Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan singkat, 21.1 ° C

Doraemon di Pagerageung Tasikmalaya, Dunia Anak Melintas Batas Waktu dan Ruang

BULAN dan sekelompok anak yang bermain di halaman sambil bernyanyi riang. Di dalam bulan itu ada Nini Anteh sedang menenun, ditemani kucing Candramawat.  Dalam masyarakat Sunda termasuk di Tasikmalaya, sejak dulu begitulah suasana keriangan dunia anak di desa yang digambarkan dalam lagu, bacaan, lukisan, atau di panggung pertunjukan. 

Akan tetapi, lewat gending karesmen ”Si Ujang jeung Doraemon”,  di tangan sastrawan Sunda Wahyu Wibisana, kehadiran semua itu tidak menjadi pengulangan belaka. Ia menyusupkan gagasan yang segar tentang banyak ihwal sebagai pertunjukan anak-anak lewat imajinasi yang mengejutkan. 

Dalam gending karesmen itu, di bawah bulan purnama, sambil menembang gembira, Si Ujang dan teman-temannya satu kampung, tak hanya bertemu dengan kucing Chandramawat, kucing Nini Anteh. Tetapi, mereka juga dengan Doraemon dan Nobita. Kucing ajaib dan sosok utama dalam seri manga dan film animasi anak-anak terkenal ciptaan seniman Jepang Fujiko F Fujio. 

Pertemuan yang unik demi menegaskan kembali betapa dunia anak adalah dunia dongengan, melintas batas waktu dan ruang. Kedua kucing itu berasal dari dua dunia dongeng yang berbeda; dongeng lokal (Sunda) dan dongeng dari industri budaya global. 

Bersama kedua kucing itu, Si Ujang dan teman-temannya bermain di bawah bulan purnama Tasikmalaya. Pada mulanya dikisahkan pertemuan kedua kucing itu menimbulkan pertengkaran. Yang dipersoalkan ialah warna kampung Si Ujang. Doraemon melihat kampung itu berwarna abu-abu, sedangkan Candramawat keukeuh menyebut warna kuning seperti yang dilihatnya. Keduanya bertengkar merasa paling benar.

Si Ujang melerai pertengkaran kedua kucing itu. Ia membenarkan apa yang dilihat Doraemon dan Candramawat, kedua warna itu benar. Warna abu-abu berasal dari asap pabrik, sedang warna kuning adalah kandungan emas yang terkandung dalam tanah. 

Ujang mengatakan begitu karena ingatan pada apa yang pernah diramalkan (uga) karuhunnya, bahwa kelak di kampungnya akan terdapat pabrik dan kandungan emas yang berlimpah. 

Uga tersebut tampaknya bisa ditafsir pada ihwal hubungan kekayaan sumber alam Tasikmalaya serta industrialisasi. Keduanya memang menjadi keniscayaan bersama segenap persoalan yang mengikutinya. Termasuk berbaurnya segenap identitas budaya lokal khususnya Tasikmalaya ke dalam globalitas.   

Untuk kesekian kalinya, sejak ditulis dan dipentaskan pertama kalinya tahun 1999, bertempat Padepokan Bumi Ageung Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, malam itu, Sabtu 4 Agustus 2018, gending karesmen ”Si Ujang jeung Doraemon” kembali dipentaskan.  

Kegiatan di Kabupaten Tasikmalaya diselenggarakan atas kerja sama Padepokan Bumi Ageung dan Badan Pengembangan dan Bahasa Pembinaan Kemendikbud. Pertunjukan tersebut merupakan bagian dari program Gelar Hasil Revitalisasi Sastra Ciawian-Pagerageungan yang Berbasis Komunitas. 

Selain gending karesmen ”Si Ujang jeung Doraemon”, malam itu juga ditampilkan pertunjukan beluk. Pertunjukan yang menyuguhkan pembacaan wawacan alit ”Geber-geber Hihid Aing” karya Tatang Sumarsono dalam tembang pagerageungan. Jika ”Si Ujang jeung Doraemon” dimainkan oleh para murid SDN 2 Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, wawacan ”Geber-geber Hihid Aing” dimainkan sejumlah remaja (lelaki) siswa SMPN 1 Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya.

Revitalisasi



Pertunjukan malam itu memang sengaja menampilkan anak-anak dan para remaja. Tak hanya tampil untuk orangtua, tetangga, dan masyarakat Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya juga ramai menonton. 

Penampilan mereka merupakan upaya membangun strategi revitalisasi atas nasib sebuah bentuk seni tradisi yang terancam punah. Lebih lagi, jantung dan daya hidup seni tradisi berada di tengah masyarakat pendukungnya. Dalam hal ini, tembang pagerageungan dan masyarakat Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, demi memberi kembali daya hidup pada bentuk seni tersebut ke tengah masyarakatnya. 

Revitalisasi juga diartikan sebagai jalan menuju pewarisan. Oleh karena itulah kehadiran sosok Doraemon di Tasikmalaya bukan semata bintang tamu. Melainkan, kehadiran yang hendak membawa pewarisan itu bersentuhan dengan konteks kekinian; mempertemukan yang silam dalam khazanah lokal dengan kekinian sebagai bagian dari jagat global. 

Tubuh Doraemon merepresentasikan ruang kekinian di mana anak-anak sebagai subjek pendukung seni tersebut hidup. Dalam ruang itu anak-anak berdialog dengan segenap identitas, seraya memberi pemaknaan baru pada yang silam. Revitalisasi dan peristiwa pewarisan di situ jadi semacam negosiasi lokalitas dan globalitas. Dalam konteks inilah, revitalisasi seni tradisi menjadi berbeda dengan kata ”pelestarian” yang cenderung bermakna pasif. 

Dalam pengertian pelestarian, suatu bentuk seni tradisi lebih menekan pada penyelamatan yang silam lewat prosedur pengawetan atau pemeliharaan sebagaimana bentuk aslinya.   

Melekatkan tembang pagerageungan ke dalam kisah ”Si Ujang dan Doraemon” tentu bukan mustahil.  Bahkan, itu dilakukan sejak tahun 1999 saat gending karesmen itu diciptakan. Terutama dalam adegan saat anak-anak bermain dan menembang meminta ijin Nini Anteh untuk meminjam kucing Chandaramawat.  

Bentuk seni suara tradisional Sunda  yang nyaris punah tersebut ditembangkan sekaligus didekatkan ke dalam dunia kanak-kanak di zaman sekarang (reaktualisasi). 

Melekatkan tembang pagerageungan ke dalam pertunjukan gending karesmen ”Si Ujang jeung Doraemon”, bukanlah sesuatu yang sulit. Selain kekuatan improvisasinya yang kaya, salah satu watak pertunjukan seni tradisi adalah kemudahannya beradaptasi. Terlebih lagi di tangan dua penata karawitan Iik Setiawan dan Odo Sahida, juga penata tari M Nana Munajat Dahlan.   

Keriangan 



Meski tampil lewat iringan musik dan vokal dengan teknik dubbing, suguhan pertunjukan hadir dalam suasana keriangan khas kanak-kanak. Keriangan yang bukan tempatnya diukur lewat estetika pertunjukan yang sok ketat dan teknis. Terlebih lagi, suguhan malam itu memang lebih diniatkan sebagai gelar hasil revitalisasi yang telah berlangsung selama lebih kurang 3 bulan.

Semangat dan keriangan anak-anak bermain bahkan sudah terlihat selama proses latihan. Ketika Godi Suwarna menutup seluruh lantai pertunjukan di Kabupaten Tasikmalaya malam itu dengan serbuk gergaji, agar menimbulkan efek dramatis, di mata anak-anak hal itu malah jadi alat untuk bermain-main dan bercanda, termasuk yang mengkhayalkan ia berada di pantai. Tapi, apa pun bentuk keriangan mereka bermain dan bercanda, juga gegelutan, mereka tampil tanpa beban. 

Mereka memainkan gending karesmen dan tembang pagerageungan dalam suasana yang riang gembira. Di pelataran pertunjukan yang ditata oleh Godi Suwarna dan Studio Titik Dua, anak-anak itu menemukan tembang pagerageungan dalam ruang yang berbeda dengan kenyataan silam. 

Jika silam tembang wawacan pagerageungan dibawakan oleh para lelaki sepuh yang berjumlah sembilan orang, biasanya dalam bentuk seni beluk, kini anak-anak itu memainkannya bersama Doraemon dan Nobita. 

Suasana keriangan anak-anak  itu menjadi bekal penting demi menyiapkan sebuah generasi yang akan kembali memberi daya hidup kembali pada tembang pagerageungan. Sekurang-kurangnya, kelak tumbuh besar, anak-anak itu akan memiliki apresiasi terhadap seni tradisi tersebut, tidak akan merasa asing.  

Seperti gagasan Wahyu Wibisana mempertemukan Si Ujang dan Doraemon, pertunjukan hasil revitalisasi dan proses pewarisan malam itu, tidak terjebak menjadi pengulangan. 

Apa yang dilakukan oleh Komunitas Padepokan Seni Pager Ageung Kabupaten Tasikmalaya bersama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia, menjanjikan suatu harapan. 

Daya hidup seni dan sastra tutur tradisi Sunda itu masih ada. Soalnya sekarang, bagaimana terus menjaga daya hidup itu dengan melakukan berbagai inovasi. (Ahda Imran)***

Bagikan: