Pikiran Rakyat
USD Jual 14.325,00 Beli 14.025,00 | Umumnya berawan, 28 ° C

Jangan Sepelekan Gangguan Jiwa, Depresi pada Ibu Bisa Berakibat Anak Stunting

Eva Nuroniatul Fahas

MENURUT Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS Melinda-2 Teddy Hidayat, ada banyak alasan mengapa kesehatan jiwa penting dan perlu mendapat perhatian. Khususnya dalam pembangunan sumber daya manusia.

Prediksi WHO, hilangnya waktu produktif akibat gangguan jiwa, pada 2020 akan meningkat menjadi 15% dibandingkan dengan tahun 2000 yang hanya 12,3%. Bahkan pada 2030, depresi akan menduduki urutan pertama dalam hilangnya waktu produktif, melebihi penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler). Kerugian akibat kehilangan hari produktif merupakan kerugian yang sangat besar. 

Teddy melanjutkan, dari berbagai studi disebutkan bahwa 30% populasi dunia memiliki masalah dengan kesehatan jiwa dan 1-3%  menderita gangguan jiwa berat dengan diagnosis skizofrenia yang sebagian besar penderitanya belum terdeteksi atau belum mendapat pengobatan. 

”WHO melaporkan, 1 dari 5 orang di dunia menderita gangguan jiwa mulai yang ringan hingga berat. Berdasarkan data di layanan primer, 20%-40% pasien menunjukkan gejala gangguan jiwa yang menyertai kelainan fisik yang dideritanya. Di unit gawat darurat, 20%-30% ditemukan gejala gangguan jiwa dan pada pasien rawat inap di rumah sakit, 11% mengalami depresi, namun hanya sebagian saja yang dapat dikenali dan diobati,” tuturnya.

Kesehatan jiwa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia. Misalnya, di bidang olah raga, agar atlet dapat mencapai prestasi pada kompetisi diperlukan kondisi fisik yang prima, teknik olah raga yang baik, serta memiliki kesiapan mental serta ambisi. Atlet yang berprestasi biasanya memiliki karakteristik khusus, yaitu mental juara;  kecerdasan tinggi, kebutuhan sukses, bersikap asertif, punya kebutuhan dominasi, memiliki tingkat kecemasan rendah, dan kontrol emosi kuat.

Depresi juga bisa akibatkan anak stunting



Stunting yang sampai saat ini masih menjadi masalah di Indonesia, juga berhubungan dengan gangguan jiwa. Ibu-ibu yang mengalami depresi (perempuan lebih banyak mengalami depresi) atau gangguan jiwa lain dapat mengalami kesulitan pengasuhan atau parenting yang menyebabkan asupan gizi anak kurang, tubuhnya pendek, dan menurunkan kemampuan kognitif atau kecerdasannya. 

Bagaimana bisa? Teddy menjelaskan, gangguan kesehatan jiwa bisa mengarah pada kejadian stunting pada bayi. Stunting adalah kegagalan tumbuh kembang bayi (anak) karena minim nutrisi. Salah satu efeknya adalah anak tidak tumbuh optimal dan lebih pendek dari anak seusianya; salah satu penyebab stunting berdasarkan medis adalah kurangnya asupan nutrisi pada bayi (anak).  

Gangguan jiwa dengan kemiskinan ibarat  lingkaran setan. Gangguan jiwa menyebabkan seseorang menjadi miskin dan kemiskinan dapat menyebabkan dan memperburuk prognosis gangguan jiwa. Kemiskinan adalah stresor berat yang bila terus-menerus tidak jarang berakhir dengan depresi. 

Pengetahuan yang rendah dan ada masalah kejiwaan akan mempengaruhi parenting dan kehamilan. Ibu mengandung yang kurang mendapat asupan gizi akan melahirkan bayi kurang gizi dan mengalami stunting. Gangguan perkembangan pada anak dapat berpengaruh pada daya pikir sehingga meningkatkan potensi angka kemiskinan di masa mendatang. 

Oleh karena itu, Teddy menyarankan kepada masyarakat yang merasa memiliki gejala gangguan kejiwaan, atau jika melihat ada anggota keluarga yang menunjukkan gejala menderita kesehatan jiwa, segera datangi layanan kesehatan terdekat. Semakin cepat mendapat penanganan, akan semakin baik.***

Bagikan: