Pikiran Rakyat
USD Jual 14.235,00 Beli 13.935,00 | Berawan, 24.4 ° C

Menerjemahkan Tren Mode 2019-2020

Endah Asih Lestari

PARADOKS antara manusia dan kecerdasan intelektual (AI) akan menjadi highlight tren mode di tanah air, satu hingga dua tahun mendatang. Hal tersebut mengemuka dalam seminar Trend Forecasting 2019/2020 bertema ”Singularity”, yang digelar dalam 23 Fashion District 2018, di Main ­Atrium 23 Paskal Shopping Centre, Bandung, Jumat, 7 September 2018 lalu.

Pada ajang tersebut, sebagian besar desainer menerjemahkan tren mode yang digagas Indonesia Trend Forecasting dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) itu.

Seperti konsep yang ditawarkan Danjyo Hiyoji, yang mendapat sambutan meriah. Brand lokal yang digawangi oleh Dana Maulana dan Liza Mashita ini, dalam setiap koleksinya selalu mengandalkan kesederhanaan, tetapi tetap inovatif. 

Pada pergelaran tersebut, mereka menampilkan tema "Bizzare Blossom". Koleksinya bercerita mengenai sebuah generasi yang meskipun tumbuh di lingkungan aneh, tetapi memiliki kontribusi besar kepada masyarakat dalam berbagai aspek.

Pemilihan warna dan potongannya menghasilkan busana ready to wear dengan desain unik, berkarakter, dan penuh percaya diri. Dengan mengusung brand signature yang unisex, hal itu membuat koleksi Danjyo Hiyoji bebas dikenakan siapa saja.

Pemilihan warna terang juga menjadi pilihan beberapa desainer. Seperti Lia Mustafa lewat brand Ammalee. Lewat tema "Mask", Lia menampilkan sederet koleksi yang terinspirasi dari Cirebon dan Keraton Kasepuhan. Menggunakan material tekstil rajut, Lia memilih palet warna seperti oranye, biru elektrik, putih, dan kuning. 

Yang juga tampil atraktif adalah rancangan Hannie Hananto bertema "Playground". Mantan arsitek yang banting stir menjadi desainer busana ini, terinspirasi dari memorabilia masa kecil. 

Hannie memilih warna-warna terang seperti kuning, merah, biru, hitam, dan putih.

Untuk membuatnya lebih atraktif, Hannie menggoreskan beragam ilustrasi seperti boneka kayu, building block, dan berbagai mainan masa kecil lainnya.

Selain menampilkan material katun dan wally, Hannie juga mencetak ilustrasi urban karikatur di atas kain sifon. Hasilnya, desain atraktif Hannie terlihat stylish di atas kaftan, dress, skirt, hingga blouse longgar all sizes. 

Tak kalah atraktif, Irna Mutiara lewat brand Up2date juga coba memopulerkan lagi gaya preppy look. Dengan gaya kasual yang klasik, koleksi Irma mengangkat tema "Librarian". 

Terinspirasi dari gaya pustakawan, Irma memilih palet warna tegas dan berani seperti merah, biru, dan hijau. Dia mengatakan, warna itu mendefi­nisikan semangat generasi milenial yang senang dengan tantangan.

Dia menggunakan bahan baku tarten Skotlandia dan katun dengan siluet A-line oversized. Irna berharap, penggunanya akan merasa nyaman dan leluasa beraktivitas. 

Tradisional



Selain pilihan berbagai desain modern, banyak pula desainer yang tetap menampilkan unsur tradisional sebagai jati diri bangsa. Tentu saja, sambil dipadukan dengan garis desain stylish yang modis.

Seperti yang dilakukan Bateeq, produksi pakaian batik siap pakai yang mengkhususkan pada pasar anak muda. Selain itu, ada koleksi yang diperlihatkan desainer asal Semarang, Fenny Chen. 

Riri Rengganis lewat brand Rengganis, juga memilih jalan itu. Desainer yang akhirnya menetap kembali di kota kelahirannya, Bandung, menampilkan koleksi berjudul "Shore" yang menjadi kenangan tak terlupakannya saat berkarier di Bali selama 8 tahun.

Perpaduan antara resort wear dan office wear musim panas merupakan ide dasar dari koleksi ini. Tentunya, tanpa melupakan ciri khas Rengganis, yaitu detail bordir tangan plus aksen tekstil tradisional.

Material utama dari koleksi ini, yaitu katun voal putih polos, dengan aksen etnik berupa tenun baduy, tenun sikka, serta batik tulis dan cap pekalongan. Uniknya, semua kain tradisional tersebut menggunakan pewarna alam.

Hasil akhirnya pun juga terlihat ready to wear dan mudah dilakukan mix and match, sehingga menghindari kesan etnik yang terlalu kaku.

"Skema warna merupakan perpaduan antara warna cokelat muda yang mewakili pasir dan biru muda yang mewakili laut. Warna putih dengan motif krawangan mewakili busa ombak laut, sedang­kan motif bordir lain terinspirasi bentuk berbagai macam daun tanaman liar yang biasa digunakan untuk pe­war­na alam," tutur Riri.***

Bagikan: