Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 28 ° C

Pesan Mendalam di Balik Pertunjukan Wayang Golek Salah Kostum

Satira Yudatama

GAYA hidup generasi muda masa kini cenderung gemar akan budaya populer, termasuk setelan busana. Generasi muda menganggap diri lebih keren jika mengenakan busana kekinian yang menyerupai karakter fiksi, seperti Spider-Man, Superman, serta tokoh putri. Kecenderungan itu timbul karena berbagai faktor, di antaranya pengaruh film.

Demikian usungan topik cerita dalam pertunjukan wayang golek lakon "Kiwari Jeung Baheula" persembahan Elyes Julystiawanti di Sanggar Olah Seni Bandung, Jalan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa, 7 Agustus 2018. Elyes merupakan salah seorang mahasiswa program studi Seni Rupa Fakultas Industri Kreatif Telkom University, mengadakan pertunjukan guna memenuhi tugas akhir. ‎

Elyes dengan bantuan Galih Mandala mempersembahkan pertunjukan wayang golek di luar patron, sesekali menyisipkan interaksi dengan penonton. Kemasan pertunjukan begitu sederhana, sebatas memuat backdrop hitam polos, satu lampu dari arah depan, juga tanpa iringan musik nayaga. Gunungan yang biasanya terjumpa pada pertunjukan wayang golek pun tak tampak.

Terlepas dari hal itu, sorot lampu yang mengenai karakter wayang mencetak bayangan tegas pada backdrop, menghadirkan cita rasa wayang kulit. Efek bayangan seakan memberi pilihan bagi penonton, menyaksikan pergerakan fisik wayang, atau melalui citra bayangan.

Elyes cuma memunculkan beberapa tokoh wayang golek, seperti Semar, Cepot, Dawala, Sinta, Nakula. Hampir seluruh karakter memakai kostum karakter fiksi, menyesuaikan usungan cerita. Cepot yang tetap mengenakan setelan tradisional (iket, pangsi, sarung) keheranan melihat dandanan Dawala (kostum Spider-Man), Sinta (kostum tokoh putri, Nakula (kostum Superman).

Dalam cerita, tokoh Cepot merepresentasikan generasi muda yang memegang teguh akar tradisi di tengah terpaan gelombang arus zaman. Cepot bangga akan identitas daerahnya, tak menghiraukan olok-olok Dawala dan kawan-kawan. Pendirian cepot begitu kukuh, bahkan mengajak kepada Dawala dan kawan-kawan agar lebih memperhatikan kelestarian tradisi lokal.

Terbata



Elyes merupakan warga Bekasi, menyampaikan alur cerita dengan bahasa Sunda seadanya, bahkan sempat kurang pas saat mengucapkan kata tertentu. Suara setiap karakter relatif sama, pergerakan wayang juga terkesan masih kaku. Kendati terkendala berbagai keterbatasan, Elyes menunjukkan wujud nyata dalam rangka ikut melestarikan seni tradisi Sunda.

Ketika melakukan persiapan untuk pertunjukan, Elyes belajar singkat teknik memainkan wayang golek kepada pedalang Batara Sena, salah seorang anak dari mendiang Asep Sunandar Sunarya. "Memainkan wayang sangat sulit, sangat jauh dari dugaan," kata dia seusai pertunjukan.

Keresahan Elyes akan kecenderungan generasi muda yang terbuai budaya populer menjadi sumber motivasinya memilih pertunjukan wayang golek sebagai karya tugas akhir. "Refleksi dari pengalaman pribadi, tak tertarik menonton pertunjukan wayang golek. Saya baru mengenal sebagian nama, dan watak karakter (wayang golek) saat proses belajar," ucap Elyes.

Melalui perkenalan singkat, Elyes mulai menemukan sisi menarik atas wayang golek yang menimbulkan kesenangan. Meski belum berani menjamin akan meneruskan aktivitas mendalang, Elyes berkomitmen untuk mengenal lebih jauh berbagai hal tetang wayang golek.***

Bagikan: