Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Umumnya berawan, 23.3 ° C

Lima Rekomendasi Kuliner Nikmat di Ciateul Kota Bandung

Vebertina Manihuruk

WALAUPUN kurang populer dalam pariwisata Kota Bandung, nama Ciateul turut disebut dalam sejarah. Jalan ini memang melekat dalam sejarah hidup Presiden Soekarno karena ia sempat tinggal di kawasan itu ketika menikah dengan Inggit ­Garnasih.

Sejak dulu sampai sekarang, jalan itu juga dikenal sebagai kawasan perdagangan, terutama jual-beli kendaraan bermotor. Namun, di beberapa titik, bermunculan restoran, kedai, warung makan yang produk masakannya diminati banyak orang dan menjadi favorit, terutama bagian jalan yang masih dua arah.

Bila ingin menelusurinya, kita bisa melaluinya dengan dua arah yang berbeda. Perburuan kuliner Ciateul bisa dimulai dari persimpangan Jalan Pungkur atau melalui persimpang­an Jalan Oto Iskandardinata. Namun, pusat keramaian kulinernya hanya pendek, di antara Jalan Pungkur dan Jalan Moh Toha.

Rumah makan dan kedai yang berkonsep modern di sana memang terbilang baru. Usianya masih sangat belia. Namun, ada juga sebagian kecil yang merupakan penjual lama dan olahan makanannya masih menjadi favorit sampai sekarang, seperti Lotek Ciateul.

Ada yang lama dan baru. Mari kita mencoba beberapa di antaranya yang tersaji di Jalan Ciateul. Cita rasa berbagai masakan yang khas Indonesia akan membuat kita semakin berselera untuk terus menjajal rasa di sana.

1. Lotek Ciateul 



SALAH satu makanan khas Tatar Sunda yang nikmat adalah lotek. Campuran aneka sayur ­dengan bumbu kacangnya yang khas dan kental membuat lotek menjadi makanan favorit. Salah satu lotek yang sudah sangat legendaris berusia puluhan tahun adalah Lotek Ciateul di Jalan Ibu Inggit Garanasih Nomor 92 Kota Bandung.

Selain bisa menyantap lotek, kita pun bisa menikmati kesegaran dan dinginnya es lilin. Es lilin itu memang bukan produk Laniwati, tetapi bisa dinikmati sambil menunggu antrean pembeli lotek yang tersedia dalam aneka rasa seperti mangga, durian, sirsak, ketan hitam, kacang ijo, kacang merah, dan lainnya. 

2. Makaroni Ngehe 



TREN camilan pedas memang tidak ada habisnya. Mulai dari gurilem, lalu berpindah ke singkong, dan ke berbagai ma­kanan lainnya. Salah satunya yang sekarang sedang sangat populer adalah makaroni pedas yang khas dari Makaroni Ngehe, Jalan Ibu Inggit Garnasih Nomor 107C Kota Bandung.

Meski namanya makaroni dan memang sajian makaroni yang paling menjadi favorit, di sana ada banyak lagi ragam camilan yang disajikan pedas dan gurih. Misalnya, bisa memilih bihun goreng, usus goreng, otak-otak, mi kriuk, mi lidi, dan banyak lagi. Bumbu yang dicampurkan ke dalamnya pun bisa dipilih antara asin, pedas, keju, ataupun balado yang rasanya manis-pedas.

Namanya juga camilan pedas, Makaroni Ngehe juga menyedia­kan lima level kepedasan yang diberikan nama-nama unik. Misalnya level 1 #kadeudeuh bu omay, level 3 #ciwit bu tina, dan level 5 #pitnah bu lilis.

Menurut Ilyas Solehudin, salah satu pegawai di sana, makaroni kering, makaroni basah, dan usus memang paling diminati saat ini. Pembelinya pun kebanyakan yang memesan melalui aplikasi, sehingga yang mengantre di sana sejak buka pukul 9.30 adalah para pengendara ojek daring. 

3. Sie Jeletot



BAGI penikmat pedas, makan apa pun pasti baru lezat kalau disantap dengan sambal yang pedas. Bila ingin yang bukan sekadar pedas biasa, sambal Sie Jeletot, Jalan Ibu Inggit Garnasih Nomor 94 Kota Bandung, bisa menjadi pilihan.

Sambal Sie Jeletot memang memiliki cita rasa pedas yang sangat pedas. Sambal itu akan menemani kita untuk menyantap ayam goreng, ayam bakar, cumi bakar, ikan bakar, ataupun lauk sampingannya seperti perkedel, tahu, tempe, sate usus, sate ati, dan sebagainya.

Meski rasanya sangat pedas, sambal itu tidak disajikan dalam jumlah yang terbatas. Justru, sajian sambalnya terasa terlalu banyak karena cita rasanya yang pedas membuat kita hanya mengambilnya sedikit demi sedikit. Namun, bila memang suka, satu piring kecil mungkin bisa dihabiskan sambil menyantap lauk dan nasinya ketika masih hangat.

Menurut Acun, salah seorang pegawai di sana, Sie Jeletot itu merupakan cabang rumah makan serupa di Jalan Pasundan yang sudah lebih dulu berdiri. Sajian ayam bakar dan cumi bakar selama ini menjadi favorit untuk disantap bersama sambalnya yang khas.  

4. Ayam Geprek Ibu Suri 



PENYAJIAN ayam dengan digeprek juga sedang sangat digemari. Ayam dengan tepung yang kemudian digep­rek de­ngan sambal, gurih, pedas, nikmat! Itu­lah yang menjadi andalan di Ayam Gep­rek Ibu Suri, Jalan Ibu Inggit Garnasih Nomor 146 Kota Bandung.

Menurut Haris Wijaya, pemilik Ayam Geprek Ibu Suri, ayam gepreknya juga memiliki kekhasan lain, yaitu menggunakan daun bawang dan daun jeruk yang cukup banyak. Hasilnya, ayam yang disajikan memang bukan hanya gurih dan pedas, tapi juga beraroma yang menggugah selera. Ayam geprek itu merupakan cabang yang baru buka empat bulan ke belakang. Tempat lain untuk menikmati Ayam Geprek Ibu Suri ada di kawasan Pasar Segar TKI. 

5. Ayam Goreng Ciamis 



OLAHAN ayam goreng, meskipun namanya sama-sama ayam goreng, biasanya memiliki kekhasan dari daerahnya masing-masing. Bila ingin mencoba ayam goreng khas Ciamis, maka bisa ke Ayam Goreng Ciamis, Jalan Ibu Inggit Garnasih Nomor 84 Kota Bandung.

Meski tidak terlalu jelas bedanya ­dengan ayam goreng pada umumnya, ayam gorengnya memang bercita rasa gurih dan cukup empuk. Ia tidak menggunakan banyak kremes atau bumbu kering, tetapi cukup bisa memberikan cita rasa gurih.

Selain ayam goreng, santapan yang juga bisa dicoba cita rasanya adalah nasi goreng kampung yang bumbunya menggunakan kunyit. Penggunaan bumbu ku­nyitnya pun pas sehingga tidak meninggalkan aroma atau rasa yang tidak enak di lidah.

Rumah makan yang baru beroperasi sejak sebulan terakhir itu juga menyediakan olahan lain seperti oseng jambal cabe gendot, aneka perkedel, dan cimplung. Selain itu, ada pula aneka nasi goreng yang menggunakan pete ataupun jambal.***

Bagikan: