Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Cerah berawan, 28.4 ° C

NTRL, Seperempat Abad Tetap Rock

Muhammad Irfan

TRIO Bagus (bass, vokal), Coki (gitar), Eno (drum) tampil liar di ruang kecil i-six Bar, Kemang, Jakarta Jumat 30 November 2018 malam. Trio yang dikenal sebagai kelompok musik NTRL itu berbagi peluh plus seliweran aksi stage-diving penonton di atas pendeknya panggung level untuk merayakan 25 tahun kiprah mereka di kancah musik. Seperempat abad tetap rock!

Nama NTRL memang baru disandang oleh mereka sejak 2015. Namun, jauh sebelumnya, band itu sudah lebih dulu eksis sejak 1993 dengan nama Netral yang formasi awalnya diisi Bagus (bass, vokal), Bimo (drum), dan Miten (gitar). Formasi itu menelurkan tiga album yakni “Walah!” (1995), “Tidak Enak” (1997), dan “Album Minggu Ini” (1998).

Maka, konser ulang tahun perak mereka ibarat mesin waktu yang membawa penonton menjajaki perjalanan band itu dari masa ke masa. Dibuka oleh hits debut mereka “Walah!” sekira pukul 20.00, lagu bertempo cepat yang melejitkan nama NTRL pada 1995 itu pun langsung membakar arena. Aksi moshing dan koor tak terhindarkan.

Didit Saad



Ada yang menarik di panggung kala itu. NTRL mencoba melengkapi nostalgia dengan menarik personel lama. Di balik set drum, ada penabuh drum pertama Netral, Bimo. Sementara di sektor gitar didaulatlah Didit Saad menggantikan Miten yang meninggal karena sakit pada 2012 silam.

Usut punya usut, mantan gitaris band rock Plastik itu memang tak asal dicomot oleh NTRL untuk tampil. Karena, justru Didit Saad adalah gitaris band Bagus dan Bimo sebelum Netral terbentuk.

“Didit ini justru gitaris sebelum Miten. Dulu sempat ada Ipang juga ya, Dit?,” tanya Bagus ke Didit Saad.

Dengan formasi itu, NTRL membawakan dua lagu lawas. Selain “Walah!” dimainkan juga “Bobo”, dari album kedua mereka, serta lagu dari album ketiga “Pucat Pedih Serang”.

Usai lagu ketiga, Bimo undur diri digantikan oleh Eno. “Cahaya Bulan” yang diambil dari album keempat “Paten” (1999) pun dimainkan. Sejak lagu pembuka, kerumuman memang tak diberi jeda untuk tak ber-moshing ria.

Lagu “Cahaya Bulan” memang cukup bernilai historis bagi Eno. Di album ini, untuk pertama kalinya dia masuk NTRL menggantikan Bimo yang meninggalkan band. Penampilan di lagu hits ini pun begitu urakan.

Apalagi, Didit Saad yang semakin liar dengan membuka bajunya dan memberi permainan solo yang rancak bak kesetanan. Di tengah lagu, Coki, gitaris NTRL yang masuk sejak 2002 pun ambil bagian dalam keriaan.

“Cahaya Bulan” menjadi lagu terakhir yang dimainkan Didit Saad di atas panggung ulang tahun NTRL. Sebelum menyerahkan panggung untuk formasi terkini NTRL (Bagus, Eno, Coki), Didit Saad lebih dulu memberi ucapan selamat ulang tahun dan apresiasinya untuk semua orang yang pernah ada di NTRL.

“Gue ucapin selamat ulang tahun untuk teman-teman kecil gue. Bagus, Bimo, juga Miten yang enggak bisa bergabung di sini, karena lo semua tahu dia sudah damai di sana. Dan gue salut untuk NTRL yang sekarang, Bagus, Coki, Eno,” ucap dia yang ditanggapi sorak sorai penonton.

Didit Saad menambahkan kalimat penutup yang semakin membakar panggung, “Angkat tangannya, lo semua sayang sama NTRL kan? Sayang kan?”. Penonton bersahutan mengangkat tangan sambil menjawab sayang. Didit turun panggung, lagu cooling down, “Nurani” dimainkan.

Radhini dan Adra Karim



Di lagu yang masih diambil dari album “Paten” itu, NTRL mengajak serta vokalis perempuan Radhini dan keyboardis Adra Karim untuk berkolaborasi.

Meski cenderung bertempo lambat, aksi stage-diving justru semakin tak terhindarkan. NTRL pun kemudian mundur satu masa ke “Album Minggu Ini” (1998) dengan lagu “Kau” yang kembali jadi santapan koor dan moshing penonton.

Setelah “Kau”, NTRL lantas membawakan sejumlah lagu yang direkam dengan formasi Bagus, Eno, Coki. Lagu-lagu seperti “Haru Biru”, “Terbang Tenggelam”, dan “Sorry” dari album “Putih” (2005) secara berturut-turut dimainkan.

Di lagu “Sorry”, NTRL menyajikan aransemen yang lebih lambat dengan kembali menggaet Radhini dan Adra ke atas panggung.

Total ada 16 lagu mereka bawakan malam itu. Sejumlah hits seperti “Pertempuran Hati”, “Lintang”, “Zero Toleransi” dan “Garuda di Dadaku” turut dinyanyikan dan membuat koor yang tak henti di setiap set.

Penampilan malam itu ditutup lagu cover “Desaku” ciptaan L Manik yang dibawakan secara serampangan ala Netral. Urakan!

Konser intim



Jika mengacu pada standar kelayakan sebuah konser, untuk band sekelas NTRL, aksi semalam bisa jadi tak begitu ideal. Tapi siapa peduli kalau yang dihadirkan semalam adalah sebuah perayaan. Seperti temanya “Dari NTRL untuk NTRLZR”—sebutan untuk fans NTRL—maka konser itu adalah ajang keakraban antara idola dan fans.

Semua punya energi yang sama, keringat yang sama, plus keriaan yang sama menyambut usia baru NTRL.

NTRL juga merupakan band yang sudah banyak makan asam garam. Pengaruh mereka tak sebatas punk rock ala Blink 182/Green Day yang kerap distigmakan pada mereka. Jika merunut ke karya-karya awal, sulit untuk menafikkan banyaknya pengaruh era grunge atau bahkan US 90s indie rock ala Dinosaur Jr. di lagu mereka.

Paket lengkap ulang tahun itu disajikan pula dalam album the best bertajuk “XXV”, berisi lagu-lagu hits NTRL dari masa ke masa yang direkam ulang. Cerita baru NTRL di usia yang baru pun siap dicatat. Lewat semangat personel sekarang dan restu para personel terdahulu. Lalu Miten? Kau merayakan di sana!***

Bagikan: