Pikiran Rakyat
USD Jual 14.318,00 Beli 14.018,00 | Berawan, 25.4 ° C

Mengonsumi Mi Instan Berlebih Memicu Risiko Kanker

Siska Nirmala
Ilustrasi.*/CANVA
Ilustrasi.*/CANVA

BARU-baru ini ditemukan kasus kanker lambung stadium 4 pada pasieun anak yang berusia 13 tahun. Padahal, pasien tidak memiliki riwayat kanker dari keluarga.

Seperti dilansir Kantor Berita Antara, Dokter Spesialis Bedah dan Ahli Kankaer Saluran Cerna RS Kanker Dharmais, dr. Fajar Firsyada, Sp.B-KBD mengungkapkan, penyebabnya ternyata pola makan sang anak dalam dua tahun terakhir. Ia enggan makan bila tidak makan mi instan.

Menurut dia, sel normal dapat berubah menjadi sel kanker itu karena sel tersebut kontak dengan bahan asing yang bersifat karsinogenik atau memicu sel kanker dalam tempo yang lama dan jumlah yang besar. 

"Makan mi instan itu bukan perkara barangnya, tapi pada zat yang berkumpul di lambung. Zat yang bersifat karsinogenik itulah yang memicu kanker dan peribahan sel. Jadi, sangat disarankan tidak terlalu sering mengonsumsi mi. Apalagi, sekarang ini mi dibuat versi besar," ujarnya, di acara Cancer Information and Support Center (CISC) di Jakarta, Kamis, 20 Desember 2018, seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Dia menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian, makanan yang diawetkan dalam waktu lama meningkatkan risiko terjadinya kanker di saluran cerna dari lambung sampai usus.

"Kalau pun ada tambahan sayuran dalam penyajian mi instan itu seperti sawi atau pokcoy tidak berpengaruh. Solusinya, kita harus mengendalikan konsumsi makanan yang diawetkan, daging merah, daging olahan seperti patty burger, nugget, juga makanan yang serba dibakar dengan arang. Sebab, arang sendiri itu bersifat karsinogenik," ungkap dr. Fajar.

Kemoterapi 

Seorang penyitas kanker, Susie Yasin (70 tahun) juga mengalami hal yang sama. Ia harus berhadapan dengan penyakit mematikan tersebut, karena kebiasaannya mengonsumsi mi instan.

"Saya ini bolak-balik sakit maag sejak duduk di bangku SMA pada tahun 1967. Saya biasanya muntah-muntah. Tapi, maag saya semakin parah di tahun 2016. Setelah didiagnosis oleh dokter, ternyata saya terkena kanker stadium 2 yang mendekati 3.2 B," ungkapnya.

Ketika itu tahun 1973, sambungnya, sedang tren mi instan. Dirinya mengaku bahwa intesitas mengonsumsi mi instan meningkat sejak dirinya menikah pada tahun 1975. 
"Saya makan mi instan itu bisa empat kali dalam sebulan. Dan saya ini juga suka pedas. Jadi, makan mi instan ditambahkan potongan cabe," ujar Susie.

Dua tahun lalu, lanjutnya, tepatnya Juli tahun 2016, dirinya menjalankan terapi. "Begitu ditemukan kelainan dalam usus saya, langsung dioperasi oleh dokter. Setelah itu, saya melakukan kemo yang dimulai dari Agustus tahun 2016 hingga Januari tahun 2017. Total proses cure itu adalah enam kali kemoterapi. Dan Ca (cancer) marker atau penanda kanker saya yang tadinya 2 lebih sekarang menjadi 1,3 lebih," tutur Susie.

semakin rendah Ca marker atau penanda kanker, menunjukkan kondisi yang semakin baik. Bahkan, jika angkanya mendekati nol berarti kankernya sudah tidak terdeteksi lagi.

"Sekarang saya lebih banyak mengonsumsi protein hewani dari ikan karena saya penyuka ikan. Selain itu, saya juga makan tahu dan tempe. Saya juga banyak mengonsumsi makanan yang dengan kandungan antioksidan tinggi," katanya.***

Bagikan: