Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Sebagian berawan, 20.9 ° C

Sinopsis Aruna & Lidahnya, Kisah Cinta dan Persahabatan

Windy Eka Pramudya

BAGI Aruna (Dian Sastrowardoyo) dan Bono (Nicholas Saputra), masak dan makan adalah dua hal yang menyenangkan. Profesi Bono sebagai chef membuat dia harus terus berurusan dengan makanan. Sementara itu, Aruna adalah penikmat kuliner. Persahabatan Aruna dan Bono adalah wujud dari kecintaan terhadap aktivitas makan yang menyenangkan.

Kesempatan untuk menjelajahi kuliner nusantara hadir saat Aruna harus melakukan investigasi wabah flu burung di sejumlah daerah. Sebagai ahli wabah, Aruna diminta bosnya, Pak Burhan (Desta) dan Mbak Priya (Ayu Azhari) untuk mencari tahu dari mana wabah flu burung bermula. 

Rute perjalanan Aruna akan melewati Surabaya, Madura, Pontianak, dan Singkawang. Tentu saja, Bono kemudian bersemangat untuk ikut karena dia ingin berwisata kuliner.

Sampai di Surabaya, Aruna tak menyangka dia bertemu Farish (Oka Antara), pria yang pernah dia taksir. Selain Farish, bergabung juga Nadezhda atau Nad (Hannah Al Rashid), perempuan yang sedang ditaksir Bono.

Farish yang merupakan dokter hewan diminta kantornya untuk mendampingi Aruna melakukan investigasi, sedangkan Nad, penulis kuliner diajak Bono untuk bergabung.

Mulanya, perjalanan mereka berlangsung menyenangkan. Kendati Aruna sebal Farish yang kaku itu ikut, dia bersyukur karena ada Bono dan Nad yang satu frekuensi dengan dia, yaitu suka makan.

Selama investigasi, Aruna dan Farish sering kali terlibat perang mulut tak berkesudahan. Mereka berdua sama-sama keras kepala. Apalagi Aruna mulai menemukan kejanggalan saat dugaan flu burung tidak terbukti.

Dari Surabaya dan Madura, perjalanan berlanjut menuju Pontianak. Di sini, Aruna tambah yakin, ada sesuatu yang tidak beres dengan isu wabah flu burung. Namun, Farish mematahkan prasangka tersebut. Farish tetap yakin, ada wabah di kota itu.

Saat mereka bergeser ke Singkawang, konflik antara Aruna dan Farish semakin tajam. Sementara itu, Bono dan Nad mulai berjarak. 

Puncaknya saat Mbak Priya tiba-tiba datang ke Singkawang. Semua rahasia pun terungkap. Aruna kabur ke Pontianak sendirian. Dia ingin mencari resep nasi goreng yang biasa dibuatkan Si Mbok di rumah ibunya. Aruna yakin, Si Mbok yang merupakan transmigran di Pontianak mendapatkan resep enak nasi goreng di kota itu.

Setelah Aruna pergi, di Singkawang, Bono dan Farish pun ribut. Bono marah karena menyangka Farish telah menyakiti Aruna. Bono juga harus berterus terang kepada Nad tentang isi hatinya. Dia ingin Nad merasa memiliki ”rumah” saat harus pulang dari petualangan mengumpulkan materi tulisan kulinernya.

Bagaimana akhir kisah empat karakter ini? Akankah Aruna berhasil kembali ke masa kecilnya dengan menemukan nasi goreng seperti buatan Si Mbok? Bagaimana hubung­an Aruna dan Farish, serta Bono dan Nad?

Komedi tanpa komika



DIADAPTASI dari novel karya Laksmi Pamuntjak, film ”Aruna & Lidahnya” merupakan produksi baru Palari Films. Tahun lalu, rumah produksi ini sukses melahirkan ”Posesif”, drama cinta remaja yang membawa pulang tiga Piala Citra pada Festival Film Indonesia. 

Mulai tayang Kamis, 27 September 2018, ”Aruna & Lidahnya” menjadi tantangan baru untuk sutradara Edwin yang dikenal kerap membesut film-film kelam. Film ”Posesif” adalah salah satu karya Edwin yang menghadirkan sisi gelap cinta remaja.

Di ”Aruna & Lidahnya”, Edwin bermain dengan sisi humor yang kental lewat skenario yang ditulis Titien Wattimena. Warna-warni cerah yang membungkus tone film membuat film ini tampil beda dari tangan Edwin. 

Edwin berhasil menyuguhkan Dian Sastro dan Nicholas Saputra yang sukses keluar dari citra Cinta dan Rangga di ”Ada Apa Dengan Cinta?” (2002) dan ”Ada Apa Dengan Cinta? 2” (2016).  

Persahabatan Aruna dan Bono adalah bagian menyenangkan di film ini. Celetukan dan ledekan yang sangat natural membuat film ini sesekali membuat penonton tertawa. Tak berlebihan, tetapi penempatannya pas dan menjadi bumbu yang membuat film berdurasi 106 menit ini cukup lezat.

Film ini membuktikan, unsur komedi bisa hadir tanpa harus memakai pelawak atau komika pelawak tunggal.

Hal lain yang membuat menarik untuk disimak adalah menu sejumlah makanan yang menghiasi adegan. Dijamin, Anda akan menelan air liur saat melihat iga rawon atau sop buntut disajikan dengan kuah hangat. Jangan lewatkan kenikmatan mi kepiting yang dicicipi Aruna dkk saat mampir di Pontianak. Lihatlah gemuknya daging kepiting di dalam cangkang yang dimakan bersama mi penuh bumbu.

Anda bahkan akan dengan sangat mudah membayangkan semangkuk soto lamongan nan nikmat saat Aruna bertemu salah seorang pasien terduga flu burung. Pasien itu menceritakan dengan detail segala bahan dan bumbu yang terdapat pada soto lamongan buatan mendiang istrinya. 

Deskripsi tentang kelezatan soto lamongan diwujudkan saat Aruna, Bono, dan Nad menyantap soto lamongan di suatu kedai.

Pada pemutaran perdana di Paskal 23, Jalan HOS Cokroaminoto, Kota Bandung, Jumat, 21 September 2018 lalu, Edwin mengatakan, setelah ”Posesif”, dia memang ingin menggarap film lain yang berbeda dari apa yang sudah dikerjakan. Suatu hari, Edwin menemukan novel Aruna & Lidahnya di mejanya. Dia mencoba membaca, sampai menemukan kalau cerita novel itu sungguh menyegarkan.

”Kisahnya ada tentang persahabatan, naksir-naksir sebal dengan lawan jenis, dan makanan. Buat saya ini manis dan saya belum pernah bikin film yang seperti ini,” kata Edwin yang menjadi Sutradara Terbaik pada FFI 2017.

Selain skenario dan sinematografi yang apik, film ini juga didukung soundtrack yang menyenangkan dan membangkitkan nostalgia. Sebut saja ”Aku Ini Punya Siapa” dari January Christy dan ”Antara Kita” yang dulu dipopulerkan Rida Sita Dewi, kali ini hadir lewat suara Monita Tahalea. Tak ketinggalan nomor ”Takkan Apa” milik Yura yang termuat di album ”Merakit”.***

Bagikan: