Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 25.1 ° C

Hati-hati! Begadang Ternyata Bisa Bikin Hormon Seks Menurun

SEMAKIN lama anak berbagi tempat tidur dengan orang tua mereka, semakin besar kesempatan itu durasi tidur pendek dan sering terbangun di usia 18 bulan.*
SEMAKIN lama anak berbagi tempat tidur dengan orang tua mereka, semakin besar kesempatan itu durasi tidur pendek dan sering terbangun di usia 18 bulan.*

JAKARTA, (PR).- Begadang kerap menjadi solusi untuk menyelesaikan pekerjaan, namun jika kebiasaan itu dibiarkan begitu saja, kadar hormon testosteron seorang pria akan menurun.

Penelitian menemukan bahwa pria yang waktu tidurnya di bawah rata-rata sebanyak 6,9 jam, akan kehilangan 1,5 persen hormon testosteron, menurut laporan Dailymail, seperti dikutip Kantor Berita Antara, Rabu 10 Oktober 2018.

Para peneliti yang dipimpin oleh University of Miami mengamati rata-rata tidur dari hampir 2.300 pria. Mereka memiliki waktu tidur antara dua sampai 12 jam setiap malam.

Kendati terjadi penurunan kadar testosteron yang tercatat, itu dalam kisaran normal. Penelitian juga menemukan bahwa massa tubuh tinggi dan mengonsumsi alkohol menyebabkan kadar testosteron menurun drastis.

Tidur dapat mengurangi testosteron dengan menganggu sinyal otak yang mengontrol hormon seks. Penelitian yang dipresentasikan dalam pertemuan di Denver, mengungkapkan bahwa "kualitas tidur" harus diperhitungkan ketika mempelajari penurunan kadar, yang dapat menyebabkan hilangnya dorongan seksual, depresi, dan kelelahan.

Presiden International Chromosome and Genome Society, Profesor Darren Griffin, mengatakan bahwa hal itu tidak mengejutkan. Ia mengatakan, “Kurang tidur memiliki sejumlah efek buruk terhadap kesehatan dan kita semua tahu bahwa betapa buruknya fungsi tubuh ketika kita tidak dapat tidur nyenyak".

Sel Otak Rusak



Pada 2014 lalu, sebuah penelitian menunjukan bahwa kurang tidur dapat menyebabkan rusaknya sel-sel otak. Berdasarkan penelitian dalam The Journal of Neuroscience, pengujian pada tikus menunjukkan kurang tidur yang berkepanjangan menyebabkan 25% sel-sel otak mati.

Penelitian ini menguji tikus laboratorium untuk tetap terjaga agar kurang tidur dan meniru perilaku kehidupan modern, seperti shift malam atau berjam-jam di kantor. Tim penelitian dari Universitas Pennsylvania itu mempelajari sel-sel otak tertentu yang terlibat dalam menjaga kesiagaan otak.

Setalah beberapa hari mengikuti pola tidur yang dilakukan oleh pekerja malam, hanya dengan waktu tidur antara empat sampai lima jam dalam 24 jam, tikus kehilangan 25% dari sel-sel otak, yang dikenal sebagai neuron-neuron locus coeruleus (LC).

Para ilmuwan mengatakan ini adalah bukti pertama bahwa kurang tidur dapat menyebabkan hilangnya sel-sel otak. Prof. Sigrid Veasey dari Center for Sleep and Circadian Neurobiology mengatakan kepada BBC, “Kami sekarang memiliki bukti bahwa kurang tidur dapat menyebabkan kerusakan yang tidak dapat disembuhkan”. (Fani Ferdiansyah)***

Bagikan: