Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 20.9 ° C

Suguhan Romantis dan Istimewa di Konser Kenny G

Windy Eka Pramudya

MUNCUL dari tengah kerumunan penonton, Kenny G langsung bikin heboh. Sambil memainkan saksofonnya, Kenny mengenakan stelan blaser biru tua. Rambut keritingnya yang sebahu dibiarkan terurai, seperti ciri khasnya selama ini. 

Kendati bukan konser pertama kalinya di Indonesia, aksi Kenny tetap disambut antusiasme ribuan penonton. Pada Selasa, 6 November 2018, Kenny melakoni konser kedelapannya di Indonesia. Berlangsung di The Kasablanka Mall Kota Kasablanka Jakarta, konser ini mengusung judul One Night Only. 

Karya musik yang disajikan memang hanya komposisi instrumentalia, tapi toh penonton tetap menikmatinya selama lebih dari 120 menit pertunjukan. Tanpa jeda, Kenny mengawali konser dengan tiga nomor sekaligus, yaitu Home, Silhoutte, dan G Bop.

Dia tampil dengan tempo yang dinamis. Di sejumlah bagian lagu dia meliuk-liukan nada dengan saksofonnya. Hal ini mengundang keriuhan penonton. 

Di lagu Silhoutte, musisi yang telah menelurkan 18 album ini bahkan meniup saksofon tanpa henti selama hampir tiga menit. Tentu saja aksi ini mengundang gemuruh tepuk tangan penonton. Di usia Kenny yang ke-62, musisi asal Amerika Serikat itu masih tetap tampil prima.

"Selamat datang dan terima kasih. Maaf bahasa Indonesia tidak bagus, tapi saya coba ya. Saya sudah sering datang ke Jakarta. Saya senang sekali berada di sini. Terima kasih atas kedatangan kalian," kata Kenny dengan terbata-bata dan mengundang tawa penonton karena melihat ekspresi Kenny.

Setelah menyapa, konser yang dipromotori CK Star Entertainment diisi dengan lagu Havana. Nomor ini termuat di album Kenny yang berjudul The Moment (1996). Lagu ini membuat penonton bergoyang kendati duduk di kursi. Aksen brazilian jazz yang kental membuat Havana dikemas dalam aransemen yang mengentak. Kehadiran para musisi pendukung membuat aksi Kenny lebih atraktif.

Penonton kemudian dibuat terbuai saat Forever in Love mengisi repertoar. Penyanyi yang memiliki nama lengkap Kenneth Bruce Gorelick itu merilis Forever in Love pada 1992 silam lewat album Breathless.

"Saya ingin mengajak kalian untuk mengubah arena konser menjadi klub jazz yang asyik. Siap ya," ujar Kenny yang kembali mengajak penonton bergoyang.

Repertoar Kenny diisi dengan Desafinado. Lagu ini termuat di album jazz Samba karya Stan Getz dan Charlie Byrd. Kenny menyebutkan, Stan Getz adalah salah satu musisi idolanya. Seusai Desafinado, Kenny melanjutkan pesta dengan Pieces.

Asia tempat istimewa



Suasana romantis menguak saat Going Home hadir. Penonton memberi tepuk tangan sejak intro lagu ini berkumandang. Soalnya, lagu ini memang akrab di telinga penonton sejak dirilis 1990 lalu. Lagu ini termuat di album live pertama Kenny, Kenny G Live.

Kenny mengaku, benua Asia memberinya tempat yang istimewa. Inilah sebabnya dia memiliki sejumlah lagu yang selalu dibawakan saat tampil di Asia. Di konser One Night Only, Kenny menyajikan Jasmine Flower yang disambung dengan Ni Won We Ai karya Teresa Teng. Nuansa musik Tiongkok mewarnai performa Kenny.

Memasuki babak akhir konsernya, Kenny terus menggempur telinga penonton dengan rentetan nomor yang akrab di telinga. Salah satunya The Moment yang dirilis pada 1996. Lagu ini pernah menduduki posisi nomor satu di tangga lagu Billboard kategori Top Contemporary Jazz Album.

Kenny menutup konsernya dengan Heart and Soul, Cadenza, Songbird, dan My Heart Will Go On. Di lagu terakhir yang merupakan soundtrack film Titanic itu, Kenny berhasil memancing suara penonton untuk bernyanyi. 

"Terima kasih Jakarta, dan sampai berjumpa lagi," ujar Kenny. 

Sebelum Kenny, konser One Night Only menampilkan Ardhito Pramono sebagai pembuka. Musisi muda Indonesia ini mengaku bangga bisa tampil membuka konser Kenny G.

Sambil bermain keyboard, Ardhito menyanyikan lagu gubahannya. Selama 30 menit, Ardhito melantunkan What They Feel About Me, Fake Optics, Bitter Love, dan karya komponis Ismail Marzuki, Rayuan Pulau Kelapa.***

Bagikan: