Pikiran Rakyat
USD Jual 14.616,00 Beli 14.316,00 | Badai petir, 26.4 ° C

Melawat ke Negeri Tetangga Tanpa Paspor

JAYAPURA berbatasan langsung de­ngan Papua Nugini. Jadi, sayang sekali kalau kita sudah sampai Jayapura tetapi tidak me­ngunjungi negeri tetangga tersebut. Ya walaupun bentang alam dan penduduknya sama-sama saja dengan di Papua sih, hehe.

Dari pusat kota kita cukup berkendara kurang lebih satu sete­ngah jam ke ­Kampung Skouw, Distrik Muara Tami. Pastikan kondisi kendaraan prima dan bensin terisi penuh karena sangat sulit menemukan pom bensin apalagi tukang tambal ban di sepanjang perjalanan ke­ ­perbatasan. 

Nah, di Kampung Skouw inilah terdapat Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Indonesia-Papua Nugini yang kini sudah sangat bisa disebut gedung imigrasi. Kenapa saya berkata demikian? Karena tadinya perbatasan Indonesia-Papua Nugini ini hanya berupa pos penjagaan Tentara Nasional Indonesia (TNI) seadanya. 

Pada 2015, dimulailah pembangunan PLBN yang megah dan rampung pada Mei 2017. Sontak area perbatasan ini menjadi lokasi wisata favorit baik bagi warga Jayapura, luar Jayapura, maupun warga Papua Nugini. Apalagi dari lima kota dan kabupaten di Papua yang berbatasan dengan Papua Nugini baru Kampung ­Skouw inilah yang memiliki PLBN yang sangat layak sehingga banyak objek yang dapat dijadikan latar berfoto.

Sampai jam empat sore



Untuk bisa masuk ke daerah Papua Nugini kita tidak memerlukan paspor. ­Tentu area yang diperbolehkan sangat terbatas. Akan tetapi, setidaknya kita sudah bisa merasakan sensasi berdiri di atas dua negara dalam satu waktu, hehe.

Nah, jika ingin sedikit lebih masuk lagi kita bisa membayar Rp 10.000 pada mama­-mama warga Papua Nugini yang ada di sana untuk mengizinkan kita masuk dan berfoto-foto di daerahnya. Dari atas kita akan mendapatkan pemandangan pantai dan perkam­pung­an Papua Nugini. Tapi jika belum puas dan masih ingin ­masuk lebih jauh, sejumlah dokumen resmi tentu harus disiapkan sebelumnya.

Jika lapar, mama-mama di sini juga ­menjual aneka makanan seperi sosis, da­ging, jagung, dan pisang bakar. Tapi bagi Muslim sebaiknya berhati-hati atau lebih baik membawa makanan sendiri karena mereka juga menjual daging babi.

Terakhir, sebagai bukti kita telah menginjakkan kaki di Papua Nugini, kita bisa membeli aneka suvenir seperti topi, kaus, dan mug. Semua bisa didapatkan dengan mata uang rupiah. Untuk berkomunikasi dengan penjual pun tidak sulit karena mereka bisa menggunakan bahasa Indo­nesia dengan cukup baik.

Pukul empat sore, gerbang perbatasan Indonesia-Papua Nugini akan ditutup. Pastikan Anda sudah kembali ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat itu. Jangan sampai Anda ­ditangkap tentara Papua Nugini atau ­terpaksa tidur di area netral, hahaha. (Gita Ayu Pratiwi, traveller)***

Bagikan: