Pikiran Rakyat
USD Jual 14.286,00 Beli 13.986,00 | Sebagian cerah, 27.5 ° C

Tren Desain Interior 2019, Kolaborasi dengan Unsur Lokal

Endah Asih Lestari
Ilustrasi.*/CANVA
Ilustrasi.*/CANVA

SEPERTI halnya dunia fashion, desain interior pun selalu mengalami pergeseran tren setiap tahun. Meskipun, aplikasinya pada hunian maupun bangunan bisa leluasa dikembangkan sesuai dengan fungsi dan selera. Memasuki pengujung tahun, bagaimana perkiraan tren desain interior tahun 2019?

Secara umum, tren akan muncul seiring dengan perkembangan kebudayaan yang terjadi di masyarakat. Kebudayaan yang berkembang di suatu daerah, terutama sistem pengetahuan, peralatan hidup dan teknologi yang berkembang di masyarakatnya, akan memicu tren yang muncul di wilayah tersebut.

Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Jawa Barat Detty Fitriany mengatakan, letak geografis dan perkembangan kebudayaan masyarakat yang berbeda, juga memunculkan tren yang berbeda pula. "Prinsip itu juga berlaku di dalam dunia arsitektur dan interior," ucapnya, beberapa waktu lalu.

Pendekatan perancangan hunian di negara-­negara beriklim tropis, misalnya, berbeda dengan pendekatan perancangan di negara-negara subtropis dengan empat musim. Oleh karena itu, tren yang muncul tidak serta-merta dapat diterapkan begitu saja di dalam pe­rancangan hunian, khususnya perancangan interiornya.

Desainer interior harus memperhatikan juga konteks di mana hunian tersebut berada. Di Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengeluarkan tema "Singularity" untuk tren forecasting (panduan tren bagi pelaku kreatif Indonesia) untuk 2019/2020 yang diturunkan menjadi empat subtema yaitu Exuberant, Neo Medieval, Svarga, dan Cortex. 

Tema Singularity terkait perubahan zaman, yakni gambaran suatu keadaan yang mengindikasikan beragam pergeseran teknologi dan sikap-sikap yang menyertainya, dan gambaran masa depan yang masih diraba. Dalam konsep Singularity, terdapat unsur pertanyaan, kekhawatiran, optimisme, serta harapan akan apa yang terjadi di masa depan.

Subtema Exuberant dikaitkan dengan sikap positif dan antusiasme dalam memandang kecerdasan buatan (AI) sekaligus perasaan santai. Tema itu menunjukkan keceriaan dan optimisme lewat permainan warna yang colorful dengan unsur seni urban atau futuristik dan perpaduan gaya sporty yang santai dengan gaya formal yang cenderung feminin.

Neo Medieval mengusung unsur romantisme abad pertengahan yang mencerminkan sikap khawatir akan kemungkinan di masa de­pan yang memicu timbulnya ”benteng pertahanan”. Pandangan ini membangkitkan romantisme dalam sejarah, ketika tema abad pertengahan menyatu dengan kemajuan teknologi.

Secara visual, tema tersebut memunculkan kesan gaya khas pejuang futuristik, kuat, tegas, dan elegan, dengan palet warna yang netral dan membumi.

Ilustrasi.*/CANVA

Svarga melihat sisi kemanusiaan dari kecerdasan buatan, yaitu jembatan dari beragam perbedaan tampilan untuk menjadi satu harmoni. Keterbukaan itu menciptakan multikulturasi. Konsep desain dalam tema tersebut memperlihatkan tabrak corak yang tetap memperhatikan kese­imbangan antara satu dan yang lain.

Sementara itu, Cortex, merupakan paradoks kecerdasan buatan di era evolusi digital, ketika digitalisasi membaur dengan seluruh aspek kehidupan manusia. Kecerdasan buatan dipandang dapat membantu manusia dalam proses riset desain yang berujung pada inovasi.

Inovasi material dengan bantuan teknologi mewarnai tema ini, termasuk bentuk abstrak terstruktur, tidak terduga, fleksibel, dan dinamis dalam siluet maupun tekstur.

"Seperti fashion, ada kalanya tren kembali ke gaya-gaya yang berkembang di masa lalu, tetapi dikemas lagi dengan sentuhan yang lebih modern. Dalam hal ini, neoclassic dan neo medieval yang menjadi contoh gaya lama yang muncul kembali di masa sekarang," tutur Detty yang juga berprofesi sebagai dosen di bidang desain interior ini.

Dia memperkirakan, gaya klasik murni sepertinya mulai ditinggalkan di tahun depan. Meskipun, sebagian masyarakat mungkin masih akan memilihnya. Alasannya, di era modern yang serbacepat dengan mobilitas yang tinggi, gaya klasik murni berkesan berat dan kuno apabila tidak dikombinasikan dengan komponen ruang yang lebih modern.

Ilustrasi.*/CANVA

Aplikasi pada hunian

Ketika mengaplikasikan konsep tersebut dalam desain interior hunian, masyarakat tentu bebas memilih gaya dan pendekatan apa yang sesuai dengan suasana ruang yang diinginkan. "Dalam penerapannya, tetap ada nilai-nilai lokal yang tidak bisa dihilangkan begitu saja, terlebih lagi bangsa ini kaya akan ragam hias dan unsur-unsur etnik tradisional lain yang dapat memperkuat identitas pe­milik hunian dan memperkaya suasana interiornya," tutur Detty.

Ia menyebutkan, hunian yang baik tentu harus dirancang sesuai dengan aktivitas dan kebutuhan yang spesifik dari setiap penghuninya. Seperti halnya pemilihan fashion yang akan menunjukkan kepribadian pemakainya, selera pemilik hunian dalam penataan interiornya juga akan menunjukkan karakter dan kepribadiannya.

"Desain interior juga harus membumi. Apa pun tema dan gaya perancangan yang dipilih, ia harus peka dengan potensi sumber daya alam dan lingkungan di sekitarnya," ucap Detty.

Dia mengungkapkan, tidak semua material finishing yang bagus dan berkualitas harus didatangkan dari luar pulau, bahkan dari luar negeri. Jika tinggal di Jawa Barat, misalnya, kita dapat menggali potensi-potensi alam Jawa Barat yang dapat kita optimalkan dalam perancangan interior.

"Misalnya, furnitur menggunakan rotan Cirebon dan upholstery kulit menggunakan kulit Garut," ujarnya.***

Bagikan: