Pikiran Rakyat
USD Jual 14.289,00 Beli 14.191,00 | Sebagian cerah, 32.2 ° C

Bisnis Manis Wisata Kesehatan

Eva Nuroniatul Fahas
Ilustrasi.*/CANVA
Ilustrasi.*/CANVA

SEKTOR pariwisata semakin berinovasi setiap era. Tak ingin hanya mengandalkan potensi keindahan alam, sektor ini pun bergerak masif ke banyak sektor lain yang sebelumnya tak terpikirkan dapat mendatangkan wisatawan.

Salah satunya bidang kesehatan. Belakangan, semakin banyak negara yang fokus dan serius mengembangkan potensi wisata dari sektor kesehatan. Bahwa mereka yang butuh pengobatan, juga dianggap sebagai ”pelancong” yang mendatangkan devisa untuk sektor pariwisata.

Selain mendapatkan penanganan kesehatan fisik, pasien yang berobat hingga ke luar negeri pun menggenapkan sisi kepuasan batinnya dengan lanjut berwisata. Inilah terobosan baru kepariwisataan yang salah satunya dilakukan oleh Negara Bagian Penang, Malaysia.

Wartawan ”PR”, Eva Fahas, berkesempatan mengikuti tur wisata kesehatan yang diselenggarakan oleh Penang Center of Medical Tourism, dua pekan lalu. Selama empat hari, ia diajak berkeliling ke-14 rumah sakit dan klinik, baik di Pulau Penang maupun bagian daratan Penang.

Suasana Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Rabu, 5 Desember 2018 lengang. Belum banyak pengunjung yang hendak bepergian dengan pesawat, pagi itu. Untuk menuju Penang, belum ada penerbangan langsung dari Bandung. Penumpang harus melakukan transfer flight Bandung-Kuala Lumpur-Penang.

Waktu menunjukkan pukul 8.00. Di ruang tunggu gate 5 keberangkatan tujuan Kuala Lumpur, mulai bermunculan penumpang dari berbagai kalangan. Beberapa di antaranya menggunakan kursi roda.

Penumpang dengan kursi roda itu tentunya tidak berangkat sendiri. Ia ditemani pendamping yang membantunya bergerak. Rata-rata sudah berusia lanjut atau tengah sakit sehingga tak kuat berdiri dan berjalan.

Pesawat yang akan ditumpangi pun siap bertolak. Para penumpang pun segera berbaris. Mereka yang menggunakan kursi roda, mendapat prioritas naik terlebih dahulu. Dibantu petugas bandara, penumpang berkursi roda dan pendampingnya dapat nyaman duduk di kursi masing-masing. Pemandangan menaikkan penumpang yang sakit sepertinya bukan hal baru di penerbangan ini.

Dua jam mengangkasa, sekitar pukul 12.00 ­waktu setempat, pesawat mendarat di Kuala Lumpur Internasional Airport 2. Dibutuhkan sekitar tiga jam untuk melanjutkan penerbangan ke Penang.

Di ruang tunggu terbang (boarding room), banyak penumpang yang hendak ke Penang datang dari berbagai negara. Terlihat dari jenis paspornya, antara lain dari Indonesia, negara-negara Arab, dan Afrika. Tentu saja mereka datang dengan beragam kepentingan.

Termasuk Ibu Merry yang juga terbang dari Bandung. Ia hendak memeriksakan kesehatan (check up) sang suami yang didiagnosis ada sumbatan di pembuluh darah pada jantungnya.

”Suami saya dulu itu mengeluh sesak di bagian dada. Khawatir sakit parah, saya periksa ke dokter di salah satu RS swasta di Bandung. Katanya harus operasi dan dipasang ring. Saya dan suami sudah siap, tetapi ada yang menyarankan agar saya mencari opini kedua,” ujar perempuan paruh baya itu.

Saat bertemu dengan dokter spesialis jantung lain di Bandung, Merry justru disarankan agar mendatangi dokter yang praktik di RS di Penang. Dikatakan, jenis penyakit yang diderita suaminya mungkin saja bisa diobati tanpa harus dipasang ring.

Setelah berembuk dengan keluarga, mereka sepakat mencari alternatif pengobatan ke Penang, dua bulan lalu. Saat ini, suaminya menunjukkan perbaikan kondisi jantung tanpa harus dipasang ring setelah dirawat oleh dokter yang ada di Penang.

”Terus terang, saya sih di Bandung juga tidak apa-apa. Tetapi melihat suami saya, kalau bisa jangan sampai operasi. Si Bapak kan sudah usia lanjut juga. Puji Tuhan, diberi jalan lain saat konsul ke Penang. Ternyata biayanya juga murah. Terjangkau untuk kami. Malah rasanya bisa sama saja dengan di Bandung. Kalau di Penang kan sekalian bisa jalan-jalan,” ujar Merry.

Pada kesempatan itu, tak hanya ada Merry dan suaminya. Mereka memang bepergian dengan anak, mantu, dan cucu. Alasannya, sekalian liburan.

Sore hari waktu setempat, pesawat mendarat di Penang International Airport. Terletak di daerah Bayan Lepas, butuh sekitar satu jam untuk mencapai ibu kota George Town di bagian utara pulau.

Ilustrasi.*/CANVA

Agresif

Malam harinya, di ruang pertemuan The Northam All Suite Penang, PMED menyambut kedatangan peserta tur wisata medis ke Penang yang terdiri atas jurnalis media, blogger, juga pelaku bisnis agen perjalanan. Hadir pada acara itu, Yang Terhormat Yeoh Soon Hin selaku Menteri Pariwisata, Pendidikan, dan Kesehatan Penang.

Dalam sambutannya, Menteri Yeoh mengatakan bahwa tahun ini potensi wisata medis ke Malaysia mengalami kenaikan pesat. Pada 2015 dan 2016, Malaysia meraih penghargaan dari International Medical Travel Journal untuk kategori Health and Medical Tourism Destination of the Year. Hal itu juga menguatkan posisinya sebagai penyedia layanan kesehatan terbaik di Asia Tenggara.

Biaya yang lebih murah menjadikan Malaysia sebagai acuan bagi mereka yang hendak berobat. Itu karena sarana dan fasilitas kesehatan termasuk dokter dan tenaga medisnya dianggap memiliki standar kualitas yang prima.

Bahkan, rumah-rumah sakit di Malaysia tak segan menawarkan fasilitas sekelas hotel bintang lima untuk pasiennya. Sejumlah fasilitas pendukung yang premium dibangun untuk menciptakan kenyamanan, terutama kepercayaan pasien untuk menyembuhkan sakitnya.

Pengelola wisata kesehatan di Malaysia tak lantas diam. Mereka secara agresif bermitra dengan banyak maskapai untuk membuka banyak penerbangan. Tak lupa disediakan fasilitas mewah seperti executive lounge juga layanan antar-jemput.

Strategi ini terbukti berhasil. Tahun lalu, sektor wisata kesehatan menyumbangkan pemasukan tak kurang dari 1,15 mi­liar RM (setara Rp 5,24 triliun). ”Penang sendiri menempati posisi teratas se-Malaysia dengan jumlah kunjungan pasien terbanyak. Dari jumlah tersebut, hampir setengahnya dari Indonesia,” ujar Menteri Yeoh.

Kesehatan yang baik dengan liburan yang seru, semua bisa dinikmati di Penang. Empat pilar wisata kesehatan di Penang antara lain untuk mempertahankan kualitas hidup dengan fasilitas kelas dunia, didukung teknologi canggih, serta layanan yang progresif kepada pasien.

Penang Center of Medical Tourism berada di bawah Penang Global Tourism merupakan wadah yang menyatukan penyedia layanan kesehatan terbaik di Penang. Lebih dikenal dengan sebutan PMED, institusi ini didirikan 2015 dengan tujuan merampingkan layanan kesehatan elite di Penang untuk kenyamanan wisatawan medis.

PMED tumbuh dan berkembang signifikan, sehingga saat ini sudah menjadi wadah bagi 14 RS dan 2 asosiasi yang tersebar di berbagai lokasi strategis di Penang.
Tan Seang Aun, Executive Director PMED mengatakan, pada 20­17, Penang dinobatkan sebagai destinasi terbaik kedua untuk dikunjungi versi CNN.

Ibu kota Penang, George Town, adalah situs warisan dunia yang ditetapkan UNESCO sejak tahun 2008. Sebagai salah satu destinasi wisata medis di Malaysia, Penang menawarkan kombinasi optimal perawatan kesehatan yang berkualitas, juga terjangkau.

Difasilitasi dengan perjalanan pesawat yang lebih murah, nilai tukar mata uang yang menarik, serta meningkatnya biaya perawatan kesehatan di negara Barat, membuat Penang menjadi tujuan wi­sata medis nomor satu di Malaysia, mencakup hampir 50% dari kunjungan sektor tersebut.

Berwisata medis ke Penang semakin dimudahkan dengan banyaknya hotel, penginapan, juga homestay yang menyediakan harga terbaik juga nyaman. Biaya hidup di Penang bisa dikatakan sangat terjangkau dengan kisaran antara Rp 300.000 hingga Rp 1 juta untuk wisatawan.

”Sejak 10 tahun lalu, wisata medis di Penang mulai dikembangkan. Semakin banyak wisatawan medis yang datang ke Penang. Dengan potensi yang besar ini, maskapai penerbangan juga memberikan dukungan dengan membuka penerbangan langsung ke Penang dengan harga terjangkau, misalnya dari Jakarta, Medan, dan Surabaya,” ujar Tan.

Memilih Penang untuk berobat sekaligus berlibur adalah hal yang wajar. Selain pesona alam yang memukau serta paduan budaya dan peninggalan bangunan tua yang eksotis, banyak fasilitas kesehatan yang menawarkan layanan terbaik tetapi dengan harga yang menarik.

Untuk bidang ortopedi, misalnya. Di Penang, kisaran untuk berobatnya sekitar 22.000 RM (Rp 76,95 juta), sedangkan di Kuala Lumpur mencapai 25.000 RM (Rp 87,44 juta). "Di Singapura juga ada layanan dengan kualitas serupa. Akan tetapi, harganya jauh lebih mahal, sekitar 20.000 SGD (Rp 212,84 juta),” ujarnya.

Pasien dari Indonesia, menurut Tan, termasuk yang terbanyak. Bahkan, untuk beberapa RS, 80% dari jumlah pasiennya berasal dari Indonesia. Oleh karena itu, banyak fasilitas kesehatan dan tenaga medisnya yang menawarkan layanan prima.

Contoh kecilnya, di sebagian besar RS di Penang sudah ada konter khusus untuk melayani pasien internasional seperti dari Indonesia. Mereka fasih berkomunikasi dengan bahasa Indonesia serta menawarkan aneka fasilitas lain yang mendukung kenyamanan seperti fasilitas antar-jemput dari bandara hingga menyediakan penginapan.

”Tahun depan, PMED tentu saja memiliki target yang harus dicapai. Salah satunya, ingin ekspansi dan promosi ke banyak negara seperti India yang kelihatannya mulai banyak peminat datang berobat ke Penang,” ucapnya.

Ilustrasi.*/CANVA

Peralatan canggih

Salah satu daya tarik RS di Penang adalah kecanggihan alat-alat yang dimiliki. Masing-masing RS memiliki alat unggulan untuk membantu penanganan dan kesembuhan pasien.

Misalnya, di pusat kanker Loh Guan Lye Specialist Center (LSC) yang memiliki komitmen menyediakan peralatan onkologi terbaru seperti PET-CT scan. Dikatakan CEO LSC Mary Quah, teknologi untuk bidang onkologi di LSC berusaha menawarkan peralatan paling mutakhir.

Untuk tindakan MRI menggunakan alat terbaru yang memiliki kekuatan magnet 3 Tesla sehingga bisa memindai seluruh tubuh. Alat itu juga memiliki area yang lebih luas sehingga lebih nyaman untuk pasien dan pencahayaan terang merata.

Alat PET-CT scan merupakan pendeteksi kanker yang belum ba­nyak dipunyai RS lain. ”Di Penang, hanya ada tiga RS yang punya. Alat ini lebih akurat selain menentukan lokasi kanker, juga dapat mendeteksi keganasannya,” katanya.

Sebagai RS yang khusus menangani kasus kanker, Mount Miriam Cancer Hospital berusaha menyediakan peralatan mumpuni untuk mendampingi pengobatan pasien kanker. Yang terbaru, me­reka memiliki alat radioterapi CyberKnife. Alat itu memiliki tekno­logi yang dikenal presisi, minim rasa sakit, serta terapi radiasi noninvasif.

Community Development Assistant Manager Mount Miriam Cancer Hospital Josephine Wong menjelaskan, CyberKnife mampu menembakkan radiasi hanya ke sel kanker, tanpa mengganggu sel normal. Alat itu juga dapat menyesuaikan dengan organ yang bergerak sehingga tepat digunakan untuk terapi radiasi di bagian kritis seperti saraf, paru-paru, atau otak.

Karena di bawah yayasan Franciscan Missionaries of the Divine Motherhood (FMDM), RS itu sebagian besar bergerak untuk darma. Salah satunya, tidak ada pemberian komisi bagi setiap dokter. ”Mereka mendapat gaji tetap saja dari RS. Itu ditujukan agar setiap dokter harus mau membantu pasien dalam kondisi apa pun tanpa ada bias dari komisi,” ujar Josephine.

Pusat kanker Penang Adventist Hospital adalah fasilitas yang baru saja dibuka. Abbey Ong sebagai Assistant Marketing Manager mengatakan, fasilitas itu dibuka untuk mengakomodasi pasien kanker. Salah satu alat yang mereka unggulkan adalah CT simulator, yakni alat radioterapi agar dapat akurat menembakkan radiasi hanya pada sel kanker.

Layanan premium

Gleneagles Hospital adalah RS swasta pertama di Penang yang berdiri sejak 1973. Perkembangannya terus meningkat dan dikenal sebagai salah satu tujuan pasien kanker jantung untuk berobat. 

Sekitar 60% pasiennya dari Indonesia dan sekitar 40% adalah penderita kanker jantung. Meski dikenal memiliki banyak dokter spesialis, keunggulan lainnya ada pada fasilitas premium yang ditawarkan.

Seperti kamar satu tempat tidur yang nyaman ala hotel bintang lima, serta ruangan kemoterapi yang dibuat senyaman mungkin dengan kaca besar di sekeliling ruangan yang menghadap langsung ke rimbunnya pepohonan di taman.

Rumah Sakit KPJ Penang lain lagi dalam memberikan layanan prima bagi pasien. Marketing Kordinator KPJ Penang Iqbal Muhd Fauzi menjelaskan, selain berusaha menyediakan perawatan terbaik bagi pasien, mereka juga tidak melupakan kebutuhan pendamping pasien.

”Misalnya, pasien kanker yang harus terapi beberapa lama di RS. Terkadang keluarga pasien kesulitan mencari tempat tinggal. La­yan­an kami selain antar-jemput dari bandara hingga RS, juga mem­berikan fasilitas penginapan gratis. Kami anggap ini investasi agar pasien percaya pada pelayanan kami dan merasa nyaman,” tuturnya.

Ingin memberikan kenyamanan yang optimal juga diharapkan oleh George Town Specialist Hospital. Rumah sakit yang baru saja berdiri ini berencana menjadi satu dari sekian banyak wadah para spesialis di bidang medis di Penang.

Digawangi banyak dokter spesialis terkenal seperti Datuk Liong Men Long yang andal di bidang urologi, RS ini ke depan menghadirkan banyak spesialis di bidang lain seperti ortopedi, ginjal, dan internis. Yang menarik, penamaan RS sempat melewati proses panjang karena membawa nama ibu kota Penang.

Optimax Eye Specialist Center.*/EVA FAHAS/PR

Keunggulan khusus

Chief Operating Officer Island Hospital dr Goh Kok Yeong cukup bangga dengan kemampuan diagnostik di laboratoriumnya. Bertujuan sebagai investasi, Island Hospital memiliki laboratorium pemeriksaan kesehatan dengan teknologi dan peralatan yang canggih.

”Kami ingin menangani pasien secara menyeluruh, termasuk sejak awal pemeriksaan. Bisa dikatakan kami berusaha mendalami kondisi pasien dengan membuktikannya di laboratorium. Karena sering kali penanganan penyakit menjadi lebih lama karena ada diagnosis yang tidak menyeluruh,” katanya.

Fokus juga menjadi kata kunci RS di Penang saat memberikan pelayanan. Pantai Hospital, misalnya, serius menangani pasien serangan jantung. Dengan lokasi yang dekat dengan bandara serta terletak di kawasan pusat kegiatan, membuat RS ini sebagai gerbang utama untuk melarikan pasien sakit jantung.

Bagan Specialist Center yang berada di area daratan Penang memiliki penawaran lain untuk kenyamanan pasien. Janice Loke, International Marketing and Patient Relations Assistant Manager Ba­gan Specialist Center menjelaskan, RS tersebut berusaha memberi kenyamanan tak hanya dari kualitas dokter dan tenaga medis. Akan tetapi, juga dari fasilitas penunjang serta kelengkapan bangunan.

Rumah sakit ini berencana membangun gedung parkir enam lantai serta gedung baru untuk pemeriksaan pasien. Itu juga berarti kapasitas tempat tidur bertambah, lantaran Bagan Hospital sebagai salah satu fasilitas kesehatan utama di wilayahnya.

Nyaris tak banyak pasien menunggu jadwal konsultasi dokter karena RS menggunakan aplikasi pada telefon seluler untuk membuat antrean ke dokter. Selain memberikan pelayanan kesehatan seperti pada umumnya, Bagan Hospital memiliki layanan unggulan untuk wanita seperti uroginekologi dan peremajaan vagina.

Beralih ke bagian kesehatan mata, di Penang ada beberapa klinik khusus seperti Optimax Eye Specialist Center. Pasien dapat memeriksakan matanya secara komperenhensif, termasuk melakukan prosedur penanganan katarak.

Beberapa tahun terakhir, nama Penang kerap terdengar sebagai tempat untuk program bayi tabung/in vitro fertilization (IVF). Sejak 30 tahun lalu, dr Ng Peng Wah sudah fokus mengembangkan teknik IVF. Ia terus memperbarui teknologi dalam IVF untuk me­ningkatkan keberhasilan banyak pasangan yang ingin memiliki anak.

Pada 2017, ia mendirikan Genesis IVF. Tak seperti umumnya RS, pusat program bayi tabung ini terletak di lantai teratas mal Gurney Paragon. Tingkat keberhasilan kehamilan mencapai 70% pada wanita di bawah usia 35 tahun.

”Banyak pasien saya berasal dari Indonesia, terutama Medan. Selain melakukan bayi tabung, kami juga dapat menyeleksi embrio yang paling baik sebelum diinjeksikan pada rahim melalui preimplantation genetic screening. Penyaringan ini dapat mendeteksi kelainan seperti down syndrom, patau syndrom, dan kelainan lain yang berhubungan dengan kromosom (genetik),” ujar Ng Peng.

Klinik tulang

Wisata kesehatan Penang juga dikenal memberikan layanan fisi­oterapi. PS Healthcare yang berlokasi di mal anjungan Street Quay salah satunya yang berusaha memberikan alternatif penyembuhan pada masalah tulang belakang.

Peter Stuart, Chiropractor yang juga pemilik klinik banyak membantu mereka yang bermasalah dengan tulang ­belakang, tetapi belum siap dioperasi. ”Kami menggunakan tabel terapi traktus intersegmental dari Amerika untuk memobilisasi dan melatih otot dan ligamen tulang belakang. Dilanjutkan dengan teknik ­korektif lembut yang diterapkan pada pasien,” katanya.

Koreksi pada tulang belakang dan pertulangan lain juga bisa diterapi dengan alat spinal decompression system seperti yang dimiliki Klinik Fisioterapi Spine Joint and ­Muscle Solutions. Alat itu menggunakan metode nonmedis dan nonoperasi untuk memperbaiki sakit punggung dan leher.

Klinik terakhir adalah Spinecare Chiropractic di daerah Bayan Lepas. Menurut pemilik klinik, dr Terry Chen, masalah skoliosis masih banyak ditemukan di tengah masyarakat.

”Sebaiknya tidak dianggap remeh. Karena masalah tulang punggung bisa berdampak pada aktivitas keseharian termasuk memengaruhi peredaran darah, kerja saraf, hingga pergerakan,” katanya.

Salah satu solusi memperbaiki skoliosis adalah dengan menggunakan braces, penyangga tubuh, bisa juga disebut ”baju” yang terbuat dari plastik. Penyangga itu akan menopang dan mengoreksi bentuk tulang punggung pada penderita skoliosis.***

Bagikan: