otak (ditandai nyeri kepala yang sangat hebat) atau setelah 21 hari.

Alasannya, setelah tiga hari aneurisma otak pecah, akan terjadi spasme. Akibatnya, darah akan memenuhi rongga subarachnoid. Setelah 21 hari, spasme akan membaik, meskipun jika tidak ditangani, tetap akan menyebabkan kerusakan pada otak yang mengakibatkan penderitanya mengalami kelumpuhan, koma, bahkan kematian.

Selain itu, ada neurosurgical clipping atau operasi menggunakan clipping. Prosedur itu dilakukan dengan menjepit pembuluh darah yang bermasalah dengan klip logam. 
Prosedur clipping dilakukan melalui metode kraniotomi atau bedah kepala, dalam keadaan pasien tidak sadar setelah diberikan obat bius total. Selanjutnya, pembuluh darah yang dijepit akan mengalami perbaikan karena aneurisma yang terjadi akan tersumbat secara permanen.

Jika tidak segera ditangani, perdarahan subarachnoid bisa memicu berkembangnya komplikasi. Misalnya, kerusakan pada otak yang disebabkan oleh menyempitnya pembuluh darah otak sehingga persediaan darah untuk otak berkurang. Bisa juga terjadi perdarahan berulang, hidrosefalus, atau kematian.

Sebagai komplikasi jangka panjang, perdarahan subarachnoid juga bisa menyebabkan epilepsi, perubahan suasana hati seperti depresi, hingga gangguan pada fungsi kognitif otak.***

Bagikan: