Pikiran Rakyat
USD Jual 14.449,00 Beli 14.351,00 | Umumnya berawan, 22.7 ° C

Wiro Sableng, Salut Silat Bikin Tak Sulit [Spoiler Free]

Yusuf Wijanarko

DALAM cerita silat, pendekar yang memilih mengasingkan diri hidup di gunung biasanya adalah para resi, mahaguru, atau master. Mereka lazimnya sudah mencapai derajat tertinggi keilmuan dan pengetahuan.

Akan tetapi, bukan cuma itu alasannya. Ada pula mereka yang melakukannya karena kecewa dan tak sejalan dengan sifat-sifat masyarakat di lingkungannya, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, atau sekadar antisosial.

Sinto Gendeng adalah salah satunya. Dalam film Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, setelah menguasai ilmu silat tingkat tinggi, sudah sekira 40 tahun dia mengucilkan diri dari peradaban karena alasan yang masih dibuat abu-abu di film pertama ini.

Suatu peristiwa lantas membuatnya mengangkat seorang anak, yang kemudian dikenal dengan nama Wiro Sableng, sebagai murid.

Di tengah masyarakat, Wiro Sableng tetap merupakan orang dari “luar”. Seperti juga kebanyakan struktur cerita petualangan (quest), Wiro Sableng mendapat bantuan dari tokoh lain (sidekick) untuk mencapai tujuannya.

Akan tetapi, tak peduli seberapa dalam Wiro Sableng tenggelam dalam konflik, dia tidak mengasosiasikan diri dengan kelompok manapun dan kepentingan apapun.

Dia setia mengemban misinya meringkus Mahesa Birawa, mantan murid Sinto Gendeng yang berkhianat dan menebar teror. Sikap itu menjadi cerminan bahwa siapapun yang punya niat lurus, jalannya akan dimudahkan lewat cara-cara yang tak diduga.

Buktinya, kekacauan muncul saat niat Wiro Sableng mengalahkan Mahesa Birawa dibengkokan nafsu lain.

Jianghu dan anakronisme



Dalam sinopsis yang beredar luas di duia maya disebutkan bahwa film Wiro Sableng berlatarkan berlatar waktu abad ke-16 di Nusantara dan ada penyebutan tempat seperti Gunung Gede.

Meski begitu, sejatinya realitas semesta cerita Wiro Sableng di dunia persilatan bisa digolongkan ke dalam apa yang disebut jianghu.

Jianghu merupakan kata dalam bahasa Tiongkok yang secara harfiah berarti “sungai dan danau” tetapi punya makna lebih luas.

Sederhananya, jianghu adalah dunia antah-berantah dengan hukum legal formal yang absen. Status seseorang di dalam masyarakat justru tidak ditentukan tingkat pendidikan dan kekayaan tetapi oleh reputasi dalam soal kemampuan bertahan hidup di dunia nirhukum.

Salah satu ciri utama jianghu yaitu adanya relasi intim antara guru dan murid. Ilmu dan pengalaman diwariskan melalui pendidikan nonformal dengan interaksi yang intens. Para master silat sengaja hanya mengangkat beberapa murid sehingga terjadi hubungan yang mirip orangtua dan anak. Jika di Tiongkok Jianghu identik dengan kungfu, di sini jianghu dekat dengan silat.

Wiro Sableng juga menghuni dunia anakronis. Angka Latin 212 langsung dapat dideteksi sebagai kejanggalan berterima. Selain itu, banyak hal lain seperti dialog, senjata, maupun pakaian yang menegaskan bahwa Wiro Sableng adalah cerita anakronis dan memang sudah seperti itu sejak dari bukunya. Jadi, tak perlu dipersoalkan.

Kritis dan puitis



Silat, jianghu, dan anakronisme justru dengan cerdas dijadikan kendaraan kritik. Adanya nama Seno Gumira Ajidarma dan Tumpal Tampubolon dalam jajaran penulis skenario memunculkan rasa penasaran akan sekritis dan sepuitis apa filmnya.

Hasilnya memuaskan dan boleh dibilang film ini sudah berada di tangan yang tepat. Wiro Sableng menyentil banyak persoalan sosial, politik, dan budaya kekinian—bahkan keakanan—dengan subtil.

Jika dicermati, konflik sekunder dalam film Wiro Sableng punya skala destruktif yang lebih masif terhadap tatanan sosial daripada sekadar urusan personal guru dan (mantan) murid. Namun, konflik itu diletakkan agak berjarak supaya tak mengangkangi narasi utama filmnya tentang pencarian jati diri.

Sudah umum diketahui bahwa silat punya falsafah yang memeluk erat nilai-nilai luhur kebajikan lahiriah maupun batiniah.

Belakangan ini, silat mendapat tempat istimewa di hati masyarakat kita. Pencak silat menjadi tambang emas Indonesia di Asian Games 2018. Silat juga terbukti menjadi jalan terbaik bagi Indonesia untuk menembus industri perfilman Hollywood.

Di sisi lain, diangkatnya kisah Wiro Sableng ke layar lebar adalah bentuk glorifikasi silat. Film ini menjadikan silat sebagai salut (pembungkus) yang terbukti menarik minat penontonnya. Lewat silat, isu sosial, politik, dan budaya yang rumit digali sampai ke akarnya dan disederhanakan sehingga dapat dipahami dengah cara yang tidak lagi sulit.

Racikan drama, laga, dan komedi film ini terasa pas meski tak semua lawakannya mampu membuat penonton tertawa. Toh selera komedi tiap orang berbeda.

Sementara dialog, detail scene, bahkan adanya tembang membuat para penggemar karya-karya Seno Gumira Ajidarma seperti saga Nagabumi maupun Kitab Omong Kosong akan menyukai film ini, begitupun sebaliknya.

Bagi yang hendak menonton, sebaiknya tetap duduk manis sambil mendengarkan lagu pengiring post-credit dari band cadas asal Bandung karena ada satu post-credit scene.***

Bagikan: