Pikiran Rakyat
USD Jual 14.449,00 Beli 14.351,00 | Umumnya berawan, 25.5 ° C

Mas Hore, Solusi Kesehatan Gigi dan Mulut untuk Anak Tunadaksa

Catur Ratna Wulandari
SISWA tunadaksa menguji pengetahuan mereka tentang kesehatan gigi dengan permainan kartu Masya dan Hore.*
SISWA tunadaksa menguji pengetahuan mereka tentang kesehatan gigi dengan permainan kartu Masya dan Hore.*

BANDUNG, (PR).- Keterbatasan fisik membuat anak tunadaksa kesulitan menjaga kesehatan gigi dan mulut. Mahasiswa Universitas Padjadjaran mencetuskan program Mas Hore, Metode Self and Home Care, sebuah solusi kesehatan gigi dan mulut bagi anak tunadaksa.

Metode ini dicetuskan oleh empat mahasiswi Universitas Padjadjaran, yaitu Nur Fauziana, Faizah Salsabila, Egidya Friezca, dan Ina Herlina. Keempatnya ada di bawah bimbingan Arlette Suzy dari Departemen Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Unpad. 

"Program ini bertujuan mengedukasi dan menanamkan perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan mengikutsertakan orangtua dan guru karena orangtua dan guru merupakan lingkungan paling dekat dengan anak, sehingga dapat membantu anak untuk menjaga kesehatan gigi dan mulutnya," tutur Arlette melalui siaran pers yang diterima Pikiran Rakyat, Kamis, 23 Agustus 2018. Program ini telah dilaksanakan di SLBN Cileunyi selama April-Juli 2018.

Arlette menjelaskan, metode Mas Hore memadukan teori perilaku anak dan observational learning (tell-show-do) berdasarkan petunjuk perilaku yang dirumuskan oleh American Academy of Pediatric Dentistry. Penerapan metode self care diturunkan menjadi 4 kegiatan yaitu tell, show, do dan game.

"Tahap tell (ceritakan) adalah tahap saat anak diberikan penyuluhan melalui media dongeng menggunakan boneka Masya dan Hore yang menceritakan suatu sebab akibat dari suatu makan dan minum terhadap kesehatan gigi dan mulut. Tahap show (tunjukkan) adalah saat anak ditunjukkan cara menggosok gigi dengan menggunakan model gigi, selanjutnya bersama pembimbing  dan pendampingan guru, anak dibantu untuk melaksanakan tahap do (kerjakan), yaitu mempraktikkan materi cara menggosok gigi yang sudah diberikan menggunakan modifikasi sikat gigi jika diperlukan," tutur Arlette. 

Metode ini juga menggunakan permainan yang melibatkan boneka Masya dan Hore. Masya sebagai analogi anak dengan gigi buruk, sementara Hore untuk anak dengan gigi yang sehat. Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan anak tentang makanan yang berdampak baik dan buruk untuk gigi. Permainan ini menggunakan prinsip multisensori dan individualisasi. 

"Multisensori berarti banyak indera, maksudnya permainan anak-anak tunadaksa sedapat mungkin memanfaatkan dan mengembangkan indera-indera yang ada dalam diri anak. Individualisasi artinya kemampuan masing-masing individu lebih dijadikan titik tolak dalam memberikan permainan pada mereka," katanya. 

Modifikasi sikat gigi



Pada praktik menggosok gigi, dilakukan pula modifikasi sikat gigi agar nyaman digenggam anak tunadaksa. Modifikasi ini hanya untuk mereka yang memerlukan saja.

Sikat gigi dibuat dari bahan cetak kedokteran gigi yaitu putty. Modifikasi ini dilakukan dengan cara menaruh bahan putty di gagang sikat. Setelah itu anak mengengam gagang sikat hingga dirasa nyaman sampai bahan putty mengeras dan membentuk cetakan tangan anak. 

Metode Mas Hore ini diperuntukkan bagi orangtua agar dapat memantau dan mendampingi anak untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Terutama saat berada di rumah. Menurut Arlette, keterlibatan orang tua diharapkan mampu membantu membentuk perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut bagi anak tunadaksa.

Orangtua diajak memonitor perubahan perilaku anak di rumah dengan kalender dan stiker sikat gigi  serta  catatan harian yang diisi oleh orangtua selama 30 hari. Dengan begitu perubahan perilaku anak dalam menyikat gigi bisa terpantau.

"Apakah anak sudah berinisiatif atau masih perlu diingatkan untuk menyikat gigi," ujar Arlette.***

Bagikan: