Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 24.6 ° C

Konser Cascade Trio On Tour 2018 di Bandung Larutkan Penonton dalam Imaji

Windy Eka Pramudya

TAMPIL selama hampir 90 menit, konser Cascade Trio On Tour 2018 mengemas repertoar dengan empat komposisi klasik. Berlangsung di Auditorium IFI Jalan Purnawarman Kota Bandung, Kamis 15 Maret 2018, Cascade menampilkan kolaborasi piano, cello, dan biola.

Terbentuk sejak September 2013, Cascade Trio dihuni Airin Efferin (piano), Ade Sinata (cello), dan Lidya Evania Lukita (biola). Mereka baru menyelesaikan tur Thailand di Bangkok dan Chiangmai pada Februari 2018 lalu. Konser Cascade Trio On Tour 2018 menyambangi Kota Bandung untuk menemui sekitar 100 penonton.

Sebagai pembuka, komposisi karya Arvo Part, Spiegel im Spiegel mengisi pentas. Pada lagu ini, formasi Cascade Trio belum lengkap karena lagu disajikan hanya dengan piano dan cello.

"Di lagu ini, kami ingin mengajak penonton berimajinasi sedang berada di ruangan yang dikelilingi cermin. Jadi di atas, bawah, depan, belakang, samping kanan, dan kiri hanya cermin. Kita bisa melihat diri kita yang makin lama makin kecil," ungkap Airin.

Dalam bahasa Indonesia, Spiegel im Spiegel memang berarti cermin di dalam cermin. Untuk itulah, Airin mengajak imajinasi penonton agar memahami makna lagu yang disuguhkan.

Nomor Tzigane karya Maurice Ravel membawa penonton untuk membayangkan kaum gipsi. Lagu ini menunjukan kemampuan individu para musisi sehingga ada beberapa bagian yang menampilkan aksi solo musisi.

Di lagu ini, Airin dan pianonya ditemani Lidya Evania Lukito yang bermain biola. Permainan instrumen biola secara solo mengawali Tzigane. Setelah itu, tempo bergerak dinamis lewat denting piano.

Kolaborasi dengan komposer Budi Ngurah



Tak hanya karya dari komposer mancanegara, pada konser Cascade Trio on Tour 2018, disajikan pula karya Budi Ngurah. Komposer asal Bali itu menggubah komposisi Pentatonic Fragments.

"Lagu ini menggabungkan nada pentatonik dan diatonik. Ditulis khusus pada 2016, lagu ini ditampilkan pada tur kami di Amerika Serikat dan Thailand. Malam ini, pertama kali ditampilkan di Indonesia secara utuh," ungkap Airin.

Menurut Airin, Pentatonic Fragment mengajak penonton untuk membuat kisah dan menginterpretasi sendiri makna lagunya. Di lagu ini, sesekali instrumen biola dan cello dimainkan dengan cara dipetik bukan digesek. Hal ini menimbulkan efek suara yang berbeda.

Nomor bertema gipsi kembali hadir lewat Piano Trio No. 4 in E Minor, Op 90, Dumky. Komposisi karya Antonin Dvorak ini terdiri atas enam bagian lagu yang mengisahkan tentang kaum gipsi di Eropa Timur. Tempo yang dinamis pada setiap bagian lagu menggambarkan berbagai emosi yang ditampilkan, misalnya kemarahan, kesedihan, kebahagiaan, dan keheningan saat melantunkan doa.

"Kaum gipsi di Eropa Timur pada masa lampau menjadi golongan terendah. Mereka tinggal di karavan dan harus berpindah-pindah karena tak memiliki hak tempat tinggal. Kendati menggambarkan kemarahan kaum gipsi, tapi lagu ini juga menggambarkan secercah harapan," ujar Airin.***

Bagikan: