Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 24.6 ° C

Menyaksikan Kebengalan Libertines

Muhammad Irfan

Nama kuartet The Libertines di Indonesia boleh jadi tak lagi segemilang satu atau dua dekade ke belakang. Unit garage rock bengal asal London ini memang pernah kocar kacir pasca-problem di internal band yang membuat satu per satu personelnya hengkang dan membuat proyek masing-masing sejak 2004. Mereka lantas reuni pada 2014. Dan, empat tahun setelahnya, fans Indonesia berkesempatan menyaksikan kebandelan mereka secara langsung!

Adalah Hodgepodge Superfestival 2018 yang menjadi tempat Libertines memanjakan para fans-nya yang kebanyakan mengikuti karir bermusik mereka sejak "Up the Bracket" (2002) dan "The Libertines" (2004). Digelar oleh Java Festival Profuction di Allianz Ecopark Ancol, Jakarta, The Libertines menjadi penampil utama di hari pertama fetival yang digelar sejak Sabtu hingga Minggu, 1-2 September 2018.

Naik panggung sekitar pukul 22.30 WIB, Libertines langsung menyapa para penggemarnya yang sudah setia menunggu sejak uji suara dilakukan. Kebandelan para personelnya langsung terasa ketika Pete Doherty, gitaris, vokalis band ini menyapa penonton sambil melempar payung yang dia bawa dari belakang panggung. Aksi ini pun jadi rebutan penonton yang memang sudah histeris sejak para personel Libertines satu per satu naik pentas.

Doherty tampil necis menggunakan stelan jas slim-fit yang membalut tubuh jangkung kurusnya. Sedikit kontra dengan Carl Barat (vokal/gitar) yang terlihat sangat rocker dengan jaket kulit dan newsboy cap. Sementara basis John Hassal memilih ber-outfit sederhana, drummer Garry Powel justru bertelanjang dada seolah siap berkeringat menghentak seluruh set-nya di tengah panasnya udara Jakarta. "Delaney" pun dimainkan.

Lagu pertama yang diambil dari album the best mereka "Time for Heroes" (2007) ini langsung menyulut penonton untuk melompat dan ikut menyanyi bersama di bawah komando Doherty dan Barat. Belum mau menurunkan tensi, "Barbarian" dari album reuni "Anthemns for Doomed Youth" (2015) dipilih menjadi lagu kedua.

Sedikit masalah pada gitar Doherty, membuat mereka harus berhenti jelang lagu ketiga. Kesempatan ini digunakan oleh Barat untuk meyapa penonton. Dia dan bandnya mengaku sangat senang bisa tampil pertama kali di Indonesia dan mendapat sambutan yang hangat dari fansnya

"Jakarta terima kasih telah menerima kami disini, kami The Libertines,” kata Barat yang langsung mendapat aplaus dari penonton. Lagu ketiga "Fame & Fortune" kemudian digeber mengiringi lagu-lagu lain yang membuat para penonton tak henti menyanyikan lagu-lagu dari kelompok yang terbentuk sejak 1997 ini.

Sambil Santai



The Libertines adalah satu dari sekian banyak penampil yang unjuk gigi di Hodgepodge Superfestival 2018 ini. Seperti namanya yang berarti campur aduk, Hodgepodge memang menawarkan pengalaman musik yang berbeda bagi setiap pengunjungnya.

Selain bisa menikmati musik sambil bersantai karena disediakan sejumlah spot untuk nongkrong yang asyik, festival ini menyajikan banyak musisi lokal hingga internasional dari berbagai macam genre di empat panggung yang berbeda. Dimulai sejak sore hari, Hodgepodge hari pertama misalnya menampilkan musisi lokal seperti GHOSS yang memainkan triphop/rock, funk dari trio Bandung 70SOC, indie pop dari Elephant Kind, Trees and The Wild yang memainkan folk, musik elektronik dari Soundwave, hingga aksi indierock macam Barefood.

Sementara penampil internasionalnya pun tak kalah banyak. Ada rapper California, Marteen, musik elektronik dari Lemaitre (Norwegia), Vancouver Sleep Clinic (Australia), hingga Jess Connely (Filipina), atau aksi-aksi indie rock yang sekarang sedang jadi perbincangan seperti Sundara Karma (Inggris), Day Wave (Amerika), dan Swim Deep (Inggris). Ada juga penampilan folk dari Didirri (Australia) hingga penyanyi R&B asal Amerika Serikat, August Alsina yang cukup menjadi magnet bagi penonton malam itu.

Dengan beragamnya para penampil dan konsep yang ditawarkan ini tentunya Hodgepodge menjadi festival yang mampu memayungi berbagai penikmat genre apapun. Meskipun diakui jarak yang cukup jauh dari satu venue ke venue lainnya dan penampil yang sangat beragam dengan fans-nya masing-masing membuat festival ini terasa agak lenggang dan berbeda dengan festival pada umumnya yang cenderung hiruk pikuk. Tetapi dari sisi konsep yang berbeda dalam menyajikan festival musik, Hodgepodge layak menjadi perhatian.***

Bagikan: