Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Hujan petir singkat, 22 ° C

Puno (Letters To The Sky), Kisah Tentang Kehilangan

Windy Eka Pramudya

KEHILANGAN menjadi salah satu hal yang menyakitkan dalam hidup. Apalagi jika kehilangan itu berkaitan dengan kematian.

Di balik kehilangan, selalu ada perasaan rindu yang diam-diam menyesakan dada. Hal inilah yang dialami Tala, bocah perempuan yang harus kehilangan ayahnya, Puno. Tanpa ada pesan khusus dari sang ayah, Tala harus rela berpisah dengan Papa Puno.

Tala sangat dekat dengan ayahnya. Tanpa kehadiran ibu, Puno adalah satu-satunya teman hidup Tala. Suatu hari, Puno memberi sebuah perahu kertas kepada Tala. Di atas perahu kertas, Puno menuliskan kalimat indah. Hanya Tala yang tahu apa isinya. Puno tak menyangka, itu adalah pesan terakhir untuk Tala.

Di hari Puno pergi, Tala hanya bisa diam. Di atas langit, Puno hanya bisa memandangi Tala. Perasaan sedih Tala yang mendalam membuat hidupnya seperti tak punya semangat. Namun, secarik perahu kertas yang ditinggalkan Puno mengobati kerinduan Tala.

Pelan-pelan, puluhan perahu kertas turun dari langit. Perahu-perahu itu berisi surat ungkapan kerinduan mereka yang pernah merasakan kehilangan.

Kisah Puno (Letters To The Sky) menyambangi Bandung bersama kelompok teater Puppermoon Puppet. Dalam rangkaian tur, Puno (Letters To The Sky) dipentaskan di Auditorium IFI Jalan Purnawarman Kota Bandung, 30 Agustus-2 September 2018. Dalam satu hari, mereka menggelar dua jadwal pertunjukan. Sebelum di Bandung, mereka telah menggelar pertunjukan di Yogyakarta dan Jakarta.

Selama 50 menit durasi pertunjukan, penonton seperti diajak ke dunia berbeda. Emosi Tala dan Puno yang dimainkan para puppeter (dalang boneka) menjadi titik utama pertunjukan.

Didukung musik yang mumpuni dari penata musik Iwan Effendi, penonton turut merasakan kesedihan Tala saat berpisah dengan Puno. Di tengah keheningan, terdengar isak tangis di antara penonton yang larut dengan kisah Tala dan Puno.

Karya remake



Penulis naskah, sutradara, artistik director sekaligus founder Papermoon Puppet Maria Tri Sulistyani mengungkapkan, Puno (Letters To The Sky) merupakan karya remake dari 2014. Di awal 2018, Ria, sapaan Maria, berpikir untuk menulis karya baru. Jadilah kisah Puno (Letters To The Sky) yang telah berkeliling ke Bangkok, Singapura, dan Manila pada tur Asia Tenggara, Mei-Juni 2018.

"Pada 2014 ketika membuat cerita A Letter To The Sky, saya sudah menulis tentang kehilangan. Namun, kehilangan di situ lebih global. Menurut saya tema ini masih sangat penting untuk kembali dihadirkan, karena kematian kerap menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan, terutama antara orangtua dan anak," tutur Ria di IFI Bandung. 

Pada Puno (Letters To The Sky) Ria menitikberatkan tentang kehilangan antara orangtua dan anak. Dia menyebutkan, hal ini bisa berhubungan dengan siapa saja. Walaupun kematian dianggap sebagai topik yang tak lazim, tapi lewat kemasan seni, kisah tentang kematian bisa disampaikan lebih leluasa.

 

Dengan melibatkan penonton, pertunjukan Puno (Letters To The Sk) terasa lebih hidup. Interaksi antara boneka dan puppeter, yaitu Anton Fajri, Beni Sanjaya, Rangga Dwi Apriadi, serta Pambo Priyojati Ranu Handoko, bersama penonton membuat kisah dimulai dengan cair dan penuh tawa. Ria menyebutkan, kapal-kapal kertas berisi surat yang menutup pertunjukan ditulis mereka yang berinteraksi dengan Pappermoon Puppet di media sosial. Mereka menuliskan pesan kerinduan untuk orang-orang tercinta yang sudah meninggal dunia.

Tak hanya sekadar tampil, kata Ria, pertunjukan Puno (Letters To The Sky) juga menjadi ajang penggalangan dana Pesta Boneka 2018 di Yogyakarta. Pada 12-14 Oktober 2018 nanti, Puppermoon Puppet menggelar Pesta Boneka yang rutin diadakan setiap dua tahun sekali sejak 2008 secara independen.

Tahun ini, Pesta Boneka akan dihadiri seniman dari antara lain Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Australia, Brasil, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

"Tahun ini akan tampil 20 kelompok dari 15 negara. Seniman yang tampil lintas disiplin, tidak hanya teater atau puppeter. Kami memberi tantangan ke setiap seniman, mampu enggak membuat pertunjukan teater boneka," ujar Ria.***

Bagikan: