Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Cerah berawan, 31.2 ° C

Mengantuk Berlebihan di Siang Hari Dapat Meningkatkan Risiko Alzheimer

SEJUMLAH mahasiswi tertidur usai melaksanakan salat zuhur di beranda masjid Salman ITB, Jalan Ganecha, Kota Bandung, Rabu 24 Juni 2015. Untuk menjaga kebugaran dalam menjalani kegiatan puasa di Bulan Ramadan, tubuh harus cukup istirahat.*
SEJUMLAH mahasiswi tertidur usai melaksanakan salat zuhur di beranda masjid Salman ITB, Jalan Ganecha, Kota Bandung, Rabu 24 Juni 2015. Untuk menjaga kebugaran dalam menjalani kegiatan puasa di Bulan Ramadan, tubuh harus cukup istirahat.*

ALZHEIMER merupakan kondisi yang ditandai dengan menurunnya daya ingat yang bersifat kognitif. Alzheimer biasanya diawali dengan kebingungan dan perubahan perilaku. Di beberapa penelitian terbaru, para peneliti sudah memerhatikan tanda-tanda awal dari penyakit Alzheimer dan demensia lainnya sebelum muncul gejala lainnya, seperti hilang ingatan.

Para peneliti telah mengindentifikasi terkait risiko Alzheimer selama beberapa bulan terakhir, termasuk dapat menghilangkan indera penciuman dan pendengaran terganggu.

Dilansir dari Medical NewsToday, hal ini membuat para ahli menanyakan apakah ada cara lain untuk meneliti mengenai tanda awal penyakit ini. Sebuah penelitian baru yang dipimpin oleh Prashanthi Vemuri – dari Department of Radiology di Mayo Clinic di Rochester, Minnesota – menunjukkan bahwa para lansia yang mengalami rasa kantuk pada siang hari berkemungkinan terkena penyakit Alzheimer.

Hasil penelitian ini diterbitkan di jurnal JAMA Neurology.

Apa risiko dari rasa kantuk yang berlebihan?



Para peneliti terdorong untuk melihat hubungan antara rasa kantuk yang berlebihan di siang hari – yang dijelaskan untuk penelitian sebagai “kesulitan dalam menjaga kondisi agar tetap terjaga” – dan penyakit neurodegeneratif karena memiliki beberapa kaitan yang ditemukan oleh penelitian sebelumnya.

Mereka menunjukkan bahwa rasa kantuk di siang hari merupakan gejala penuaan yang umum dan mengalami rasa kantuk yang berlebihan telah dikaitkan dengan hal yang negatif dalam kesehatan.

Dalam beberapa penelitian juga telah menunjukkan bahwa rasa kantuk berlebihan di siang hari pada orang dewasa dikaitkan dengan peningkatan risiko kognitif yang menurun. Yang membuat tim peneliti tertarik untuk mempelajari dasar mekanisme adalah yang mungkin dapat menjelaskan hubungan antara neurodegenerasi dan rasa kantuk berlebihan.

Para peneliti beranggapan bahwa jawaban untuk hal tersebut mungkin terletak pada produksi beta amiloid, yang merupakan senyawa yang jumlahnya berlebihan dalam penyakit Alzheimer.

“Dalam penelitian ini, kami beranggapan bahwa rasa kantuk berlebihan di siang hari pada sejumlah lansia mungkin terkait dengan peningkatan kerentanan terhadap jumlah beta amiloid."

Pada penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa tidur yang cukup dapat membantu membersihkan beta amiloid dari jaringan otak. Kemungkinan hal ini berarti bahwa tidur yang tidak teratur adalah penyebab kelelahan di siang hari – mungkin juga memiliki efek sebaliknya, sehingga memungkinkan senyawa berbahaya ini terbentuk.

Jumlah senyawa yang berbahaya



Para peneliti menganalisis data dari 283 peserta yang berusia 70 atau lebih, yang diikutsertakan melalui Mayo Clinic Study of Aging. Tidak satupun dari peserta tersebut yang memiliki diagnosis demensia. Saat diikutsertakan, semua orang telah menyelesaikan survei untuk melaporkan tingkat dari rasa kantuk mereka di siang hari.

Peserta juga sepakat untuk menjalani setidaknya dua kali untuk pemnidaian otak antara tahun 2009 dan 2016.

Para peneliti menemukan bahwa 63 peserta memenuhi syarat sebagai orang yang mengalami rasa kantuk berlebihan di siang hari. Rasa kantuk yang tidak normal pada orang-orang tersebut juga dikaitkan dengan peningkatan kadar beta amiloid di dua bagian otak.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa rasa kantuk berlebihan di siang hari pada lansia tanpa adanya demensia mungkin berkaitan dengan jumlah beta amiloid, terutama gyrus dan precuneus,” ujar mereka

Mereka melanjutkan, “Penemuan ini mendukung penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa rasa kantuk belebihan di siang hari adalah faktor risiko penurunan kognitif atau demensia.”

Namun mereka mengakui bahwa penelitian tersebut memiliki beberapa keterbatasan, termasuk fakta bahwa ia kekurangan “ukuran objektif dari gangguan tidur,” dan hal tersebut tidak dapat memberikan penilaian yang tepat mengenai berapa banyak tidur yang didapat perserta per malamnya.

Penulis penelitian tersebut juga melaporkan kemungkinan konflik kepentingan, beberapa diantara mereka memiliki ikatan profesional dengan perusahaan farmasi dan mendapat dukungan finansial dari yayasan swasta atau perusahaan penelitian medis. (Ines Anggun)***

Bagikan: