Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Sebagian berawan, 20.4 ° C

Konser Tirta Jakarta City Philharmonic, Kisah Tentang Air yang Apik

Windy Eka Pramudya

MENAMPILKAN karya empat komposer, konser Tirta yang digelar Jakarta City Philharmonic (JCP) berlangsung apik. Selama hampir 120 menit, empat nomor klasik yang berkisah tentang air dan kehidupan membuai telinga ratusan penonton di bawah pimpinan pengaba Budi Utomo Prabowo. Dihelat di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini Jakarta, Rabu 16 Mei 2018, konser Tirta menjadi konser kedua JCP di tahun ini yang bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta dan Badan Ekonomi Kreatif.

Dalam bahasa Sansekerta, tirta berarti air suci. Musikolog JCP Aditya Pradana Setiadi pada pengenalan konser mengungkapkan, konser kali ini berusaha untuk mengartikan air kehidupan sebagai keberlanjutan ekosistem makhluk hidup di lingkungan alamnya. Air dianggap anugerah sekaligus bencana. Air juga menjadi oasis di tengah kekeringan, tapi di sisi lain air bisa banjir besar yang dapat memusnahkan makhluk hidup. 

Menurut Adit, upaya manusia memaknai air sangat beragam. Hal ini berkaitan erat dengan kebudayaan dan kebiasaan. Manusia beruasaha menjawab tantangan alam, isu lingkungan hidup, serta bagaimana ekosistem kehidupan mencapai titik ekuilibriumnya.

"Kendati sedang ada tragedi kemanusiaan, kami harap Anda dapat menikmati konser malam ini. Program yang kami susun berkisah tentang air, karena air adalah sumber kehidupan dan inspirasi," ujar Adit.

Sebelum konser dimulai, Adit menjelaskan tentang empat repertoar yang menjadi suguhan JCP. Walaupun semua bercerita tentang air, tapi setiap komposisi memiliki khas dan berjaya di eranya. Tak lupa, kehadiran solois trompet, Eric Awuy memberikan warna tersendiri pada aksi JCP.

Sebagai starter, cerita tentang Sungai Moldau menjadi menu JCP. Komposisi gubahan Bedrich Smetana ini terdiri atas enam puisi simfonik, Tanah Airku (My Homeland). Adit mengungkapkan, komposer asal Republik Ceska itu hidup di era romantik yaitu pada 1820-1900. Di era itu, musik yang digubah menggambarkan sesuatu di luar musik, misalnya keindahan alam dan perasaan manusia. 

"Buat kita saat ini, gaya menggubah lagu seperti itu bukanlah sesuatu yang aneh. Akan tetapi di era romantik merupakan hal baru dan terobosan, karena di era sebelumnya yaitu klasik, musik digubah untuk musik. Misalnya lagu-lagu karya Beethoven atau Mozart yang berbentuk soneta atau simfoni," ungkap Adit. 

Ajak penonton nikmati gemericik air



Kejayaan era romantik bisa disimak pada Sungai Moldau yang berkisah tentang keindahan sungai di Ceska tersebut. Dari tempo yang sedang, penonton bisa merasakan gemericik mata air yang bertemu di satu titik untuk sama-sama mengalir pelan ke sungai besar.

Dari Sungai Moldau, penonton diajak untuk menyimak karya Alexander Arutiunian yang berjudul Konserto untuk Trompet dan Orkestra. Di nomor ini, JCP berkolaborasi dengan Eric Awuy. Permainan Eric yang atraktif bersama konduktor Budi Utomo Prabowo membuat gedung konser terasa meriah.

Eric menyebutkan, yang membuat lagu ini spesial adalah Arutiunian menggambarkan tarian rakyat yang dinamis lewat suara trompet dan orkestra. Menurut Eric, pada sejarah musik klasik, konserto trompet memang tidak banyak. Jadi saat komposer asal Armenia itu merilis komposisi ini pada 1950, lagu ini menjadi suguhan wajib solois trompet di seluruh dunia.

Selain menampilkan karya komposer mancanegara, JCP juga menyajikan karya komposer Indonesia. Kali ini komposisi karya Mochtar Embut yang berjudul Anak Perahu menjadi pilihan yang pas untuk tema Tirta.

Mulanya, lagu Anak Perahu hanya ditujukan untuk piano. Namun pada perjalannya, komposisi ini dikemas dalam bentuk orkestrasi.

Lagu Anak Perahu bercerita tentang kapal-kapalan kertas saat Jakarta banjir. Uniknya, musik yang didengar jauh dari suasana banjir yang cenderung karut-marut. Komposisi Anak Perahu Justru sangat tenang dan bersifat meditatif. 

Persembahan terakhir JCP untuk Tirta adalah karya milik Claude Debussy yang berjudul Lautan. Selain selaras dengan tema, karya ini disuguhkan untuk memperingati 100 tahun kepergian komposer asal Prancis tersebut. Terdiri atas tiga episode lagu, penonton diajak terombang-ambil dengan Fajar Menuju Tengah Hari di Laut, Permainan Ombak, dan Dialog Angin dan Laut. 

"Pada akhir abad 19, Debussy mendobrak musik klasik. Dia menggambarkan banyak tekstur di warna musiknya. Sangat eksperimental. Kalau Debussy hidup di zaman sekarang, mungkin dia akan pakai synthesizer yang heboh," ujar Eric.

Konser Tirta ditutup dengan megah lewat komposisi Lautan. Pada bagian Dialog Angin dan Laut, penonton seperti diajak berada di tepi pantai untuk mendengarkan semilir angin dan suara ombak yang berkejaran.***

Bagikan: